Raganta tidak sempat duduk.
Ayah dan anak perempuan yang baru dibawanya dari sekolah langsung diarahkan ke meja Talika. Map yang mereka bawa berisi surat keterangan dari sekolah lama, salinan kartu keluarga, serta dokumen perpindahan yang sempat hilang dari arsip keluarga.
Talika memeriksa semuanya.
“Ini cukup untuk melanjutkan pembetulan data sekolah,” katanya.
Ayah itu terlihat lega.
“Berarti anak saya bisa daftar?”
“Untuk urusan sekolah, keputusan ada pada pihak sekolah. Dari sisi data kependudukan, dokumen pendukungnya sudah dapat diverifikasi.”
“Terima kasih, Mbak.”
Ia lalu menoleh kepada Raganta.
“Mas ini dari pagi ikut ke mana-mana. Sampai belum makan.”
Talika melihat Raganta.
Laki-laki itu sedang berdiri dekat dispenser, minum langsung dari gelas kertas kecil.
“Dia memang sering lupa,” kata Talika.
Raganta mendengar.
“Saya tidak lupa. Saya menunda.”
“Itu nama lain dari lupa yang disengaja.”
Anak perempuan itu menahan senyum.
Talika menyelesaikan tanda terima, menjelaskan langkah selanjutnya, lalu menyerahkan dokumen kembali. Setelah keduanya pergi, ia memanggil Raganta.
“Pak Wreksa mencari kamu.”
“Saya tahu.”
“Kapan tahu?”
“Saat melihat beliau berdiri di pintu dengan wajah seperti akan memindahkan saya ke unit pemakaman.”
Talika menoleh.
Pak Wreksa berdiri di depan ruangannya.
“Masuk,” katanya.
Raganta merapikan kemeja.
“Kalau saya tidak kembali, tanaman di meja saya untuk Aderani.”
“Tanamanmu plastik,” kata Talika.
“Makanya mudah diwariskan.”
Ia masuk ke ruangan kepala unit.
Pintunya tidak ditutup rapat. Talika dapat mendengar sebagian percakapan tanpa berusaha.
“Kamu meninggalkan kantor sebelum izin disetujui.”
“Waktunya sempit, Pak.”
“Kamu menggunakan kendaraan siapa?”
“Angkutan umum.”
“Biaya?”
“Saya bayar.”
“Kenapa?”
“Kalau menunggu pengajuan transportasi, anaknya keburu lulus sekolah.”
“Jangan bercanda.”
“Baik.”
Suara Pak Wreksa menjadi lebih rendah, tetapi cukup jelas.
“Kamu petugas. Bukan keluarga pribadi semua warga.”
Raganta tidak langsung menjawab.
“Kalau setiap orang kamu bantu sampai keluar kantor, siapa yang mengerjakan tugasmu di sini?”
“Pekerjaan saya sudah saya bagi.”
“Kepada siapa?”
Hening.
Talika melirik dua map tambahan di meja Raganta. Sejak siang, keduanya masih tergeletak di sana.
Pak Wreksa melanjutkan, “Niat baik tidak menghapus tanggung jawab lain. Mulai sekarang, tidak ada kunjungan pribadi, tidak ada nomor pribadi, dan tidak ada janji yang tidak tercatat.”
“Baik.”
“Jangan hanya baik.”
“Saya mengerti.”
“Kembali bekerja.”
Raganta keluar beberapa menit kemudian.
Wajahnya tidak murung. Hanya saja, senyum yang biasanya ada di wajahnya menghilang.
Ia duduk dan membuka map pertama.
Talika mencoba fokus pada berkasnya sendiri.
Lima menit berlalu.
Raganta belum menyentuh makanan.
“Bekalmu,” kata Talika.
“Nanti.”
“Sudah hampir jam empat.”
“Saya selesaikan ini dulu.”
“Kalau jatuh sakit, pekerjaan itu tetap tidak selesai.”