Talika baru sadar teh di mejanya bukan pesanannya setelah minum setengah gelas.
Gelas kertas itu sudah berada di sebelah papan ketik ketika ia menemukannya. Hangat, tanpa es, hampir tidak manis, dan tidak memakai potongan jeruk yang biasanya membuat minuman di kantin terasa seperti obat batuk.
Ia menoleh ke meja Raganta.
Kosong.
Tas laki-laki itu ada di kursi, tetapi pemiliknya tidak terlihat. Tanda pengenalnya tergantung di sandaran, terbalik seperti biasa.
Talika memeriksa pesan di telepon.
Tidak ada pemberitahuan pembayaran. Tidak ada pesan dari kantin. Bahkan aplikasi pesan antar yang biasa ia gunakan belum dibuka sejak pagi.
“Cari siapa?”
Talika mengangkat kepala.
Operator data di meja seberang sedang menatapnya sambil menyusun formulir.
“Tidak mencari siapa-siapa.”
“Dari tadi lihat meja Raganta.”
“Saya melihat tanda pengenalnya.”
“Kenapa?”
“Terbalik.”
“Memang selalu begitu.”
“Nah, itu.”
Operator itu mengangguk, lalu kembali menyusun formulir.
Talika menatap gelas di tangannya.
Kemarin Raganta membelikannya teh dengan rasa yang hampir tepat. Hari ini rasanya pas.
Talika menghela napas kecil. Raganta ternyata cepat sekali hafal kebiasaannya.
Yang lebih mengganggu, tehnya tetap ia habiskan.
Raganta muncul beberapa menit kemudian dari pintu depan. Di tangan kirinya ada map, sedangkan tangan kanannya menggandeng seorang anak perempuan yang tampak kebingungan.
“Anaknya terpisah dari ibunya di ruang tunggu,” jelasnya sebelum Talika bertanya.
Anak itu memakai seragam taman kanak-kanak dan membawa tas bergambar kelinci. Matanya basah, tetapi tidak menangis.
“Namanya siapa?” tanya Talika.
Anak itu bergeser sedikit ke belakang kaki Raganta.
“Belum mau bilang,” jawab Raganta.
“Kamu sudah tanya petugas keamanan?”
“Sudah. Ibunya sedang dicari.”
Raganta membawa anak itu ke kursi dekat meja operator. Ia memberikan selembar kertas dan pensil, lalu menggambar kucing seadanya.
Anak itu memperhatikan gambarnya.
“Ini kambing?” tanyanya.
Operator data menutup mulut agar tidak tertawa.
Raganta melihat kertas itu.
“Kucing.”
“Kok tanduknya empat?”
“Itu kumis.”
“Kumisnya di kepala?”
Talika menunduk, tapi senyumnya telanjur muncul.
Raganta sempat melirik ke arahnya.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya membalik kertas dan mencoba menggambar lagi.
Talika kembali ke layar. Ia baru mengetik dua baris ketika Raganta berdiri di samping mejanya.
“Tehnya sudah diminum?”
Talika tidak menoleh.
“Jadi ini dari Anda.”
“Bukan. Hadiah dari negara.”
“Saya serius.”
“Saya juga. Cuma belum ada program begitu.”
Talika memegang gelasnya.
“Kenapa Anda beli?”
“Tadi saya mau kopi.”
“Minuman Anda kopi.”
Raganta melihat gelas kopi di tangannya.
“Sekarang saya pilih yang itu.”
“Anda membeli dua minuman yang berbeda karena berubah pikiran?”
“Ya.”
Talika memicingkan mata.
Raganta akhirnya mengalah.
“Kemarin kamu belum sempat menghabiskan teh. Jadi saya belikan lagi.”
“Tidak perlu.”
“Sudah telanjur.”
“Besok jangan.”
“Iya.”
Jawabannya terlalu cepat.
Raganta kembali menemani anak yang tersesat sampai ibunya datang sambil menangis dan meminta maaf berkali-kali. Setelah mereka pergi, ia mengambil tanda pengenal dari kursi lalu memasangnya.
Tetap terbalik.
Talika berdiri dan menghampiri Raganta. Ia membalik kartu itu tanpa berkata apa-apa.
Raganta menunduk melihat kartu itu.
“Oh.”
“Setiap hari.”