Wulan terbangun dengan kaki yang masih nyeri dan sedikit membengkak, meski sudah terbalut perban rapi. Rasa ngilu itu muncul setiap kali ia menggerakkan jari-jarinya. Dari balik jendela kamarnya, terdengar suara hujan yang turun cukup deras, menimpa atap dan dedaunan dengan irama konstan.
Sekarang bukan musim hujan. Namun Ruteng memang sering menghadirkan kejutan cuaca. Di kota kecil ini, ramalan cuaca sering kali hanya menjadi formalitas belaka.
Wulan menggeser tubuhnya turun dari kasur. Ia berniat bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mengikuti rutinitas yang sudah mendarah daging, yang kadang membuatnya malas. Namun belum sempat ia melangkah ke kamar mandi, pintu kamarnya terbuka perlahan.
Nenek berdiri di ambang pintu, menatap kakinya yang terbalut perban dengan sorot mata penuh khawatir.
“Wulan, kembali ke kasur. Hari ini kamu tidak usah sekolah,” ucap Nenek tegas, namun lembut. “Fokus sembuh dulu. Nenek sudah mengabari Guru Wali kelasmu.”
Wulan menghela napas kecil. Ia sempat membantah, mengatakan takut tertinggal pelajaran, takut ketinggalan tugas dan ulangan yang entah kapan diumumkan. Kalimat-kalimat itu terdengar masuk akal dan memang benar. Namun jauh di balik alasan rasional itu, ada sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Ia seperti ingin… memastikan sesuatu.
Tentang satu kata yang kemarin terlepas begitu saja dari bibir Naka.
Sayang.
Kata itu terus berputar di kepalanya sejak semalam, menempel seperti gema yang tidak mau hilang. Apakah itu hanya refleks bercanda? Ataukah ada makna lain yang tidak sempat ia tangkap?
Pada akhirnya, Wulan menyerah. Ia kembali naik ke kasur, menarik selimut hingga sebatas dada. Tangannya meraih VCD player di samping bantal, menekan tombol play. Alunan lagu pelan mengisi kamar, berpadu dengan suara hujan di luar jendela.
Hujan, udara dingin, kasur hangat, adalah kombinasi paling nikmat untuk bermalas-malasan. Hal yang kadang ia rindukan jika dia masuk Sekolah.
Namun entah kenapa, ada ruang kosong kecil di dadanya yang tidak ikut menghangat. Ada sesuatu yang terasa hilang dari pagi itu. Tidak ada suara Naka yang mengomel, tidak ada ejekan receh yang biasanya membuatnya kesal setengah mati, tidak ada langkah tergesa yang selalu datang bersamaan dengan senyum jahil.
Wulan menatap langit-langit kamar, membiarkan pikirannya melayang tanpa izin.
Ia… merindukannya.
Kesadaran itu membuatnya mendengus kecil, nyaris kesal pada dirinya sendiri. Jika Naka tahu apa yang sedang ia rasakan, cowok itu pasti akan besar kepala setengah mati. Bisa-bisa ia menggoda Wulan tanpa ampun selama berminggu-minggu.