Tiga menit kemudian, Ferdi melangkahkan kakinya menuju motor gedenya. Langit di atas Balikpapan mulai merona jingga, tanda senja akan segera tiba, menambah kesan terburu-buru pada langkahnya. Ia baru saja hendak menyalakan mesin ketika ponselnya bergetar, menampilkan pesan masuk di layar hijau. Nama "Ibu Mertua" terpampang jelas.
"Assalamualaikum, Fer. Tolong habis Isya atau Maghrib kamu ke sini, ya. Lihatin Bapak, Bapak sedang sakit," begitu bunyi pesan dari Ibu mertuanya, yang ia panggil Bu Alaya.
Ferdi mengerutkan kening. Pesan berikutnya muncul, lebih panjang dan penuh kekhawatiran.
"Tapi tolong jangan kasih tahu istrimu, Hana, ya. Ibu tahu dia pasti akan kepikiran. Jadi Ibu mohon, tolong jangan kamu kasih tahu dia tentang keadaan Bapak," lanjut Bu Alaya. "Ini juga pesan dari Bapak. Ibu sama Bapak tidak mau Hana kepikiran tentang kondisi Bapak, karena kami takut itu akan memengaruhi kesehatannya dan akan memengaruhi bayinya. Kami tahu kalian sudah lama merindukan anak itu. Jadi Ibu mohon, kalau bisa kamu sendiri saja ke sini. Habis Maghrib atau habis Isya. Tapi tolong, jangan kasih tahu Hana, ya."
Hati Ferdi mencelos. Ia tahu betapa Hana mendambakan kehadiran buah hati, dan kabar buruk sekecil apa pun bisa membuatnya cemas berlebihan. Ia pun segera membalas, "Iya, Bu. Nanti setelah Isya, insyaallah nanti Ferdi ke sana."
Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas di benaknya. "Oh iya, Bu. Apa Bapak tidak dibawa ke rumah sakit saja?"
Balasan dari Bu Alaya datang tak lama. "Tidak, Fer. Bapak tidak mau dibawa ke rumah sakit karena katanya takut akan membutuhkan biaya yang besar, sementara Ibu sama Bapak tahu kalian juga pasti sedang menabungkan untuk lahiran anak kalian." Ferdi bisa merasakan nada pengertian dan pengorbanan dalam setiap kata. "Jadi Bapak maunya hanya dirawat jalan saja dengan ramuan-ramuan tradisional. Dan alhamdulillah sih, kondisi Bapak sudah membaik."
Ferdi menghela napas lega. "Ya sudah kalau begitu nanti ya, habis Isya insyaallah Ferdi ke sana ya, Bu."
"Iya, tapi ingat ya pesan Ibu tadi, kamu jangan bilang-bilang Hana kalau Bapak sedang sakit," pesan Bu Alaya lagi, seolah menegaskan.
"Siap, Bu!" balas Ferdi sambil mengirimkan emoticon polisi yang sedang hormat. Melihat balasan lucu dari menantunya itu, Bu Alaya tersenyum tipis.
Di sisi lain, di kediaman orang tua Hana, Pak Farhan—ayah Hana dan mertua Ferdi—terdengar batuk-batuk.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Pak Farhan, suaranya sedikit serak, saat melihat istrinya.
"Ah, enggak apa-apa, Pak. Ini si Ferdi, menantu kita, mengirimkan pesan yang lucu banget. Jadi Ibu tersenyum," jawab Bu Alaya, pandangannya beralih ke suaminya.
"Loh, Bapak, kok bangun? Bapak kan masih sakit," tegur Bu Alaya khawatir.
"Bapak bosan, Bu, di kamar terus," keluh Pak Farhan. Ia menarik napas. "Oh iya, Bapak pesan sama Ibu ya, jangan kasih tahu Hana kalau dia menelepon tentang kondisi Bapak yang sesungguhnya. Tapi kalau sama Ferdi enggak apa-apa. Karena Bapak enggak mau terjadi sesuatu dengan cucu kita." Ia menatap istrinya dengan tatapan penuh harapan.
"Iya, Pak. Ibu sudah bilang kok ke Ferdi dan katanya rencananya dia mau ke sini habis Isya nanti," ujar Bu Alaya menenangkan.
"Oh begitu, syukurlah. Oh iya, apa mereka juga akan datang berdua?" tanya Pak Farhan.