Sementara itu, di kantor tempat Ferdi bekerja, suasana malam mulai menyelimuti. Lampu-lampu gedung di kejauhan berkelip, menembus kaca jendela ruang kerja Richard. Richard yang sedang bingung, merasa sepertinya Ferdi tidak bisa membantunya, tiba-tiba terperanjat mendengar suara deringan telepon yang nyaring. Layar ponselnya menampilkan nama: Lydia.
"Waduh, Lydia memanggil lagi! Aku harus ngomong apa ini?" gumam Richard panik. Kring... kring... kring... Ponsel terus berdering. Richard belum mau mengangkatnya. Kring... kring... kring... Setelah deringan ketiga kalinya, barulah Richard memberanikan diri.
"Hai, Mas Richard! Kenapa kamu lama sekali mengangkatnya? Bagaimana dengan rencana kita? Apa Ferdi mau menerima tawaran kita? Tadi Papa Sultan sudah mengancamku, jika anak kita perempuan lagi, maka aku harus siap kehilanganmu. Bagaimana ini?" Suara Lydia terdengar tegang dan penuh desakan.
Richard terdiam sejenak. "Nah itu, sayang. Tadi aku sudah berusaha untuk membujuk Ferdi. Tapi sepertinya masih ada keraguan. Dan semoga saja dia mau menerima tawaran kita. Tadi aku sudah membujuknya. Aku kira tadi dia mau menerima tawaran kita. Tapi sepertinya ada keraguan dalam dirinya." Richard mencoba menenangkan.
"Tolonglah, Mas! Aku mohon padamu! Ini demi masa depan rumah tangga kita. Jika anak kita perempuan lagi, itu artinya aku harus siap kehilanganmu. Dan kamu pun harus siap kehilanganku karena aku tidak mungkin mau dimadu. Aku lebih rela kehilanganmu daripada aku harus hidup dengan maduku nanti." Lydia nampak terdiam dengan ucapannya, membuat Richard penasaran. "Dan jika seandainya maduku nanti bisa melahirkan cucu laki-laki untuk ayahmu itu, itu akan sangat menambah luka di hatiku. Jadi lebih baik aku lebih siap kehilanganmu daripada aku harus dimadu dan berbagi suami dengan wanita lain," ujar Lydia dengan nada getir.
Mendengar hal itu, Richard merasa kebingungan. Di satu sisi, ia sangat mencintai Lydia. Namun di sisi yang lain, ia pun tidak mau kehilangan harta warisan ayahnya. Ayahnya pernah mengancamnya bahwa jika dia tidak mau menikah lagi jika anaknya kali ini perempuan lagi, maka sebagian hartanya akan disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan dan akan diberikan kepada saudara-saudaranya yang perempuan, dan akan mendapatkan seperempat dari hak warisannya. Itu adalah hukuman baginya karena gagal memberikan cucu laki-laki untuk keluarga Natawijaya.
"Dan aku beri kamu kesempatan, Mas, untuk berpikir tentang masa depan keluarga kita. Pokoknya, sebelum aku melahirkan anak kita, kamu harus bisa mendapatkan pengganti untuk salah satu anak kita. Carilah seseorang yang bisa kita peralat dan kita beri sejumlah uang asalkan mau menyerahkan anak lelakinya dan mau merawat anak kita. Dan aku harap sahabatmu, Ferdinand Kiswaman, mau melakukan itu untukmu. Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa istrinya juga mengandung anak kembar seperti kita? Dan kamu bilang sahabatmu itu sedang mengalami kesulitan keuangan? Kamu bisa manfaatkan hal itu untuk membuatnya menuruti apa keinginan kita," ujar Lydia dengan nada penuh perhitungan. "Atau jika kamu tidak bisa, kamu tahu sendiri akibatnya."