MYTHOMANIA

Silvy Khofifah Fauziyah
Chapter #1

Nayla Maheswari Gunawan

Jumat, pukul 6.47 pagi.

Aku berlari kecil menyusul Papa yang sudah menunggu di mobil untuk mengantarku ke sekolah sebelum ke kantor. Sudah beberapa hari aku bangun kesiangan karena tugas yang menumpuk. Dan ini sudah ketiga kalinya aku begadang mengerjakan tugas akhir sekolahku. orang tuaku yang juga ikut kesal karena berulang kali membangunkanku tapi tak kunjung bangun. Mereka bergegas menyiapkan segala perbekalan makanan.

"Nay, kalo gak sempet sarapan jangan lupa bekalnya dibawa." teriak Mamaku saat aku keluar.

"Siap ma!" Aku berlarian keluar rumah mengejar Papa yang sepertinya sudah berapa kali menarik nafas kesal karena keterlambatanku.

"Maaf Pa, hehe janji deh ga akan diulangi lagi." Aku mengacungkan kelingking untuk membujuk. Papa memang sangat tidak suka pada orang yang tidak bisa tepat waktu. Tapi karena aku ini anaknya, jadi bisa ditoleransi.

"Ayo, keburu terlambat." Papa masuk ke mobilnya lalu menyalakan mesin. Aku ikut masuk di samping kemudi. Mobil melaju kencang ke jalan besar. Pagi itu, mendung masih memenuhi langit. Bulan-bulan ini memang sedang musim penghujan. Kata orang tua dulu, setiap memasuki bulan yang berakhiran ber (September-Desember), pasti musim akan berganti dari kemarau menjadi hujan. Dan entah kenapa, itu benar.

Sekencang apapun mobil melaju, aku memang tetap terlambat. Nasib, aku terlambat karena ulahku sendiri. Untung saja hukuman yang diberikan bu Tuti selaku wali kelasku, tidak berat. Hanya membersihkan kamar mandi selepas pulang sekolah nanti. Aku tidak kesal mendapat hukuman itu, karena itu memang pantas. Tapi yang membuatku jadi kesal karena teman sekaligus sahabatku itu malah mengejek, bukan menenangkan.

“Kayaknya lo harus nginep di sekolah deh Nay. Kasihan pak Dendi kalo tiap hari harus cemberut di depan mobilnya karena nungguin lo dandan menor.” Ingin sekali ku timpuk kepalanya dengan buku sejarah yang kusam dan tebal itu. Tapi batal, omongan gadis sepantaranku bernama Tiara Adhisty, yang tampilannya sangat modis dan khas Bandung itu, ada benarnya juga, tidak sepenuhnya salah. Papa pasti sedikitnya memang kesal karena aku beberapa kali terlambat.

Jam pelajaran pertama dan kedua terasa cepat berlalu. Para guru kebanyakan memberikan tugas mandiri karena harus menghadiri rapat internal di ruangannya. Aku dan teman sekelas pun mulai fokus pada masing-masing LKS, belajar individual hingga waktu yang dinantikan ratusan siswa pun akhirnya tiba, jam istirahat. Para siswa segera bergegas keluar kelas berlomba berebut kursi untuk menikmati makanan berat dan ringan di kantin.

Aku dan Tiara termasuk salah satu siswa yang rebutan itu. Kami akhirnya dapat kursi di dekat pedagang somay. Tanpa menunggu lama, Tiara segera memesan dua porsi somay untuk kami.

“Mang, somay dua. Pedes semua.” Pinta Tiara.

“Siap neng.” Mang somay mengacungkan jempol tanda siap, dan langsung menyiapkan pesanan. Aku tak lupa membawa bekal dari Mama yang tadi pagi sudah disiapkan untuk sekalian dimakan. Maklum, tahun terakhir di sekolah sering membuat mood makanku selalu naik.

“Kita jadi satu kampus kan, Nay?” Setelah memesan makanan, Tiara kembali duduk di seberangku memulai obrolan.

“Ya terserah, kita tuh udah gede kali. Ga harus selalu bareng kan?” Aku sengaja mengolok, membalas ejekannya yang tadi pagi dia lontarkan.

Tiara memonyongkan bibirnya, cemberut. “Jahat banget sih jadi orang. Pokonya kalo gue punya temen baru. Lo bakal gue lupain.” Ancam Tiara yang membuatku tertawa. Kami tau kalo itu hanya lelucon yang sering dilontarkan antar sahabat dan tidak ada yang merasa tersakiti satu sama lain.

“Iya, kita bakal satu kampus aja meski beda jurusan.” Aku mencoba serius dengan jawabanku. Tiara menjadi senang lalu mengangguk. Dia pun pergi untuk memesan minuman, dan somay kami pun datang.

 “Mangga neng, nanti piringnya balikin lagi ya neng, sayang nanti mang Asep sering kehilangan piring sama anak-anak kalo udah pada pesen tuh.” Keluh mang Asep, pedagang somay. Kasihan mang Asep. Aku pun tersenyum mengangguk sebagai jawaban.

Kami tak banyak bicara setelah pesanan datang. Hanya fokus pada makanan masing-masing. Sampai kekesalan kesekian kali datang lagi menghampiriku. Teman baikku satu lagi yang pemalas tapi tetap pintar, datang ke meja kami.

“Hei, kebiasaan kalo gak ngajak tuh ya.” Sandi Putra Mahendra, sahabat kami juga yang menghampiri kami dan duduk di kursi sebelahku, mengambil bekal makan dari Mamaku, memakannya.

“Gak sopan heh!” Aku berseru ketus. Untuk kesekian kali, Sandi sangat menyebalkan, dia memang anak yang sangat berbeda dengan kami seratus delapan puluh derajat. Kenapa? Kami berdua sangat disiplin. Sedangkan dia amat pemalas. Rambut berantakan entah kapan terakhir kali disisir. Juga selalu mengantuk saat pelajaran, dan sangat melek saat jam istirahat. Tapi anehnya, dia tetap pintar dan kritis. Memang benar, don’t judge by the cover itu nyata.

Lihat selengkapnya