Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #12

BAB 12 Hari Ketika Nenek Tidak Mengomel

Talika terbangun karena rumah terlalu sunyi.

Tidak ada suara panci dari dapur.

Tidak ada pintu lemari yang dibuka terlalu keras.

Tidak ada radio pagi yang volumenya dinaikkan sampai penyiar terdengar seperti sedang berbicara dari dalam kamar.

Jam menunjukkan pukul lima lewat empat puluh tujuh menit.

Biasanya pada waktu itu Nenek sudah menyapu teras sambil mengeluhkan daun dari pohon tetangga yang selalu memilih jatuh ke halaman mereka.

Talika bangkit dan membuka pintu kamar.

Lampu dapur belum menyala.

“Nek?”

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan menuju kamar Nenek. Pintunya setengah terbuka.

Nenek masih berbaring membelakangi pintu.

Talika mengetuk pelan.

“Nek.”

Selimut bergerak sedikit.

“Apa?”

Suaranya serak.

Talika masuk.

“Nenek belum bangun?”

“Sudah.”

“Ini masih tidur.”

“Mata Nenek saja yang belum mau bangun.”

Talika menyentuh dahinya.

Hangat.

“Demam.”

“Cuma badan malas.”

“Nenek batuk?”

“Tidak.”

Nenek langsung batuk dua kali setelah mengatakan itu.

Talika menarik selimutnya turun sedikit.

“Kita ke klinik.”

“Tidak usah.”

“Dahinya panas.”

“Orang hidup memang hangat.”

“Nenek selalu bilang begitu setiap sakit.”

“Karena benar.”

Talika mengambil termometer dari kotak obat. Nenek protes saat alat itu diselipkan di ketiaknya, tetapi tidak benar-benar melawan.

Suhu tubuhnya 38,2 derajat.

“Kita ke dokter.”

“Minum obat saja.”

“Obat apa?”

“Yang biasa.”

“Tidak ada obat yang disebut ‘yang biasa’.”

“Paracetamol.”

“Nenek batuk dan demam.”

“Sekarang kamu jadi dokter?”

“Sejak Nenek nggak mau ke dokter.”

Talika mengambil telepon untuk memesan kendaraan.

Nenek segera duduk, kemudian meringis kecil.

Talika langsung memperhatikannya.

“Pusing?”

“Bangun terlalu cepat.”

“Berarti jangan berdiri.”

“Nenek mau mandi.”

“Tidak.”

“Masa ke dokter belum mandi?”

“Bisa.”

“Memalukan.”

“Kalau sampai jatuh di kamar mandi gimana?”

Nenek menatapnya.

“Cara bicaramu semakin mirip petugas loket.”

“Saya memang petugas loket.”

“Di rumah jangan.”

Talika membantunya duduk di tepi tempat tidur. Gerakan Nenek lebih lambat dari biasanya. Tidak ada keluhan panjang, tidak ada perdebatan soal pakaian, bahkan tidak ada komentar ketika Talika memilihkan kardigan yang warnanya tidak cocok dengan kerudung.

Justru itu yang membuat Talika makin waswas.

Biasanya Nenek sudah mengomel tentang teh, pot tanaman, tetangga yang membakar sampah, atau Talika yang terlalu kurus dan terlalu banyak bekerja.

Pagi itu, Nenek hanya mengikuti.

Klinik belum ramai.

Dokter memeriksa tenggorokan, pernapasan, tekanan darah, dan kadar oksigen. Ia mengatakan kemungkinan besar infeksi saluran pernapasan ringan, tetapi meminta Nenek banyak beristirahat dan kembali bila demam tidak turun atau muncul sesak.

“Tidak perlu dirawat?” tanya Talika.

“Belum ada indikasi.”

“Perlu pemeriksaan darah?”

“Kalau dalam dua hari tidak membaik, kita pertimbangkan.”

Nenek duduk di sampingnya dengan tangan terlipat.

“Saya bilang cuma demam.”

Dokter tersenyum.

“Ibu tetap harus minum obat dan cukup cairan.”

“Saya minum.”

Talika menoleh.

“Dua gelas sehari bukan cukup.”

“Kalau kebanyakan, bolak-balik kamar mandi.”

“Ya lebih baik sering ke kamar mandi.”

Dokter melihat mereka bergantian.

“Anaknya tinggal bersama Ibu?”

“Cucu,” jawab Nenek.

“Dia lebih cerewet daripada anak.”

Lihat selengkapnya