MYTHOMANIA

Silvy Khofifah Fauziyah
Chapter #2

Reinan Aditya

Minggu, pukul 14.43.

           Sore itu, rumahku kedatangan tamu yang sudah lama sekali tidak berkunjung, teman Papa. Sebenarnya bukan teman, lebih tepatnya sahabat. karena dulu kami sempat bertetangga sebelum akhirnya aku pindah rumah.

           "Bagaimana kabarmu, Yo?" Papa menyalami pak Aryo sambil menepuk bahu teman sekaligus sahabatnya itu.

           "Selalu baik, Den. Reinan juga saya rawat dengan baik sampai kuliah sekarang." Pak Aryo balas menyalami Papa. Pak Aryo mempunyai anak tunggal bernama Reinan Aditya. dia dua taun lebih tua diatasku. orang tuanya bercerai sebelum aku pindah, dan kak Reinan memilih tinggal bersama ayahnya.

           Mereka berkumpul bersama di ruang tamu. Mama sangat gesit membawakan minuman dan cemilan. Meskipun Mama sedang hamil, tenaganya masih sangat bugar untuk tetap beraktivitas seperti biasanya. Papa pun memanggilku untuk ikut bergabung di ruang tamu.

           "Ini Nayla yang dulu sering menangis itu, Den?” Pak Aryo melihatku dan aku menyambutnya dengan salam. Kami dulu memang dekat sekali, karena aku tidak memiliki teman yang ‘sepantaran’ dengan kak Rei saat itu. Pak Aryo juga dulu sangat baik padaku. Ketika Papa dan Mama masih sama-sama kerja, aku sering dititip pada keluarga pak Aryo. Sampai Mama pulang dan menjemputku. Aku tidak pernah kelaparan saat itu, pak Aryo dan bu Lida merawatku dengan sangat baik, dan aku tidak pernah melupakan kebaikannya.

           “Wah, betul sekali, Yo. Mereka dulu sering main bareng. Semenjak kami pindah rumah, Nayla banyak diem di rumah malah. Gak mau main sama siapa-siapa. Masuk SMP baru punya temen laginya sampe sekarang. Kalo orang zaman sekarang kayaknya bilangnya best friend.” Jelas Papa, dan semuanya tertawa. Aku hanya tersenyum canggung karena baru pertama kali lagi kami bertemu.

“Oh iya kalian kalo mau terpisah ngobrol silakan saja ya." Papa mempersilakan kami untuk membuat ruang sendiri agar nyaman mengobrol. Kami saling tatap sebentar, aduh kenapa Papa malah menyuruh kami berduaan. Ini kan sangat membuatku canggung. Bukan, bukan karena mereka orang asing, tapi karena aku baru bertemu lagi hari ini setelah belasan tahun tidak bertemu. Baiklah, pada akhirnya aku mengangguk. Mungkin Papa ingin kami lebih dekat lagi atau ntahlah. Kami pun berdiri dan pergi meninggalkan ruang tamu.

           Aku mempersilakan kak Rei pindah ke teras di halaman belakang. Disana ada kursi dan meja kecil yang biasa aku gunakan saat santai membaca novel kesukaan atau sekedar menikmati suasana hari. Tempat itu sangat cozy untuk sekedar bersantai. Cuaca sore itu juga sedang mendung, seolah mendukung suasana untuk kami mengobrol santai.

           "Kita kayaknya lama banget gak ketemu ya, Nay" kak Rei memulai obrolan sambil menyeruput teh yang aku buatkan sebelumnya.

           “Bukan kayaknya lagi deh kak, tapi emang. Kita terakhir ketemu aja SD kelas empat akunya. Kak Rei masih di rumah itu? Gak pindah-pindah?” Tanyaku berbasa-basi. Sebenernya aku tidak tahu apa yang mau dibicarakan. Tapi mungkin ini akan jadi topik yang mengalir seiring berjalannya waktu.

Lihat selengkapnya