Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #2

BAB 2 Mobil Dinas yang Tidak Mau Dinas

Talika tiba di kantor pukul enam lewat tiga puluh tujuh menit.

Halaman belakang masih sepi. SADAR DATA SATU terparkir di bawah pohon dengan badan putih kebiruan, stiker pelayanan kependudukan di kedua sisi, dan satu penyok lama di dekat pintu belakang.

Talika membuka daftar pemeriksaan.

Laptop dua unit.

Printer portabel.

Pemindai.

Kamera.

Modem.

Kabel listrik.

Formulir cadangan.

Kotak obat.

Air minum.

Ia mencentang semuanya satu per satu.

Pak Ganitri datang membawa kunci kendaraan dan kopi.

“Pagi sekali, Mbak.”

“Jadwal berangkat pukul tujuh.”

“Masih dua puluh menit.”

“Justru itu. Peralatan harus diperiksa sekarang.”

Pak Ganitri membuka pintu belakang.

“Raganta belum datang?”

“Belum.”

“Biasanya dia datang tepat waktu.”

Talika memandang jam.

“Tepat waktu itu sudah siap bekerja pukul tujuh, bukan baru masuk halaman pukul tujuh.”

Pak Ganitri menyesap kopi.

“Saya cuma sopir. Jangan jadikan saya saksi.”

Pukul enam lewat lima puluh sembilan, suara motor terdengar masuk ke halaman.

Raganta turun sambil membawa tiga bungkus sarapan dan dua minuman. Tanda pengenalnya terpasang benar, tetapi salah satu ujung kemejanya masih keluar dari celana.

“Saya tidak terlambat,” katanya sebelum Talika bicara.

“Satu menit sebelum berangkat bukan berarti sudah siap.”

“Saya sudah siap.”

“Kemejamu belum.”

Raganta melihat ke bawah, lalu memasukkan bagian kain yang keluar.

“Sekarang siap.”

Ia menyerahkan satu bungkus makanan kepada Pak Ganitri, lalu satu kepada Talika.

“Saya tidak memesan.”

“Bubur tanpa daun bawang.”

Talika melihat bungkus itu.

“Kenapa tanpa daun bawang?”

“Kamu selalu menyisihkannya di kantin.”

Talika tidak ingat pernah makan bersama Raganta.

“Kapan kamu melihat?”

“Meja kantin tidak terlalu luas.”

Pak Ganitri sudah membuka bungkusnya.

“Kalau tidak dimakan, sini.”

Talika menarik bubur itu menjauh.

“Saya makan nanti.”

Raganta tersenyum kecil.

Mereka berangkat pukul tujuh lewat empat menit.

Talika duduk di kursi depan dengan daftar jadwal di pangkuan. Raganta berada di belakang bersama peralatan, memeriksa formulir sambil sesekali bernyanyi pelan mengikuti radio.

“Bisa dimatikan?” tanya Talika.

Pak Ganitri menyentuh tombol radio.

“Radionya?”

“Nyanyiannya.”

Raganta berhenti.

“Suara saya mengganggu konsentrasi?”

“Ya.”

“Kita belum mulai bekerja.”

“Saya sedang membaca daftar pemohon.”

“Baik.”

Dua menit kemudian, Raganta mulai mengetuk-ngetukkan jari ke meja lipat.

Talika menoleh.

Ia berhenti.

Mobil melaju di jalan utama. Mereka dijadwalkan sampai di kelurahan pukul delapan. Bu Tiswari termasuk salah satu dari dua puluh tiga pemohon yang sudah didaftarkan.

Pukul tujuh lewat dua puluh enam, kendaraan mengeluarkan suara seperti batuk panjang.

Pak Ganitri mengurangi kecepatan.

“Kenapa?” tanya Talika.

“Tidak apa-apa.”

Suara itu muncul lagi.

Kali ini lebih keras.

Lampu indikator suhu langsung menyala.

Pak Ganitri langsung menepikan kendaraan.

Mesin mati sebelum ia sempat mematikan kunci.

Lihat selengkapnya