Naka Wulang

Ntalagewang
Chapter #15

Orang ketiga

Keesokan harinya, suasana kelas terasa janggal. Wulan duduk tenang di bangkunya, tapi matanya sesekali melirik ke samping. Naka ada di sana hadir secara fisik, tapi pikirannya entah ke mana. Tidak ada ejekan, tidak ada celetukan iseng. Hanya diam.

Jonathan masuk belakangan, matanya langsung menangkap jarak aneh di antara mereka.

Ia tersenyum kecil. Ah. Jadi begitu. Tampaknya kedua orang tua masih bermusuhan.

Jonathan meletakan susu dan roti di meja Wulan. "Aku beli untuk sarapanmu." Katanya tulus.

"Thank you." Sahut Wulan singkat.

Di sampingnya, Naka duduk tak perduli. Seandainya saat itu mereka tidak bermusuhan, bisa saja roti dan susu yang di bawa Jonathan habis olehnya.

Wulan ingin mengajak Naka bicara, namun teringat chat semalam yang masih menggantung.

"Wihh.. pagi-pagi sarapan roti dan susu. Senangnya ada yang perhatiin." Goda Yani dan Nell.

"Mau?" Tawar Wulan.

"Boleh?" Dua orang itu tidak ada penolakan sama sekali. Mereka langsung merebut roti dan susu diatas meja Wulan.

Di sampingnya, Naka tetap acuh tak perduli.

Saat jam istirahat, Jonathan menghampiri bangku Wulan. Wulan terlihat mulai risih, apalagi Naka. Kesal juga dia lihat Jonathan mondar-mandir di kelas mereka. Kenapa tidak pindah kelas aja sekalian. Keluhnya.

“Lan, jadi aku antar pulang nanti, ya? Kamu masih pincang. Tadi aku lihat kamu jalan.”

Wulan hendak menolak, tapi Jonathan sudah bicara sedikit lebih keras dari perlu. Dia juga sudah beberapa kali menolak ajakan Jonathan.

“Oh ya, Naka,” tambahnya sambil menoleh, “tidak keberatan, kan?”

Naka mendongak. Dia tau pertanyaan Jonathan sengaja seperti ingin melihat reaksi Naka.

Senyum Jonathan sopan. Terlalu sopan.

“Kenapa aku harus keberatan?” jawab Naka dingin.

Jonathan mengangguk, seolah mengerti. “Iya juga. Kalian kan cuma teman.”

Kalimat itu sengaja.

Wulan menatap Jonathan tajam. “Jonathan” dia tidak suka dengan tingkah dan ucapan Jonathan saat itu.

Namun Naka sudah berdiri.

“Aku ke kantin,” katanya singkat, lalu pergi.

Jonathan menatap punggung Naka, lalu kembali ke Wulan. “Kamu tahu dia peduli, kan?”

Lihat selengkapnya