Ferdi terdiam, benaknya seketika dipenuhi kilasan pengakuan istrinya tentang ayah sahabatnya yang rupanya menyimpan ketidaknyamanan terhadap menantunya sendiri. Pria itu teringat jelas pertemuan tak sengaja sebulan lalu. Saat itu, ia sempat meminta izin sejenak ke kamar kecil untuk menunaikan hajatnya, sementara istrinya, Hana, dan ayah Richard asyik tenggelam dalam obrolan santai.
“Mas, Mas, Mas, kenapa kamu diam saja, sih? Aku sedang bercerita, tapi kamu malah melamun, ya? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Hana, suaranya sedikit meninggi. “Kamu kok diam saja, tidak menanggapi, tidak bilang apa-apa,” tambahnya sambil menggenggam lengan suaminya erat.
“Eh, iya? Ada apa, Sayang?” jawab Ferdi, nadanya terdengar kikuk.
“Ih, kamu tidak mendengarkanku, ya, Mas?” raut wajah Hana langsung berubah cemberut, bibirnya manyun, kecewa menyadari suaminya sama sekali tidak menyimak ceritanya dari tadi.
“Eh, eh, eh… Hmm, hmm… Bukan begitu, Sayang,” Ferdi mendadak kelu, bingung mencari kata yang tepat. Kalimatnya menggantung di udara, membuat dahi Hana berkerut tajam. Ia menatap suaminya dengan mata yang menyelidik, penuh tanda tanya dalam hati.
“Cuma apa, Mas? Kenapa diam saja? Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku? Coba katakan, Mas,” desak Hana, tatapannya kini tidak kalah tajam.
“Hmm, hmm, hmm… Enggak kok, Sayang. Tidak ada yang Mas sembunyikan darimu. Mas cuma berpikir dan mengingat-ingat apa yang tadi kamu katakan mengenai pertemuan kita dengan ayahnya Richard. Pertemuan waktu itu, ya, Sayang? Yang saat itu Mas izin ke toilet sebentar untuk buang air kecil karena memang sudah tidak tertahankan lagi?” Ferdi berusaha merangkai alasan.
“Iya, Mas, yang itu. Mas mungkin tidak tahu kelanjutannya karena waktu itu Mas sedang ke kamar mandi. Papanya sahabat kamu itu bercerita bahwa ia sangat mendambakan cucu laki-laki, sebab semua cucunya dari Richard perempuan. Untuk kehamilan yang sekarang, papanya Richard amat sangat berharap cucu kali ini adalah laki-laki dan bisa meneruskan apa yang sudah ia rintis dan bangun selama ini,” jelas Hana lagi.
Tiba-tiba, kehangatan yang sempat tercipta meredup. Hana kembali menatap suaminya, kali ini dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan penuh keheranan yang menusuk.
“Mas, kamu dari mana? Kok baru pulang jam segini?” tanya Hana, mendadak ia baru menyadari bahwa waktu pulang suaminya kali ini jauh terlambat dari biasanya. Tatapan Hana berubah tajam, penuh selidik.
Ferdi tersentak kaget mendengar pertanyaan istrinya yang tiba-tiba berubah haluan. Ia bahkan belum sempat mengatur kata-kata yang harus keluar dari mulutnya.
Ferdi terdiam beberapa saat, menenangkan diri. Barulah ia berucap, “Hmm, tidak apa-apa, Sayang. Aku tadi habis beli ini,” ujar Ferdi sambil menyodorkan sebuah kantong. “Dari tempatnya Mas Vardy.”
Hana mengambil kantong itu dari tangan Ferdi. “Ini apa, Mas?”
“Itu gorengan kesukaan kamu,” jawab Ferdi.
Hana melihat isinya, dan wajahnya langsung berseri-seri. “Wah, Mas, terima kasih, ya! Kebetulan sekali aku tadi membatin ingin makan gorengan ini, eh, Mas malah membawakannya untukku. Terima kasih banyak, Mas, sudah membelikan Hana gorengan yang Hana inginkan.”
“Iya, Sayang, sama-sama,” ujar Ferdi, tersenyum tipis. Ia merasa lega luar biasa karena Hana menyukai apa yang ia bawa. “Untung saja aku tadi menyempatkan diri mampir ke tempatnya Mas Vardy,” batin Ferdi.
“Oh, iya, Sayang. Kalau begitu, Mas ke kamar dulu, ya. Sudah gerah sekali ini. Mas mau mandi, mau bersih-bersih. Kamu makan saja dulu gorengannya. Siapa tahu Nadi dan Vena juga ingin makan gorengan Mas Vardy,” ucap Ferdi.
“Gorengan yang membuat Ayah dan Ibunya bisa bersatu,” timpal Hana, tersenyum.
“Ya sudah, kalau begitu, Mas ke kamar dulu, ya,” ulang Ferdi sekali lagi.
“Oh, iya. Ibu sedang di dapur, lagi siap-siap buat makan malam kita.” Hana tiba-tiba kembali berkata. “Oh, iya, Mas. Hana kok jadi kepikiran, ya?”
“Kepikiran apa lagi, Sayang?”