Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #7

BAB 7 Makan Siang Tanpa Undangan

Raganta benar-benar hanya mengantar.

Setidaknya itu yang terus Talika ingatkan pada dirinya sendiri selama perjalanan pulang.

Hujan membuat jalanan nyaris tidak terlihat. Air memukul kaca helm, kendaraan bergerak lambat, dan genangan muncul di hampir setiap persimpangan.

Talika duduk kaku di belakang Raganta sambil memegang besi pegangan motor, bukan pinggang laki-laki itu.

Dua kali motor melewati lubang.

Dua kali pula tubuh Talika terdorong ke depan.

“Pegang yang kuat,” teriak Raganta, mengalahkan suara hujan.

“Saya sudah.”

“Yang ini cukup.”

“Memang saya pegang yang ini.”

“Kalau jatuh, jangan salahin saya.”

“Yang bawa siapa?”

Raganta tertawa. Suaranya hampir hilang ditelan hujan.

Setelah motor kembali stabil, Raganta berkata, “Alamat rumahmu saya masih ingat.”

“Kenapa?”

“Waktu mengantar dokumen Nenek.”

Talika tidak bertanya lebih jauh.

Mereka sampai di depan rumah Talika hampir pukul delapan malam. Rumah itu berdiri di ujung gang sempit, dikelilingi pagar rendah dan beberapa pot tanaman berjajar di teras.

Lampu teras menyala.

Sebelum Talika sempat membuka pagar, pintu rumah sudah terbuka.

Neneknya berdiri di sana dengan daster bermotif bunga dan handuk kecil tersampir di bahu.

“Kalian kehujanan?”

Talika melepas helm.

“Sedikit.”

Raganta turun dari motor. Air mengalir dari jas hujannya sampai membentuk genangan kecil di dekat ban.

Nenek memandangnya dari kepala sampai kaki.

“Ini laki-laki yang banyak bicara?”

Talika menutup mata sebentar.

Raganta menyerahkan helm kepada Talika, lalu merapikan rambutnya yang basah.

“Saya sebenarnya nggak banyak bicara, Nek.”

“Masa?”

“Nek, dia cuma mengantar.”

“Masuk saja. Nggak usah mikir merepotkan.”

Raganta melirik Talika.

“Saya tidak mau—”

“Minum dulu.”

Raganta akhirnya mengangguk.

Mereka masuk.

Raganta melepaskan jas hujan di teras, lalu duduk di ruang tamu dengan posisi terlalu tegak. Talika pergi mengambil handuk dan menyerahkannya tanpa bicara.

“Terima kasih.”

“Setelah rambut Anda tidak menetes ke sofa, Anda pulang.”

“Nenek kamu belum tentu setuju.”

“Ini rumah saya juga.”

“Dari tadi Nenek yang nyuruh-nyuruh.”

Talika hendak membalas, tetapi Nenek muncul membawa dua cangkir teh.

“Minum.”

Raganta menerima cangkirnya dengan kedua tangan.

“Terima kasih, Nek.”

Nenek duduk di kursi seberang.

“Kamu kerja satu kantor sama Talika?”

“Iya.”

“Satu bagian?”

“Sekarang satu tim.”

Nenek mengangguk.

“Waduh.”

Talika menoleh.

“Kenapa?”

“Kalian berdua.”

Raganta menunduk untuk menyembunyikan senyum.

Nenek bertanya tentang pelayanan keliling, mobil yang rusak, dan alasan mereka pulang terlambat.

Raganta menjawab dengan santai, tetapi tidak menceritakan kasus perempuan yang sedang mencari alamat aman.

Talika menyadari itu.

Ia sempat khawatir Raganta akan mengubah semua kejadian hari ini menjadi cerita makan malam. Ternyata laki-laki itu tahu mana yang bisa diceritakan dan mana yang harus tinggal di kantor.

“Sudah makan?” tanya Nenek.

“Belum,” jawab Raganta.

Talika langsung menoleh.

“Anda tadi bilang akan pulang.”

“Saya memang akan pulang.”

“Bukan berarti harus bilang belum makan.”

“Nenek bertanya.”

Nenek berdiri.

“Sayur asem masih banyak.”

“Nek, dia tidak makan di sini.”

“Kenapa?”

“Karena tidak diundang.”

Raganta mengangkat satu tangan.

“Ya sudah.”

Talika menoleh kepadanya.

Nenek justru tertawa.

“Besok siang datang lagi. Sekarang sudah malam, nanti keluargamu mencari.”

Raganta tampak sedikit terkejut.

“Saya tidak perlu—”

“Jam dua belas.”

“Nek,” kata Talika.

“Kenapa?”

“Dia bekerja.”

“Besok Sabtu. Kantornya setengah hari.”

Raganta melirik Talika.

“Kamu memberi tahu jadwal saya juga?”

“Saya tidak pernah membicarakan jadwal Anda.”

Lihat selengkapnya