Naka Wulang

Ntalagewang
Chapter #14

Kalut

Naka baru kembali ke kelas menjelang akhir jam pelajaran. Ia duduk tanpa menoleh, fokusnya pura-pura tertuju pada buku, meski sebenarnya pikirannya berantakan.

Wulan melirik sekilas. Ada rasa lega yang singgah sesaat. Mulutnya hampir terbuka untuk menanyakan darimana Naka, namun karena gengsi dia terpaksa menutup mulutnya.

"Perutmu sudah membaik Naka?" Tanya guru yang sedang mengajar saat itu. Sebelumnya, Naka menggunakan alasan sakit perut untuk tidak masuk. Padahal, dia hanya ingin menghindari Wulan, karena kekesalannya.

"Sudah Pak." Sahut Naka pelan, tidak lemas seperti sedang sakit, dia hanya memelankan suaranya.

Wulan melirik sebentar memastikan apakah Naka benar sedang sakit atau tidak. Helaan napas panjang Naka menjawab semuanya, dia baik-baik saja namun dia sedang kesal. Dan tentu saja Wulan adalah orang yang membuatnya kesal.

Selama pelajaran, Naka benar-benar fokus, fokus menatap papan tulis dengan tatapan kosong, karena pikirannya tertuju pada Wulan yang duduk di sampingnya.

Bel pulang sekolah berbunyi. Wulan berkemas pelan. Dia mencoba untuk menarik perhatian Naka, namun Naka terlihat tak perduli sama sekali. Saat ia berdiri dan melangkah keluar kelas, seseorang sudah lebih dulu berdiri di ambang pintu dan memanggilnya.

“Wulan.”

Ia menoleh pelan, seorang pria tinggi, rapi, dan terkenal ramah sedang berdiri di samping pintu kelas Wulan. Pria itu bernama Jonathan, dia ketua kelas sebelah, yang kelasnya bersebelahan dengan kelas Wulan.

“Kakimu masih sakit? Aku lihat dari tadi kamu susah jalan.” Ucapnya tulus.

“Masih sedikit.” Jawab Wulan singkat namun masih terdengar ramah.

“Kalau begitu aku temani sampai gerbang, ya. Takutnya, nanti kamu butuh sesuatu yang perlu aku bantu.”

Wulan ragu sejenak, sebenarnya sedikit kesal juga. Ucapan Jonathan seperti sedang meremehkan Wulan. Setelah terdiam beberapa saat, ia lalu mengangguk. “Tidak apa-apa. Aku bisa jalan sendiri." Tolaknya halus.

"Atau aku antar sampai rumah?"

Wulan tersenyum kecil. "Aku di jemput."

Dari sudut kelas, Naka melihat semuanya.

Tangannya mengepal.

“Hebat,” gumam Naka pelan. “Baru juga.”

Ia menyampirkan tas ke bahu dan berjalan lebih dulu, langkahnya cepat. Melewati Jonathan dan Wulan yang masih berdiri di depan pintu kelas.

“Naka—”

Lihat selengkapnya