Naka Wulang

Ntalagewang
Chapter #12

Lebih takut kehilangan

Naka memperhatikan Wulan selama beberapa saat. Tatapannya tak lepas, seolah ingin menyimpan setiap detail perempuan itu dalam ingatannya. Ada hal-hal yang tak berubah, meski kini Wulan terbaring dengan kaki diperban. Kerutan kecil di dahinya saat berpikir, sorot matanya yang selalu waspada, cara ia menggigit bibir ketika menahan komentar kebiasaan-kebiasaan kecil yang entah sejak kapan diam-diam Naka hafal.

Dadanya menghangat. Sekaligus… gelisah.

“Kenapa sih kamu melototin aku seperti itu?” Wulan akhirnya bersuara, nada suaranya sedikit risih.

Naka tersentak. “Enggak. Aku cuma… ngecek kondisi pasien,” katanya cepat, lalu terkekeh kecil untuk menutupi gugupnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ia takut Wulan membaca sesuatu yang sedang ia sembunyikan rapat-rapat.

“Pasien mana ada yang dicek pakai tatapan aneh begitu,” Wulan mendengus. “Aneh. Kamu lagi cari celah buat ngeledekin aku lagi, ya?”

“Pikiran kamu aja yang ke mana-mana. Ingatlah Anthonius, jangan selalu berpikir buruk tentangku.”

“Lagian, natapnya kayak gitu. Aneh.”

“Apanya yang aneh? Itu tatapan spesial,” celetuk Naka tanpa sadar. Lalu buru-buru menambahkan, sedikit panik, “Spesial yang aku maksud beda sama yang kamu pikirkan.”

Wulan terdiam. Ia menoleh pelan, menatap Naka dengan alis terangkat.

“Kamu ngomong apa barusan? Memangnya aku mikir apa?”

Naka sadar ia salah bicara. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menghela napas panjang. “Lupakan.”

“Tidak bisa,” sahut Wulan cepat. “Kamu sendiri yang mulai.”

“Keliatannya kata spesial yang kamu pikirkan mengandung arti yang…”

“LUPAKAN!”

Naka terkekeh pelan. “Tadi aku juga sudah bilang, lupakan. Kamu sendiri yang maksa nerusin.”

Sunyi kembali menyelinap di antara mereka. Bukan sunyi yang canggung, lebih seperti jeda yang penuh sesuatu yang belum berani disebutkan. Naka menatap hujan di balik jendela, jemarinya saling mengait gelisah.

“Aku pulang sebelum malam, lagipula di luar juga masih hujan, ” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah. “Cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”

Wulan mengangguk pelan. “Makasih… sudah datang.”

Hujan masih turun deras. Mustahil rasanya Naka pulang dengan nyaman. Namun dua kata sederhana itu membuat sudut bibir Naka terangkat tanpa sadar.

“Aku kira kamu bakal nahan aku sampai besok.”

“Hemmm, mulai lagi deh,” Wulan mendengus, menahan senyum, "aku yang tidak akan sembuh kalau seperti itu."

Percakapan mereka terpotong oleh suara motor berhenti di depan gerbang. Tak lama, suara seorang pria memanggil nama Wulan.

“Teman kamu tuh datang. Mau ngajakin makan bakso kali. ” Ujar Naka, nadanya sedikit ketus tanpa ia sadari.

Lihat selengkapnya