Pak Ganitri tidak bertanya kenapa Raganta mengambil kunci kendaraan.
Ia hanya melihat wajah Talika, lalu menyerahkan kartu parkir.
“Jangan paksa mobilnya kalau indikator panas naik.”
Raganta mengangguk.
Talika sudah lebih dulu duduk di kursi penumpang.
Tangannya gemetar ketika mencoba memasang sabuk pengaman. Pengaitnya luput dua kali sebelum akhirnya terkunci.
“Alamatnya saya tahu,” kata Raganta sambil menyalakan mesin.
“Lewat jalan utama.”
“Jam segini macet.”
“Jangan lewat gang belakang. Ada perbaikan saluran.”
Raganta tidak membantah.
Mobil keluar dari halaman kantor lebih cepat dari biasanya. Raganta tetap menjaga jarak, memberi sein saat berpindah jalur, dan tidak melontarkan satu pun komentar tentang kendaraan yang kembali dipaksa bekerja.
Talika menelepon Bu Mardiani.
“Nenek masih sadar?”
“Masih. Saya bantu naik ke tempat tidur.”
“Bisa bicara?”
“Sedikit.”
“Ambulans sudah dipanggil?”
“Saya tadi mau telepon, tapi dia marah.”
“Bu, telepon saja sekarang.”
“Dia bilang tidak mau dibawa ke rumah sakit.”
“Jangan dengarkan.”
Dari ujung telepon, suara Nenek terdengar samar.
“Talika?”
Talika langsung menegakkan tubuh.
“Nek.”
“Jangan bikin tetangga panik.”
“Kenapa Nenek jatuh?”
“Karpetnya pindah.”
“Karpet tidak bisa pindah sendiri.”
“Berarti lantainya.”
Suara itu lemah, tetapi nada mengomelnya masih ada.
Talika menggenggam telepon lebih erat.
“Kita ke rumah sakit.”
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
“Nenek cuma bangun terlalu cepat.”
“Dokter bilang kalau memburuk harus diperiksa lagi.”
“Dokternya masih muda.”
“Apa hubungannya?”
“Belum banyak pengalaman menghadapi orang tua keras kepala.”
“Yang keras kepala Nenek.”
“Makanya Nenek lebih tahu.”
Talika menutup mata.
Raganta tidak menoleh. Kedua tangannya tetap di setir. Ia menambah kecepatan sedikit saat jalan di depannya terbuka.
“Nek, jangan berdiri lagi. Tunggu saya.”
“Kamu kerja saja.”
“Saya sudah di jalan.”
“Kenapa pulang?”
“Karena Nenek jatuh.”
“Nenek tidak minta.”
“Saya cucu Nenek. Masa harus nunggu diminta?”
Ada hening singkat.
Lalu suara Nenek terdengar lebih lunak.
“Jangan marah.”
Talika menatap jalan di depan.
“Saya tidak marah.”
“Suaramu begitu.”
“Saya takut.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Talika jarang mengatakan dirinya takut. Biasanya ia lebih mudah menyebut sesuatu sebagai risiko, kemungkinan, atau masalah yang perlu ditangani.
Di ujung telepon, Nenek tidak menjawab beberapa saat.
“Pulanglah,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Jangan ngebut.”
Talika menoleh kepada Raganta.
Laki-laki itu tetap melihat jalan.
“Kami tidak ngebut.”
“Si banyak bicara yang mengemudi?”
“Iya.”
“Bilang jangan rusakkan mobil negara.”
Raganta mendengar itu.
“Iya, Nek,” sahutnya cukup keras.
“Jangan ikut bicara. Fokus jalan.”
Sejak keluar dari kantor, baru sekarang Raganta tersenyum tipis.
Talika tidak.
Setidaknya Nenek masih bisa mengomel. Entah kenapa, Talika merasa sedikit lega mendengarnya.
Ambulans tiba hampir bersamaan dengan kendaraan pelayanan.
Bu Mardiani berdiri di depan rumah sambil melambaikan tangan. Talika turun dari kendaraan dan bahkan tidak sempat menutup pintunya dengan benar. Ia langsung berlari masuk dan menemukan Nenek berbaring di kamar, ditemani dua petugas medis.
Selimutnya tersingkap sampai lutut. Salah satu petugas memasang alat pengukur tekanan darah. Petugas lain memeriksa kadar oksigen.
Nenek melihat Talika dan mengerutkan kening.
“Kamu bawa kantor pulang?”
Talika berhenti di dekat tempat tidur.
“Apa?”
Nenek menunjuk ke belakang.
Raganta berdiri di pintu kamar, masih mengenakan tanda pengenal dan kemeja dinas. Kartu namanya terbalik lagi.
“Dia yang mengantar.”
“Motor rusak?”
“Kami pakai mobil pelayanan.”
Nenek mendecakkan lidah.
“Memangnya Nenek warga satu kelurahan?”
Petugas medis yang sedang memeriksa tekanan darah menahan senyum.
Talika duduk di tepi tempat tidur.
“Bagaimana, Pak?”
“Tekanan darahnya turun, demamnya juga masih ada. Sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan.”
Nenek langsung menyahut, “Tidak mau.”
“Bukan pilihan.”
“Tubuh Nenek.”
“Kalau Nenek pingsan lagi, saya yang mengurus.”
“Memang kamu cucunya.”
“Makanya saya ikut.”
Nenek menoleh kepada Raganta.
“Kamu bilang sama dia jangan suka memerintah orang tua.”
Raganta menyentuh tanda pengenalnya, lalu membaliknya agar benar.