Malam kian merambat pekat. Richard masih mematung sendirian di balik meja kerjanya. Remang cahaya lampu meja memantulkan guratan lelah di wajahnya, tetapi ada kilat liar yang membakar bola matanya—isyarat membara dari seorang pria yang tengah membantai nuraninya sendiri. Di atas meja, amplop cokelat berisi lembaran foto rumah Ferdi dan Hana tergeletak pasrah, bagai saksi bisu atas benih kejahatan yang mulai berakar di kepalanya.
“Aku tahu ini salah. Sangat salah,” bisiknya parau, menatap nanar foto Hana yang tengah melangkah keluar dari rumah sakit bersalin. “Tetapi kalau bukan begini, dengan cara apa lagi aku bisa menyelamatkan rumah tanggaku dengan Lydia?”
Bayangan masa lalu mendadak berkelebat. Suara tegas Pak Wirawan, ayahnya yang berwatak keras, kembali menggema. Ayahnya tak pernah berhenti menuntut hadirnya pewaris laki-laki demi melanggengkan gurita bisnis keluarga yang dibangun tiga generasi. Delapan tahun menikahi Lydia, Richard hanya dikaruniai dua anak perempuan. Tekanan itu kian memburu jiwa, menjelma menjadi belati tajam tiap kali tawa sinis sang ayah menusuknya di tengah kumpulan keluarga besar.
“Kau ini bagaimana, Richard? Haruskah trah besar Wirawan punah hanya karena kau tak becus mencetak anak laki-laki?” Kalimat itu terngiang begitu nyata, seolah baru kemarin dilontarkan sang ayah di pesta ulang tahun neneknya.
Richard menghela napas berat, mencoba mengurai sesak di dadanya. Tangan yang bergetar itu meraih ponsel, jemarinya menari menelusuri nama kontak yang selama ini terkunci rapat sebagai benteng terakhir saat jalan lurus tak lagi berguna.
“Bang Jarot,” gumamnya seraya menekan tombol panggil.
Panggilan itu tersambung dalam beberapa detik. Nada berat dan serak menyapa dari balik saluran. “Halo, siapa ini?”
“Bang, ini saya... Richard. Putranya Pak Wirawan,” sahut Richard, napasnya tertahan.
“Oh, Si Bos Muda. Ada angin apa telepon Abang tengah malam begini?” nada bicara di seberang sana menyiratkan rasa curiga yang kental.
Richard tertegun sejenak. Niatnya sempat goyah di tepi jurang keputusan. Namun, bayangan wajah kecewa ayahnya serta tatapan sendu Lydia tiap kali topik anak laki-laki terangkat langsung menyapu bersih sisa-sisa keraguannya.
“Bang, saya butuh bantuan. Tapi ini rahasia rapat, tidak boleh ada yang tahu,” ucap Richard dengan nada dingin dan penuh penekanan.
“Halah, kalau telepon malam-malam begini sudah pasti bukan urusan remeh. Langsung saja, apa mau kau?” potong Bang Jarot tanpa basa-basi.
“Saya mau Abang mengawasi satu keluarga. Pantau jadwal harian mereka, catat siapa saja yang bertamu, dan yang paling penting... cari tahu kapan istrinya sendirian di rumah,” pinta Richard, merangkai setiap kata dengan kehati-hatian yang matang.
Keheningan dingin merayap beberapa saat di saluran telepon sebelum Bang Jarot akhirnya mendengus, “Ini bukan main-main, Bos. Ini pekerjaan berisiko tinggi. Kau yakin? Ini jelas bukan sekadar proyek bisnis biasa.”
“Saya yakin seratus persen, Bang. Sebut saja harganya, saya bayar berapa pun,” jawab Richard mantap, meski jauh di lubuk hatinya, ketakutan mulai menggerogoti.
“Baik kalau begitu. Kirim alamat dan fotonya ke WhatsApp. Besok pagi Abang langsung bergerak,” tandas Bang Jarot sebelum memutus sambungan.
Layar ponsel itu menggelap. Tangan Richard gemetaran hebat. Ia sadar, malam ini ia telah melangkah terlalu jauh menembus kegelapan—sebuah lorong hitam tanpa pintu kembali.
Di sudut lain rumah itu, Bi Inah masih mengendap di dapur. Meski jam dinding sudah merambat ke angka dua belas malam, matanya enggan terpejam. Pikirannya masih dicekam kepanikan atas percakapan telepon Richard yang tak sengaja ia dengar tadi sore—sebuah obrolan penuh tekanan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Ya Allah, lindungilah keluarga ini dari marabahaya,” ratap Bi Inah pelan sambil meremas dadanya yang berdegup kencang.
Saat fajar menyingsing, Bi Inah bergelut dengan alat dapur seperti biasa. Namun, raut cemas tak jua basah dari wajahnya. Ketika Lydia melangkah turun menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat, Bi Inah memberanikan diri mendekat dengan langkah ragu.
“Bu Lydia...” panggil Bi Inah lirih.
“Iya, Bi? Ada apa?” sahut Lydia menghentikan langkah, menyadari ada aura ketakutan yang tak biasa dari pelayannya itu.
“Anu, Bu... Ada yang ingin Bi sampaikan. Tapi Bi mohon dengan sangat, jangan pernah cerita ke Pak Richard kalau Bi yang memberi tahu,” pintanya dengan suara nyaris memohon.