Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #14

BAB 14 Satu Nama Dihapus

Nenek meminta pulang pada hari kedua.

Dokter menolak.

Nenek meminta lagi pada hari ketiga.

Perawat pura-pura tidak mendengar.

Pada hari keempat, demamnya turun, tetapi napasnya menjadi lebih pendek. Dokter menambah bantuan oksigen dan mengatakan infeksinya belum memberikan respons seperti yang diharapkan.

Talika mendengar penjelasan itu sambil berdiri di lorong.

“Bukannya demam turun berarti membaik?” tanyanya.

“Bisa menjadi tanda terapi bekerja, tapi kita perlu melihat kondisi keseluruhan. Pada pasien lanjut usia, respons tubuh tidak selalu sama.”

“Tekanan darahnya?”

“Masih naik-turun.”

“Kadar oksigen?”

“Dengan bantuan masih cukup.”

“Tanpa bantuan?”

Dokter tidak langsung menjawab.

Talika memahami jawabannya dari jeda itu.

Ia kembali ke kamar dengan langkah pelan.

Raganta sedang menyuapi Nenek bubur.

Atau lebih tepatnya, sedang berusaha menyuapinya.

“Sedikit lagi,” katanya.

“Rasanya seperti kertas basah,” keluh Nenek.

“Saya belum pernah makan kertas, Nek.”

“Makanya jangan menyuruh orang makan.”

“Satu sendok.”

“Setengah.”

“Setengah?”

“Kalau begitu tidak usah.”

Talika berdiri di dekat pintu.

Pemandangan itu seharusnya membuatnya tersenyum.

Yang ia rasakan justru takut.

Nenek melihatnya.

“Dokternya bilang apa?”

“Masih dipantau.”

“Bukan jawaban.”

Talika mendekat.

“Infeksinya belum membaik banyak.”

Nenek mengangguk, seperti mendengar kabar tentang hujan yang belum berhenti.

“Terus?”

“Mungkin perawatannya lebih lama.”

“Rumah tidak ada yang sapu.”

“Bu Mardiani membantu.”

“Dia menyapu asal lewat.”

“Tidak apa-apa.”

“Tanaman?”

“Saya siram.”

“Yang dekat pagar jangan kebanyakan.”

“Iya.”

“Kucing sudah makan?”

“Sudah.”

“Dia tidak suka makanan rasa ikan laut.”

“Dia kucing.”

“Memangnya kucing tidak boleh pilih-pilih?”

Raganta meletakkan mangkuk bubur.

“Nenek sepertinya sudah punya daftar untuk semuanya.”

“Kalau tidak dicatat, dua orang ini lupa.”

Talika duduk di sisi ranjang.

“Nenek yang harus makan.”

“Tidak lapar.”

“Sedikit.”

“Mulut pahit.”

“Kita cari makanan lain.”

“Tidak usah.”

Nenek memejamkan mata.

Talika menggenggam tangannya.

Kulit itu terasa lebih dingin daripada hari sebelumnya.

• • •

Malamnya, Raganta pulang karena Talika memaksa.

Ia sudah empat hari bolak-balik antara kantor, rumah sakit, dan rumah Talika. Ia membawakan pakaian, mengurus perpanjangan izin, memastikan kucing diberi makan, bahkan mengantar Bu Mardiani pulang saat hujan.

“Kamu perlu tidur,” kata Talika.

“Kamu juga.”

“Saya tidur di kursi.”

“Di kursi begitu mana bisa tidur?”

“Pulang.”

Raganta melihat Nenek yang sedang terlelap.

“Telepon kalau ada perubahan.”

“Saya tahu.”

“Jangan tunggu sampai pagi.”

“Iya.”

“Kalau butuh—”

“Saya telepon.”

Raganta terdiam.

Ia hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi akhirnya hanya mengangguk.

Sebelum pergi, ia menaruh sebungkus roti dan teh hangat di meja.

Talika tidak mengatakan bahwa ia tidak lapar.

Raganta juga tidak menyuruhnya makan.

Ia cuma meninggalkannya di sana.

Pukul satu dini hari, perawat masuk untuk memeriksa tekanan darah.

Pukul dua lewat sepuluh, Nenek terbangun dan meminta duduk lebih tinggi.

Talika membantu menaikkan sandaran.

“Sesak?”

“Sedikit.”

“Saya panggil perawat.”

“Sebentar.”

“Nek.”

Lihat selengkapnya