Naka Wulang

Ntalagewang
Chapter #13

Marah

Setelah beberapa hari tidak masuk Sekolah, hari itu Wulan akhirnya kembali walaupun belum sepenuhnya sembuh. Langkahnya masih sedikit pincang, tapi ia memaksakan diri berjalan normal. Ia tidak mau jadi pusat perhatian, apalagi jadi bahan kasihan. Namun baru saja masuk gerbang, beberapa pasang mata sudah melirik kakinya yang masih diperban rapi, dan beberapa dari mereka langsung menanyakan keadaan Wulan.

“Lan, kakimu kenapa?”

“Jatuh?”

“Seriusan masih sakit?”

Wulan hanya menjawab singkat, “Sedikit.” Dia tidak mau jawaban yang panjang malah akan menimbulkan pertanyaan yang lainnya.

Saat ia sampai di kelas, bangkunya masih kosong. Naka belum datang. Entah kenapa, ada rasa aneh menyelinap di dadanya. Bukan kecewa, hanya… kosong. Apalagi kemarin sebelum pulang, ucapan Naka malah terdengar seperti seorang yang marah. Wulan meletakan tasnya di meja, dan menyambut dengan ramah, teman sekelasnya yang menanyakan keadaannya dan melihat lukanya lebih dekat. Wulan risih tetapi dia juga tidak enak hati untuk mengusir teman-temannya itu.

Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka. Naka masuk sambil membawa tas di satu bahu, wajahnya santai seperti biasa. Namun begitu matanya menangkap Wulan, langkahnya melambat sepersekian detik. Kehadiran Naka juga membuat Wulan sedikit lega, karena teman-teman yang lain langsung kembali ke bangku mereka masing-masing.

“Kembali juga, pasien ini,” ujarnya sambil duduk di bangku sebelah, "memangnya sudah membaik?"

“Apa aku harus memberi jawaban untuk perawat magang?” balas Wulan datar.

Naka terkekeh kecil, lalu mencondongkan badan sedikit. “Masih sakit? kan kemarin aku bilang kalau masih sakit jangan masuk dulu, nanti aku yang antar semua catatan.”

“Tidak separah kemarin.”

“Makanya jangan sok kuat.” Naka mengeluarkan buku dari dalam tasnya sebelum dia menaruh tasnya di kolong.

Nada itu lagi. Lembut. Terlalu peduli. Wulan takut salah mengartikan.

Wulan memalingkan wajah. “Kamu kenapa sih? Dari kemarin bawel.”

Lihat selengkapnya