Nadi dan Vena: Apakah Sebuah Rahasia Akan Menjadi Penghalang Bersatunya Dua Hati?"

ZRCantik
Chapter #3

Penantian Dan Harapan


Matahari sore merambat perlahan, menyisakan bias keemasan di balik jendela kamar Farhana. Udara lembap khas Balikpapan terasa hangat, membelai lembut kulitnya. Di hadapan cermin besar, Farhana memandangi pantulan dirinya, mengusap lembut perutnya yang sudah membesar. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum seorang ibu yang sedang menanti anugerah terindah.

"Semoga kamu baik-baik saja di sana, Nak," ujarnya pelan, suaranya sarat akan kasih sayang. Tiga bulan lagi, dua buah hatinya akan lahir. Nama-nama indah sudah ia siapkan, terukir manis di benaknya: Nadi dan Vena. Panggilan yang sudah lama ia impikan, akan segera menjadi kenyataan.

"Kalian sehat-sehat ya, anak di dalam perut Ibu. Ibu sudah tidak sabar menanti kehadiran kalian. Semoga kalian sehat-sehat saja." Farhana mengulangi kalimat itu, seolah berbicara langsung dengan calon buah hatinya. "Alhamdulillah," desahnya lagi, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. "Setelah penantian lima tahun dalam pernikahan kami, akhirnya kalian datang. Setelah Ibu harus melewati kehilangan kakak kalian berdua, dan setelah..." Suaranya tercekat, mengenang masa lalu yang pahit.

"Ibu harap kalian di dalam perut Ibu baik-baik saja. Ibu dan Ayah akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kalian."

Farhana terlalu asyik berbicara sendiri dengan perutnya yang membuncit, sampai tak menyadari ada seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu, mendengarkan setiap kalimat yang terucap. Sebuah suara lembut memecah keheningan sore itu. "Amin."

Farhana terkesiap, menoleh ke arah suara tersebut. Senyum simpul merekah di wajahnya saat melihat sosok di balik pintu. Itu adalah ibu mertuanya, Ibu Martha.

"Kalian jaga ya anak kalian baik-baik, dan semoga tidak terjadi apa-apa dengan bayi kalian berdua. Amin," ucap Ibu Martha, melangkah mendekat. "Farhana, kamu sudah makan, Han?"

"Sudah, Bu. Farhana sudah makan tadi," jawab Farhana, merasa sedikit sungkan.

"Loh, Ibu sudah sehat ya? Kok Ibu bangun?" tanya Farhana, khawatir.

Ibu Martha tertawa ringan. "Memangnya Ibu harus di kamar terus, Nak? Kan tidak juga. Dan ini alhamdulillah, Ibu sudah baikan kok." Matanya kemudian beralih ke jam dinding di kamar. "Oh iya, suamimu sudah pulang?"

Farhana melirik jam dinding, menunjukkan pukul lima sore. "Sepertinya sebentar lagi, Bu," jawabnya.

Ibu mertua mengusap lembut perut menantunya. "Cucu Eyang di dalam perut Ibu, siapa tadi namanya, Nak? Tadi Ibu dengar kamu menyebut sebuah nama, dan sepertinya namanya bagus sekali."

"Nadi dan Fena, Bu," jawab Farhana, senyumnya mengembang.

"Nadi dan Vena, cucunya Eyang, kamu sehat-sehat ya, Ndu, di dalam ibumu. Kami sudah sangat lama sekali menantimu," ujar Ibu Martha dengan tatapan penuh sayang, seolah sedang berbicara langsung dengan cucunya, padahal sang cucu masih dalam kandungan menantunya.

"Oh iya, Ndu, yang Ibu dengar katanya istrinya Richard, sahabatnya Ferdi, suamimu itu, juga sedang mengandung? Katanya juga anak kembar?" Ibu Martha menatap Farhana penuh minat.

"Iya, Bu," jawab Farhana membenarkan.

"Wah, seru itu nanti kalau misalnya lahir! Pasti akan seru sekali melihat kegemasan anak-anak kembar itu," seru Ibu Martha, matanya berbinar.

"Iya, Bu," timpal Farhana.

Lihat selengkapnya