Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #6

BAB 6 Alamat yang Tidak Ingin Ditemukan

Raganta memutus percakapan dengan warga di meja sebelah tanpa menutup map.

Ia tidak langsung mendekat. Setelah memberi isyarat kepada warga yang sedang dibantunya, ia memindahkan kursi kosong agar perempuan di depan Talika tidak terlalu terlihat dari ruang tunggu.

Talika memperhatikan gerakannya.

Tidak ada lelucon.

Tidak ada pertanyaan yang terlalu cepat.

Raganta tidak banyak bertanya. Cara perempuan itu menjawab sudah cukup membuatnya berhati-hati.

Talika menurunkan suaranya.

“Apakah Ibu dan anak sekarang berada di tempat aman?”

Perempuan itu mengangguk.

“Di rumah kakak.”

“Suami mengetahui rumah kakak Ibu?”

“Dia tahu daerahnya. Bukan rumah yang sekarang.”

“Apakah pernah melapor?”

Perempuan itu menoleh ke anaknya.

“Belum.”

“Apakah ada ancaman melalui telepon atau pesan?”

“Ada.”

“Disimpan?”

“Sebagian.”

Talika mengambil selembar kertas kosong, bukan formulir pelayanan biasa.

“Nama Ibu tidak akan saya panggil dari pengeras suara. Kita lanjutkan pembicaraan di ruang konsultasi.”

Perempuan itu terlihat ragu.

“Anak saya ikut?”

“Tentu.”

Raganta membuka pintu ruang kecil di belakang meja pelayanan. Ia menurunkan tirai kaca dan menyalakan kipas.

Ruangan itu biasanya digunakan untuk membahas data sensitif atau kasus yang membutuhkan penjelasan panjang. Hanya ada satu meja, empat kursi, dan lemari besi.

Talika membawa dokumen masuk.

Raganta berdiri di pintu.

“Perlu saya ikut?”

Talika menoleh kepada perempuan itu.

“Apakah Ibu nyaman jika petugas laki-laki berada di dalam?”

Perempuan itu memperhatikan Raganta beberapa detik, lalu mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

Raganta masuk dan menutup pintu.

Talika menjelaskan bahwa perubahan alamat tetap bisa diproses, tetapi mereka perlu memastikan alasan perpindahan dan siapa saja yang tinggal bersama Ibu. Ia tidak meminta perempuan itu kembali ke alamat lama. Ia juga tidak menyuruhnya membawa tanda tangan suami sebelum memeriksa jalur lain yang sah.

“Kami perlu surat pernyataan tempat tinggal dari kakak Ibu, identitas pemilik rumah, dan dokumen anak. Kalau Ibu ingin memisahkan data keluarga, ada prosedur lain yang harus kami cek sesuai kondisi Ibu.”

“Suami saya harus datang?”

“Belum tentu.”

“Kalau petugas menghubungi dia?”

“Kami tidak akan melakukannya tanpa membicarakan risikonya lebih dahulu.”

Talika sempat diam mendengar kalimatnya sendiri.

Dulu ia mungkin akan membuka daftar persyaratan lebih dulu. Sekarang yang pertama ia pikirkan justru keselamatan perempuan itu.

Raganta duduk agak jauh dari anak. Ia mengambil kertas lain dan menggambar kotak-kotak kecil untuk mengalihkan perhatian bocah itu dari pembicaraan orang dewasa.

Talika melanjutkan, “Saya juga menyarankan Ibu menghubungi layanan pendampingan perempuan. Bukan untuk memaksa melapor, tetapi supaya Ibu tahu pilihan perlindungan yang tersedia.”

Perempuan itu menunduk.

“Saya takut nanti semuanya jadi besar.”

“Ibu sampai pergi dari rumah. Berarti memang sudah nggak aman.”

Talika mengucapkannya tanpa nada menghakimi.

Lihat selengkapnya