Nadi dan Vena: Apakah Sebuah Rahasia Akan Menjadi Penghalang Bersatunya Dua Hati?"

ZRCantik
Chapter #9

Harga Sebuah Nyawa: Dilema di Balik Tawaran Richard


Pengakuan yang Tertahan

Beberapa menit berselang, Ferdi pun kembali merasa segar setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat di kamar mandi pribadinya. Namun, alangkah terkejutnya Ferdi ketika berhadapan dengan raut wajah Hana. Ekspresi istrinya sama sekali tidak seperti beberapa saat yang lalu; wajah Hana kini nampak mengintimidasi dan dingin.

“Mas, coba jelaskan padaku. Apa yang sedang dirimu rencanakan bersama Richard?” tuntut Hana, suaranya sarat ketegangan. “Tadi ia menelepon, dan katanya ia menanyakan bagaimana tentang penawarannya. Jelaskan padaku, Mas, apa yang sedang kalian rencanakan? Ini sepertinya berhubungan dengan anak kita. Apa kamu hendak menjual anak kita?” tanya Hana, wajahnya tiba-tiba sendu, seolah sedang mati-matian menahan tangis yang siap pecah.

Ferdi terdiam membeku. Ia bingung harus berkata apa.

“Tidak, Hana, kamu ini ada-ada saja. Itu… kamu itu salah paham, Sayang. Aku dan Richard sedang tidak merencanakan sesuatu yang aneh, kok,” jawab Ferdi.

Namun, Hana seolah tidak dapat ditenangkan. Setiap kata yang keluar dari mulut Ferdi terdengar ia pikirkan matang-matang terlebih dahulu. Hana bisa melihat keraguan itu dari cara Ferdi menjawab pertanyaannya.

Lalu, Hana berkata lagi, “Kamu sedang tidak berbohong, kan, padaku?”

“Ya, tentu saja tidak, Sayang!” ujar Ferdi, berusaha meyakinkan.

“Ingat, ya, Mas. Aku tahu saat ini kondisi rumah tangga kita sedang diuji dengan kesulitan ekonomi. Tapi aku mohon padamu, tolong jangan korbankan anak kita. Seperti beberapa kasus di televisi, di mana orang tua menjual anaknya demi menutupi kesulitan ekonomi mereka,” ujar Hana, tatapannya memohon.

Ferdi, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih lembap, nampak terperanjat bingung oleh tuduhan istrinya. “Ada apaan? Kenapa wajahmu begitu?” ujar Ferdi, berusaha keras menguasai diri agar tidak terlihat gugup di depan istrinya. “Apa sih yang kamu bilang tadi? Ini lho, Mas baru saja selesai mandi, dan tiba-tiba kamu menginterogasi Mas seperti ini!” protes Ferdi, berusaha setenang mungkin, meskipun ia tahu persis apa yang dimaksud oleh istrinya.

“Ini lho, Mas. Tadi aku dengar Richard mengatakan, ‘Apa Mas sudah memikirkan penawarannya?’ Memangnya apa yang ia tawarkan, Mas? Awas ya, Mas! Kalau Mas melakukan apa yang kutakutkan itu! Menjual anak hanya demi mengatasi kesulitan ekonomi. Ingat ya, Mas, setiap anak itu bawa rezeki.”

Hana tiba-tiba terdiam, lalu ia berkata lagi. “Jangan-jangan, ini ada hubungannya karena Lydia hanya bisa melahirkan anak perempuan? Lalu Richard menawarkan kepada Mas untuk menukar salah satu dari anak kita?” ujar Hana, seolah bisa menebak pikiran tergelap Ferdi.

Ferdi sontak terkejut. “Apa sih, Sayang? Kamu… Ya Tuhan. Biar begini, Mas mungkin tidak sempurna dalam menjadi seorang lelaki. Tapi Mas tidak akan tega melakukan hal itu! Kamu kan tahu, kita lama menunggu si Utun. Jadi please, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, ya, tentang Mas. Mas tidak akan melakukan apa yang kamu pikirkan itu. Percayalah!” ujar Ferdi, penuh penekanan.

“Benar ya, Mas? Kamu tidak akan melakukannya?” tanya Hana, mencari kepastian.

“Iya, Han. Mas tidak akan tega melakukan itu. Apalagi apa yang ada di dalam perutmu itu. Kita lama menunggunya, bahkan lima tahun sudah begini,” ujar Ferdi.

“Iya, Mas. Tadi Ibu juga mengatakan seperti itu kepada aku. Tapi awas ya, kamu, Mas! Kalau kamu berani melakukan hal itu, maka siap-siap terima akibatnya!” ancam Hana.

Lihat selengkapnya