Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #8

BAB 8 Batas antara Tugas dan Manusia

BAB 8

Batas antara Tugas dan Manusia

Raganta tidak jadi pulang selama delapan menit berikutnya.

Mereka berdiri di depan pagar. Talika di dalam, Raganta di luar, dengan sekantong jeruk tertinggal di meja makan dan percakapan yang semakin jauh dari suasana makan siang.

“Dokumen milik Pak Wardi ada di sekolah lama anaknya,” kata Raganta. “Pihak sekolah bersedia mengirim salinan resmi, tetapi ongkosnya harus ditanggung pemohon.”

“Berapa?”

“Tidak banyak.”

“Saya tidak bertanya apakah banyak.”

“Empat puluh lima ribu.”

“Dan Anda langsung bilang akan membayar?”

“Pak Wardi sedang tidak punya uang.”

“Itu menurut siapa?”

Raganta mengerutkan dahi.

“Memeriksa apa? Saldo rekeningnya?”

“Keadaan sebenarnya. Pilihan lain. Apakah ada keluarga yang bisa membantu. Apakah dokumen dapat dikirim melalui jalur antarlembaga.”

“Kalau semua itu dilakukan, pendaftaran anaknya keburu tutup.”

“Lalu setiap kali ada warga kesulitan membayar biaya tidak langsung, Anda akan menggunakan uang sendiri?”

“Tidak setiap kali.”

“Bagaimana Anda memilih?”

Raganta diam sebentar.

“Yang terlihat membutuhkan.”

“Terlihat menurut Anda.”

“Talika, saya cuma membayar ongkos kirim.”

“Masalahnya bukan empat puluh lima ribu.”

“Sejak tadi kamu bilang begitu.”

“Karena Anda terus menjawab seolah yang saya persoalkan jumlahnya.”

Raganta melihat ke arah rumah. Nenek berdiri di balik tirai, jelas sedang memperhatikan meskipun berpura-pura memeriksa tanaman.

Talika membuka pagar dan melangkah keluar, lalu menutupnya kembali.

“Kita bicara di kantor besok,” katanya. “Jangan lakukan pembayaran sebelum kita periksa jalur resminya.”

“Dokumennya harus dikirim hari ini.”

“Sekolah bisa menunggu sampai besok.”

“Pendaftaran ditutup Senin.”

“Besok Sabtu.”

“Bagian arsip sekolah hanya buka pagi. Kalau tidak dibayar sekarang, belum tentu dikirim.”

Talika mengembuskan napas.

Raganta mengeluarkan telepon.

“Saya sudah meminta nomor rekening sekolah. Bukan rekening pribadi.”

“Itu tidak membuatnya menjadi prosedur kantor.”

“Tidak semua bantuan harus menjadi prosedur.”

“Kalau dilakukan oleh petugas kepada pemohon, ada akibatnya.”

“Akibat apa? Anaknya bisa mendaftar sekolah?”

“Warga itu akan menganggap petugas lain juga harus membantu dengan cara yang sama.”

“Kalau petugas lain tidak bisa, ya tidak.”

“Lalu dia menganggap petugas lain tidak peduli.”

Raganta memandangnya cukup lama.

“Kamu takut orang berharap terlalu banyak.”

“Saya takut Anda membuat janji yang suatu hari tidak bisa Anda penuhi.”

“Itu risiko saya.”

“Tidak. Kalau Anda melakukannya sebagai petugas, risikonya juga dibawa kantor.”

Talika sadar suaranya mulai naik. Ia segera menurunkannya sebelum Nenek keluar membawa kursi dan ikut berdebat.

Raganta menyandarkan satu tangan pada motornya.

“Kalau kita punya jalur bantuan yang cepat, saya akan pakai. Tapi kita tidak punya.”

“Berarti kita usulkan.”

“Dokumennya dibutuhkan sekarang.”

“Semua keadaan mendesak tidak bisa diselesaikan dengan dompet Anda.”

“Yang satu ini bisa.”

Talika tidak tahu apakah ingin mengguncang laki-laki itu atau membiarkannya pergi.

Pada akhirnya, Raganta tetap membayar ongkos pengiriman.

Talika tetap tidak menyetujuinya.

Mereka berpisah dengan ucapan yang sangat singkat.

“Hati-hati.”

“Iya.”

Bukan pertengkaran besar.

Lihat selengkapnya