Di UKS, hujan masih turun pelan di luar jendela. Naka selesai membalut ulang perban Wulan. Tangannya berhenti sedikit lebih lama, jari-jarinya masih menggenggam ujung perban itu seolah enggan melepaskan.
“Aku sudah pernah bilang, jangan terlalu banyak bergerak,” katanya, lebih tenang tapi masih terdengar sisa khawatir. “Besok aku jemput.”
Wulan mengangkat wajahnya. “Aku tidak minta.”
Naka tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi aku tetap mau jemput kamu.”
Kalimat itu membuat Wulan terdiam.
Beberapa detik berlalu. Wulan menurunkan kakinya pelan dari ranjang, lalu meringis sedikit. Naka refleks mengulurkan tangan.
Mereka sama-sama berhenti. Tangannya menggantung di udara. Begitu dekat.
Wulan menatap tangan itu, lalu ke wajah Naka. “Kalau aku terima,” katanya pelan, “itu artinya apa?”
Naka menelan ludah. “Artinya… aku peduli. Dan aku tidak mau pura-pura biasa lagi.”
Bukan aku suka kamu. Bukan jadi pacarku.
Tapi cukup untuk membuat dada Wulan terasa penuh. Walau sebenarnya dia ingin sesuatu yang lebih jelas. Dia sendiri merasa kesal, seharusnya dia tidak perlu berpikiran seperti itu, tidak boleh menginginkan sesuatu yang lebih.
Ia perlahan meletakkan tangannya di tangan Naka. Tidak menggenggam. Hanya menyentuh. Hangat itu membuat Naka terdiam. Jarinya refleks sedikit menutup, lalu berhenti memberi Wulan kesempatan menarik diri jika ia mau.
Namun Wulan tidak menarik tangannya.
“Kita aneh,” gumam Wulan lirih.