Talika menemukan nama neneknya tertulis berbeda pada hari Selasa, pukul delapan lewat dua puluh tiga menit.
Ia sedang memeriksa daftar anggota keluarga untuk memastikan kartu keluarga mereka belum perlu diperbarui ketika matanya berhenti pada satu nama.
LASMIRA JAYANTI.
Talika membaca sekali lagi.
Nama Nenek memang Lasmira Jayanti. Tidak ada yang aneh.
Ia membuka salinan kartu identitas yang tersimpan dalam folder keluarga.
LASMIRAH JAYANTI.
Talika mengernyit.
Ia lalu mencari kartu jaminan kesehatan yang pernah dipindai tahun lalu.
LASMYRA JAYANTI.
Tangannya berhenti di atas mouse komputer.
Tiga dokumen itu memakai tiga ejaan berbeda untuk orang yang sama.
Talika meraih telepon dari tas dan menelepon rumah.
Panggilan baru tersambung setelah cukup lama.
“Halo?”
“Nek.”
“Kenapa pagi-pagi telepon?”
“Nama Nenek sebenarnya yang mana?”
Beberapa detik hening.
“Talika, kamu menelepon orang tua sebelum jam sembilan cuma untuk bertanya namanya?”
“Di kartu keluarga tertulis Lasmira. Di kartu identitas Lasmirah. Di kartu kesehatan Lasmyra.”
“Oh.”
“Oh bagaimana?”
“Berarti keren. Nenek punya banyak nama.”
“Ini bukan keren.”
“Kenapa? Orang kaya biasanya punya gelar panjang.”
“Nenek bukan orang kaya.”
“Makanya cuma dapat tiga ejaan.”
Talika memejamkan mata.
“Nek, akta kelahiran Nenek masih ada?”
“Apa?”
“Akta kelahiran.”
“Nenek lahir sebelum orang-orang sibuk mencetak semua hal.”
“Surat akte lahir?”
“Tidak tahu.”
“Ijazah?”
“Kamu tahu Nenek berhenti sekolah kelas tiga.”
“Buku nikah?”
“Di lemari.”
“Namanya pakai yang mana?”
“Kalau Nenek tahu, kamu tidak perlu telepon.”
Talika menarik napas.
“Jangan keluar rumah dulu. Nanti sore saya periksa semua dokumennya.”
“Nenek mau ke pasar.”
“Besok saja.”
“Kenapa nama salah membuat Nenek tidak boleh beli cabai?”
“Bukan begitu.”
“Cabai di rumah tinggal tiga.”
“Tiga cukup.”
“Untuk orang yang makannya tidak pakai sambal mungkin cukup.”
“Nek—”
Panggilan terputus.
Talika menatap layar.
Raganta akhirnya bertanya, “Nenek memutus telepon?”
“Baterainya mungkin habis.”
“Pas banget putusnya.”
Talika memasukkan telepon ke tas.
“Jangan ikut campur.”
“Saya cuma bertanya.”
“Anda mendengarkan pembicaraan pribadi.”
“Kamu bicara cukup keras.”
Talika membuka kembali data keluarga.
Perbedaan ejaan seperti itu bisa terjadi pada dokumen lama. Dokumen dibuat di waktu dan tempat berbeda, dengan cara penulisan yang tidak selalu sama. Ada nama yang ditulis mengikuti pengucapan. Ada petugas yang menambahkan huruf agar terlihat lebih baku. Ada juga orang yang tidak pernah memeriksa karena selama puluhan tahun tidak perlu memakai semua dokumen sekaligus.
Setelah melihat tiga dokumen itu, Talika tidak bisa lagi menganggapnya sepele.
Raganta berdiri di sisi mejanya.
“Mana yang benar?”
“Lasmira, menurut kartu keluarga.”
“Menurut Nenek?”
“Belum tahu.”
“Bukankah itu yang paling penting?”
“Yang penting adalah dokumen awalnya.”
“Nama itu milik beliau.”
“Sistem tetap butuh dasar.”
Raganta melihat tiga ejaan di layar.
“Bisa jadi nama awalnya Lasmirah, lalu huruf h hilang.”
“Atau orang menambahkannya.”
“Lasmyra?”
“Mungkin dulu salah tulis.”
“Petugasnya kreatif.”
“Petugas tidak dibayar untuk kreatif.”
Raganta mengangguk.
“Pantas saja.”
Talika menutup jendela data.