Bab 11: Rahasia yang Mulai Terkuak
Malam itu, langit di atas kediaman keluarga Richard tampak mendung, seakan alam pun ikut merasakan kegelapan yang mulai menyelimuti rumah tangga sahabat karib itu. Sosok misterius yang tadi menguping pembicaraan Richard di ruang kerjanya perlahan menjauh, langkahnya pelan namun pasti, seolah tidak ingin menimbulkan suara sedikit pun.
Sosok itu ternyata adalah Bi Inah, asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi di keluarga Richard, bahkan sejak sebelum Richard menikah dengan Lydia. Bi Inah dikenal sebagai orang yang jarang ikut campur urusan majikannya, namun kali ini hatinya bergejolak. Ia sudah menyaksikan bagaimana Richard berubah beberapa bulan terakhir—lebih sering mengurung diri di ruang kerja, sering menerima telepon dengan nada berbisik, dan yang paling mengganggu pikirannya, ia pernah tanpa sengaja melihat foto seorang bayi laki-laki tergeletak di meja kerja Richard, disertai secarik kertas berisi tulisan tangan yang tidak sempat ia baca jelas.
“Aku harus bicara pada Bu Lydia. Tapi… bagaimana kalau nanti aku malah dituduh macam-macam? Ah, tapi kalau aku diam saja, aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” gumam Bi Inah dalam hati, wajahnya tampak gelisah saat melangkah menyusuri lorong menuju dapur.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Richard masih terduduk dengan wajah tegang. Tangannya terkepal di atas meja, matanya menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya sendiri—bayangan seorang lelaki yang mulai kehilangan arah karena dorongan keputusasaan.
“Lydia… maafkan aku. Aku tidak ingin kau terus bersedih karena tidak bisa memberikan anak laki-laki untukku. Aku tahu ini egois, tapi aku hanya ingin menyelamatkan pernikahan kita,” gumamnya pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, pintu ruang kerja diketuk pelan. Lydia masuk dengan wajah penuh tanda tanya.
“Mas, dari tadi kudengar kamu bicara sendiri di sini. Ada apa? Kamu baik-baik saja?” tanya Lydia, matanya menyelidik.
Richard buru-buru mengatur ekspresinya. “Oh, tidak apa-apa, Sayang. Tadi Mas cuma telepon-telepon urusan kerjaan sama Ferdi,” jawabnya, berusaha terdengar biasa saja.
“Ferdi? Kudengar dari Bi Inah tadi kamu sempat menyebut-nyebut soal ‘penawaran’. Penawaran apa, Mas?” tanya Lydia, curiga.