Nadi dan Vena: Apakah Sebuah Rahasia Akan Menjadi Penghalang Bersatunya Dua Hati?"

ZRCantik
Chapter #12

Bab 12: Ancaman yang Tak Bisa Ditarik Kembal



Pagi itu, mentari baru saja menyingsing di ufuk timur Balikpapan, namun suasana hati Richard jauh dari kata tenang. Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata barang sejenak, dihantui ancaman Lydia yang terngiang-ngiang di telinganya. *"Aku sendiri yang akan berjalan ke kantor polisi untuk melaporkanmu!"* Kalimat itu terus berputar bagai kaset rusak, membuat kepalanya berdenyut hebat.


Begitu subuh menjelang, Richard segera mengunci diri di ruang kerjanya, meraih ponsel dengan tangan gemetar. Ia harus membatalkan semuanya, sebelum semuanya benar-benar terlambat. Jarinya menekan nama kontak yang semalam baru saja ia hubungi dengan penuh keyakinan, kini dengan perasaan yang jauh berbeda—penuh ketakutan dan penyesalan.


Tut... tut... tut... Panggilan tersambung setelah nada sabar yang terasa begitu lama.


"Halo, Bos Muda. Pagi-pagi sudah telepon, ada apa lagi ini?" suara Bang Jarot terdengar santai, seolah tidak menyadari kepanikan di ujung telepon.


"Bang, saya... saya mau membatalkan rencana kemarin," ujar Richard, suaranya bergetar hebat.


Hening sejenak di seberang sana. Lalu terdengar dengusan yang membuat bulu kuduk Richard merinding. "Membatalkan? Bos, ini bukan proyek warung kopi yang bisa batal semaunya kau. Saya sudah keluar ongkos buat orang-orang saya semalam. Sudah mulai gerak dari kemarin sore."


"Saya... saya akan tetap bayar penuh, Bang. Tapi tolong, hentikan semuanya. Saya mohon," pinta Richard, keringat dingin mulai membasahi keningnya.


Bang Jarot tertawa pendek, nada yang membuat dada Richard semakin sesak. "Bos, kau ini lucu. Kau kira ini bisnis yang bisa kau buka-tutup semaumu? Anak buah saya sudah tahu wajah, alamat, bahkan sudah tahu kapan istrinya sendirian di rumah. Kalau saya suruh mundur sekarang, mereka bakal tanya-tanya, 'Ini kenapa, Bang? Ada apa sebenarnya?' Dan kau tahu sendiri, semakin banyak yang tahu, semakin berbahaya buat kau."


Deg. Ucapan itu bagaikan halilintar yang menyambar tepat di ubun-ubun Richard. "Maksud Abang apa? Apa Abang mengancam saya?"


"Bukan mengancam, Bos. Ini namanya kenyataan. Kau yang mulai duluan, saya cuma jalankan pesanan. Kalau kau mau berhenti di tengah jalan, ya itu hak kau. Tapi jangan salahkan saya kalau nanti ada yang bocor ke orang lain soal siapa yang menyewa saya," ujar Bang Jarot, kali ini nadanya berubah dingin dan penuh perhitungan.


Richard merasa dunianya runtuh seketika. Ia baru menyadari, dirinya sudah terjebak dalam permainan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia kira. "Jadi... jadi apa yang harus saya lakukan sekarang, Bang?"


"Gampang. Kau tinggal diam saja. Biarkan saya kerja. Begitu saya dapat semua informasi yang kau minta, saya kabari kau. Habis itu, terserah kau mau lanjut apa enggak. Tapi kalau kau berhenti sekarang, uang muka yang sudah kau kasih kemarin, anggap saja hangus. Dan saya enggak jamin anak buah saya bakal diam soal proyek ini," ujar Bang Jarot, memberi ultimatum yang membuat Richard semakin terjepit antara dua pilihan yang sama-sama menakutkan.


Sambungan telepon terputus begitu saja, meninggalkan Richard yang terduduk lemas di kursi kerjanya, kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya lirih, menyesali keputusan gegabah yang sudah ia ambil.


***


Sementara itu, di kantor tempat Ferdi bekerja, suasana pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Ferdi yang baru saja sampai di mejanya, tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan di depannya. Pikirannya masih dipenuhi bayangan mobil hitam yang mengintai rumahnya kemarin sore.


"Aku harus bicara langsung sama Richard. Aku enggak bisa terus-terusan begini, dihantui rasa takut tanpa kepastian," batin Ferdi, mengepalkan tangannya di atas meja kerja.


Dengan langkah tegas, Ferdi bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruangan Richard yang terletak di lantai atas. Sesampainya di depan pintu, ia menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengetuk pintu itu.


"Masuk," terdengar suara Richard dari dalam.


Ferdi membuka pintu dan mendapati sahabatnya itu duduk dengan wajah kusut, jauh dari kesan seorang pengusaha muda yang biasanya penuh percaya diri.


"Richard, kita perlu bicara," ujar Ferdi tanpa basa-basi, langsung duduk di kursi seberang meja kerja Richard.


Richard mendongak, terkejut melihat kedatangan sahabatnya yang tiba-tiba. "Fer? Ada apa? Kok tumben datang ke ruangan aku pagi-pagi begini?"


"Kamu tahu persis kenapa aku ke sini," ujar Ferdi, tatapannya tajam menusuk mata Richard. "Kemarin ada mobil hitam yang parkir seharian di depan rumahku. Kacanya gelap, enggak ada yang turun. Hana sampai ketakutan seharian di rumah sendirian. Kamu tahu sesuatu soal itu, Richard?"


Wajah Richard seketika pucat pasi. Ia mencoba menguasai diri, namun matanya yang bergetar sudah cukup menjadi bukti kegugupannya. "Mo-mobil hitam? Aku... aku enggak tahu apa-apa soal itu, Fer."


"Richard," ujar Ferdi, suaranya mulai meninggi, "aku sudah kenal kamu dari kecil. Aku tahu persis kapan kamu berbohong dan kapan kamu jujur. Sekarang, coba lihat mataku dan katakan sekali lagi, kamu enggak tahu apa-apa soal mobil itu."

Lihat selengkapnya