Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #1

BAB 1 Satu Huruf yang Tidak Bisa Dimaafkan

Talika Arundari menolak permohonan itu pada pukul delapan lewat tujuh belas menit.

Angka itu baru saja muncul di mesin antrean ketika perempuan tua di depannya menyodorkan kartu keluarga lewat celah kaca.

“Nama Ibu di sini Tiswari,” kata Talika.

Perempuan itu mengangguk cepat.

“Betul.”

Talika menunjuk salinan surat kelahiran di bawahnya.

“Di sini tertulis Tiswary. Huruf terakhirnya berbeda.”

Perempuan itu mendekatkan wajah ke kaca. Kacamata yang tergantung di dadanya masih tidak dipakai. Ia membaca dengan mata menyipit, lalu tersenyum seolah baru menemukan kesalahan kecil di daftar belanja.

“Cuma y sama i, Mbak.”

“Karena berbeda, datanya belum bisa diproses.”

Senyum perempuan itu menghilang perlahan.

“Tapi itu saya.”

“Saya mengerti.”

“Semua orang juga tahu saya.”

Talika menarik dokumen itu kembali dan merapikannya di atas meja.

“Kami tetap perlu bukti pendukung supaya nama yang dipakai konsisten.”

Perempuan itu menoleh ke belakang. Ruang pelayanan sudah penuh, padahal kantor baru buka tujuh belas menit. Puluhan orang duduk di kursi plastik, memegang map dengan warna berbeda-beda. Sebagian mengawasi nomor antrean. Sebagian lain mengawasi Talika, mungkin takut kesalahan satu huruf ikut terjadi pada berkas mereka.

“Saya datang dari Tambun naik dua angkot,” kata perempuan itu. “Mau memasukkan cucu ke kartu keluarga. Ibunya kerja.”

Talika menjaga suaranya tetap rata.

“Ibu tidak harus kembali hari ini. Lengkapi dulu salah satu dokumen yang bisa menunjukkan nama yang benar.”

“Yang benar yang mana?”

Talika berhenti.

“Ibu sendiri biasa memakai yang mana?”

“Tiswari.”

“Tanpa y?”

“Kalau ngomong, bunyinya sama.”

Beberapa orang di ruang tunggu tertawa kecil.

Talika tidak.

“Apakah ada ijazah, buku nikah, akta kelahiran, atau dokumen lama?”

Perempuan itu membuka tasnya. Isinya dikeluarkan satu per satu: dompet, obat gosok, kantong plastik berisi kue, dua lembar resep, serta buku tabungan yang sampulnya sudah memudar.

“Ini?”

Talika memeriksa buku tabungan tersebut.

Nama pemiliknya tertulis Tiswary.

Ia mengembalikannya.

“Belum bisa dipakai untuk membuktikan Tiswari karena ejaannya mengikuti dokumen yang salah.”

“Kalau begitu pakai yang y saja.”

“Kartu keluarga memakai i.”

“Ganti semuanya jadi y.”

“Perubahannya tetap memerlukan dasar.”

Perempuan itu mengembuskan napas. Bahunya turun.

“Kalau saya meninggal dulu sebelum selesai bagaimana?”

Pertanyaan itu membuat meja pelayanan di sekitar mereka ikut sunyi.

Dada Talika terasa sesak sebentar. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Ibu tidak perlu memikirkan itu. Silakan cari dokumen paling lama yang masih ada. Petugas kelurahan juga bisa membantu memeriksa arsip.”

Perempuan itu mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan gerakan lambat.

Nomor antrean berikutnya sudah menyala di layar.

A-018.

Talika belum menekan tombol panggil, tetapi laki-laki di meja sebelah sudah berdiri.

Namanya Raganta Pradipta. Petugas pelayanan keliling yang selama dua minggu terakhir menempati meja sementara di unit mereka. Kemejanya selalu terlihat sedikit lebih kusut daripada milik pegawai lain. Tanda pengenalnya juga terpasang terbalik pagi itu.

Raganta datang membawa secarik kertas.

“Bu Tiswari.”

Perempuan tua itu menoleh.

“Kalau buku tabungan yang ini dibuat berdasarkan kartu identitas, mungkin Ibu masih punya dokumen pensiun atau rekening lama sebelum kartu identitas diperbarui.”

Talika langsung menoleh.

“Raganta.”

Lihat selengkapnya