Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #10

BAB 10 Nama yang Benar, Orang yang Salah

Anak laki-laki itu bernama Abrisam.

Ia duduk dengan kedua kaki menggantung karena kursinya terlalu tinggi. Buku sekolah diletakkan di pangkuan dan dipeluk seperti benda yang bisa melindunginya dari pertanyaan orang dewasa.

Perempuan di sampingnya memperkenalkan diri sebagai nenek dari pihak ibu.

“Panggil saya Bu Ratri saja,” katanya.

Talika memeriksa dokumen sekali lagi sebelum berbicara.

“Ibu datang untuk memperbaiki data ayah Abrisam?”

Bu Ratri mengangguk.

“Sekolah meminta semua dokumen disamakan. Di akta lahir nama ayah kandungnya. Di kartu keluarga nama suami ibunya.”

“Kenapa bisa berubah?”

Bu Ratri mengusap ujung kerudung.

“Waktu anak saya menikah lagi, suaminya yang baru mengurus kartu keluarga. Katanya supaya lebih mudah karena Abrisam tinggal bersama mereka.”

“Apakah ada proses pengangkatan anak?”

“Tidak.”

“Penetapan pengadilan?”

“Tidak ada.”

“Persetujuan ayah kandung?”

Bu Ratri menggeleng.

Talika menahan napas.

Satu perubahan data yang dibuat bertahun-tahun lalu membuat tiga orang dewasa dan seorang anak duduk di meja pelayanan.

“Ayah kandungnya sekarang mengajukan keberatan?” tanya Talika.

“Iya.”

“Di mana dia?”

“Di luar kota.”

“Ibu Abrisam?”

Bu Ratri terlihat enggan menjawab.

“Bekerja.”

“Bisa dihubungi?”

“Bisa, tapi dia tidak mau bicara dengan ayah kandung Abrisam.”

“Saya tidak menanyakan itu. Ibu Abrisam masih bisa dihubungi?”

Bu Ratri menunduk.

“Anak saya juga tidak mau data itu diubah.”

Talika berhenti menulis.

“Kenapa?”

“Katanya suaminya sekarang yang membesarkan Abrisam.”

Raganta yang duduk di ujung meja tidak menyela. Tangannya bergerak pelan menutup map agar bagian dokumen keluarga tidak terlihat oleh warga lain.

Talika kembali memperhatikan Abrisam.

Anak itu memandang lantai.

“Apakah Abrisam tahu kenapa datang ke sini?” tanyanya.

Bu Ratri menjawab lebih dahulu.

“Dia tahu ada nama yang salah.”

Talika tetap menunggu jawaban dari anak tersebut.

“Abrisam, kamu tahu nama siapa yang dianggap salah?”

Anak itu mengangguk kecil.

“Nama Ayah.”

“Ayah yang mana?”

Bu Ratri langsung menegang.

Raganta menggeser duduknya sedikit.

Abrisam mengangkat kepala.

“Dua-duanya.”

Talika terdiam.

“Yang satu ayah kandung saya,” lanjut anak itu. “Yang satu ayah yang tinggal sama saya dulu.”

“Sekarang tidak tinggal bersama?”

Anak itu menggeleng.

“Ibu sama Ayah pindah. Saya tinggal sama Nenek dulu.”

“Kenapa?”

“Agar dekat sekolah.”

Bu Ratri segera menambahkan, “Cuma sementara.”

Abrisam tidak mengiyakan.

Talika merasa masih ada yang tidak disampaikan. Ia memilih tidak menggali lebih jauh.

“Nama di kartu keluarga harus sesuai dasar hukum yang ada,” katanya. “Kalau tidak ada pengangkatan anak atau penetapan lain, nama ayah pada data keluarga tidak bisa diganti begitu saja.”

Bu Ratri tampak lega.

“Jadi tinggal dibalikin?”

“Nggak segampang itu.”

Wajah perempuan itu turun lagi.

Talika menjelaskan bahwa perubahan data membutuhkan dokumen pendukung dan keterlibatan pihak yang datanya berkaitan langsung. Mereka perlu memeriksa arsip perubahan kartu keluarga sebelumnya dan dasar yang digunakan saat data hubungan keluarganya diubah. Pernyataan dari ibu Abrisam juga diperlukan.

Bu Ratri menyimak, tetapi kecemasannya semakin terlihat.

“Apa harus mempertemukan mereka?”

“Tidak selalu secara langsung. Tapi pernyataan mereka tetap diperlukan.”

“Kalau ibunya tidak mau?”

“Kita tidak bisa mengubah data hubungan orang tua hanya berdasarkan permintaan salah satu pihak.”

“Ayah kandungnya mengancam akan melapor.”

“Dia berhak meminta koreksi kalau datanya memang tidak sesuai.”

“Anak saya juga merasa suaminya yang sekarang adalah ayah Abrisam.”

Talika mengangguk.

“Perasaan itu ada, Bu. Tapi data di dokumen tetap harus ada dasarnya.”

Bu Ratri terdiam.

Abrisam memeluk bukunya lebih erat.

Raganta akhirnya bicara.

“Bu, kami bukan mau menentukan Abrisam harus menganggap siapa sebagai ayah.”

Perempuan itu memandangnya.

“Kami cuma perlu membereskan data yang dasarnya belum jelas. Kalau datanya dikoreksi, bukan berarti orang yang membesarkan Abrisam jadi bukan ayahnya lagi.”

Abrisam mengangkat kepala.

Lihat selengkapnya