Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #3

BAB 3 Nomor Antrean untuk Orang Mati

BAB 3

Nomor Antrean untuk Orang Mati

Perempuan itu bernama Lastri.

Ia duduk di hadapan Talika dengan tubuh terlalu tegak, seolah bersandar sedikit saja akan membuatnya kehilangan kendali.

Kartu antrean A-017 masih berada di tangannya.

“Nomor ini diambil suami saya kemarin,” katanya. “Katanya hari ini mau mengurus perubahan alamat anak kami.”

Talika membuka kartu keluarga yang diserahkan.

Nama kepala keluarga: Sumarno.

Nama pasangan: Lastri.

Dua anak tercantum di bawahnya.

“Suami Ibu meninggal jam berapa?”

“Sekitar sebelas malam.”

“Di rumah sakit?”

“Di rumah.”

“Sudah ada surat keterangan kematian?”

Bu Lastri mengeluarkan selembar surat dari puskesmas. Kertasnya terlipat empat dan bagian ujungnya basah oleh keringat.

Talika membacanya.

“Dokumen ini cukup untuk memulai pelaporan. Masih ada formulir lain yang harus dilengkapi.”

“Untuk perubahan alamat anak, prosesnya sebaiknya dilakukan setelah data kematian suami Ibu dicatat. Susunan keluarga akan berubah.”

Bu Lastri menunduk pada kartu keluarga.

“Namanya dihapus?”

Talika terbiasa menjawab pertanyaan itu.

“Nama almarhum tidak lagi tercantum sebagai anggota keluarga aktif setelah pembaruan.”

“Dihapus berarti tidak ada?”

“Di kartu keluarga baru.”

“Yang lama boleh saya simpan?”

“Tentu.”

Bu Lastri menekan ujung kartu keluarga dengan ibu jari.

“Kalau belum diurus sekarang, boleh?”

Talika melihatnya.

“Ada batas pelaporan, tetapi Ibu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini.”

“Kata orang-orang di rumah harus cepat. Takut nanti jadi masalah.”

“Kapan pemakaman?”

“Setelah zuhur.”

Talika melihat jam. Sudah lewat pukul dua.

Bu Lastri tampaknya menangkap kebingungannya.

“Keluarga masih menunggu saudara dari Karawang. Jadi ditunda.”

“Kenapa Ibu datang ke sini?”

“Suami saya sudah ambil nomor.”

Jawaban itu begitu sederhana hingga Talika tidak langsung memahami.

Bu Lastri meletakkan kartu antrean di atas meja.

“Dia bilang jangan sampai nomor ini terbuang. Katanya susah dapat jadwal pelayanan keliling.”

Raganta berdiri beberapa langkah di belakang Talika. Sejak perempuan itu duduk, ia tidak membuat satu pun lelucon.

Talika melihat nomor A-017.

Biasanya nomor itu selesai begitu pemohon meninggalkan meja. Kali ini nomor itu dibawa oleh seseorang yang tidak mungkin menggunakannya.

“Ibu boleh pulang,” kata Talika.

Bu Lastri mengangkat kepala.

“Berkasnya?”

“Saya catat dulu dokumen yang sudah ada. Setelah pemakaman dan ketika Ibu siap, datang ke kantor atau pelayanan berikutnya. Tidak perlu mengambil nomor dari awal. Tunjukkan tanda terima ini.”

Talika mengambil kertas, menulis nomor permohonan, lalu mencantumkan catatan singkat.

Bu Lastri menerima kertas tersebut.

“Tidak apa-apa kalau saya belum siap namanya hilang?”

Lihat selengkapnya