Bel pulang akhirnya berbunyi, hal yang paling di nantikan Naka hari ini. Ia membereskan bukunya lebih cepat dari teman-temannya, memasukkan alat tulis ke dalam tas dengan gerakan singkat, lalu langsung berdiri.
“Eh, Naka, tidak nongkrong dulu?” sapa salah satu temannya. Katanya ada kedai kopi yang baru buka dekat lapangan Motang Rua.
Naka hanya menggeleng. “Tidak. Ada urusan.”
Ia melangkah keluar kelas tanpa menunggu respon lebih lanjut. Langit masih gelap, hujan sudah berubah menjadi gerimis . Jalanan basah memantulkan cahaya redup sore, membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Ruteng begitu indah saat gerimis atau setelah hujan.
Di tengah perjalanan pulang, Naka sempat berhenti di sebuah toserba. Ia membeli sekantong kecil camilan yang ia ingat pernah Wulan sukai. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Cuma menjenguk doang,” gumamnya pada diri sendiri, seolah sedang mencari pembenaran.
Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di depan rumah Wulan. Gerbang tidak terkunci jadi dia langsung masuk dan memarkir motornya. Ia mengetuk pintu pelan, namun sebelum itu dia memastikan penampilannya.
Tak lama, Nenek muncul di depan pintu. Ekspresinya sempat terkejut melihat Naka, namun kemudian ia tersenyum kecil.
“Sore, Nek. Mau jenguk Wulan… gimana kakinya?” tanyanya, berusaha terdengar santai meski matanya menyiratkan khawatir.
Nenek tersenyum kecil. “Masih sakit, tapi sudah mendingan. Masuklah.”
Naka mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu melangkah masuk. Detak jantungnya entah kenapa terasa lebih cepat dari biasanya.
"Kamu sudah makan Naka?" Tanya Nenek.
"Sudah Nek.. tadi makan dulu sebelum kesini."
"Sebentar. Nenek panggilkan Wulan dulu."
Wulan sedang setengah bersandar di kasur saat Nenek mengetuk pintu kamarnya. Nenek memberitahu kalau di bawah ada Naka datang menjenguknya.
Wulan mengerutkan kening, namun wajahnya tidak bisa di bohongi jika dia senang Naka datang menjenguknya.
“Kamu kenapa kesini?” suara Wulan terdengar waspada.
“Orang ganteng datang menjenguk teman sebangku,” jawab Naka refleks sambil meletakan cemilan yang dia beli di meja.
“Ganteng dari Hongkong.”
“Aku sedih kamu tidak masuk sekolah hari ini,” ujar Naka.