Nama Terakhir Di Alamat Itu

A.A.Pusung
Chapter #15

BAB 15 Tidak Semua Orang Paham Formulir

Masalah pertama datang bahkan sebelum jenazah Nenek meninggalkan rumah sakit.

Petugas administrasi menyerahkan surat kematian sementara kepada Talika, lalu meminta dokumen keluarga untuk proses berikutnya. Talika mengeluarkan kartu identitas, kartu keluarga, dan kartu kesehatan dari map.

Petugas itu membaca ketiganya.

“Ini namanya berbeda, Bu.”

Talika menatap tiga lembar dokumen di atas meja.

“Saya tahu.”

“Di surat rumah sakit tadi ditulis Lasmira Jayanti.”

“Itu nama yang benar.”

“Ada dokumen pendukungnya?”

Talika mengeluarkan buku nikah lama, buku tabungan, serta daftar pembetulan data yang belum pernah diajukan.

Petugas itu memeriksanya satu per satu.

“Kalau untuk surat kematian rumah sakit, kami mengikuti data pendaftaran pasien.”

“Pendaftaran pasien memakai Lasmyra karena menyesuaikan data kesehatan.”

“Berarti suratnya seharusnya Lasmyra.”

“Nama itu salah.”

Petugas itu terlihat tidak nyaman.

“Kalau kami menulis berbeda dari data pasien, nanti berkasnya dianggap tidak sama.”

Talika memahami masalahnya.

Ia bahkan pernah mengatakan hal serupa kepada ratusan orang.

Data harus konsisten. Dokumen dasar harus jelas. Perubahan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan pengakuan.

Nenek ada di ruangan lain. Terbujur diam dan menunggu dibawa pulang.

“Gunakan Lasmira. Saya buatkan surat pernyataan.”

“Surat pernyataan saja belum tentu cukup.”

“Saya petugas verifikasi data kependudukan.”

Petugas rumah sakit mengangkat wajah.

Talika langsung menyesali kalimat itu.

Jabatannya tidak membuat kesedihannya lebih penting. Ia juga tidak berhak menekan petugas lain yang sedang berusaha memastikan berkas tidak bermasalah.

Ia menarik napas.

“Maaf. Saya tidak bermaksud menggunakan jabatan.”

Petugas itu mengangguk kecil.

“Kami juga ingin membantu, Bu. Tapi nanti kalau datanya ditolak, keluarga harus kembali lagi.”

Kembali lagi.

Talika menatap surat di tangannya.

Keluarga yang sedang berduka sering diminta datang lagi. Membawa dokumen lain. Mengambil tanda tangan. Memperbaiki huruf. Menunggu pejabat. Menjelaskan kematian berulang-ulang kepada orang berbeda.

Selama ini ia menganggapnya bagian dari proses.

Hari itu, setiap pengulangan terasa seperti seseorang meminta bukti bahwa Nenek benar-benar sudah meninggal.

Raganta berdiri beberapa langkah di belakang. Sejak pagi ia tidak banyak bicara. Ia mengurus barang-barang, menelepon Bu Mardiani, dan memastikan kendaraan untuk membawa jenazah sudah tersedia.

Sekarang ia mendekat.

“Apakah bisa dicantumkan nama sesuai surat pernyataan keluarga, lalu diberi catatan perbedaan data?” tanyanya.

Petugas rumah sakit berpikir.

“Saya perlu minta persetujuan atasan.”

“Silakan.”

“Bisa menunggu?”

Talika hampir tertawa mendengar pertanyaan itu.

Mereka memang cuma bisa menunggu.

“Bisa,” jawab Raganta.

Petugas membawa berkas ke ruangan belakang.

Talika duduk di kursi plastik. Map pembetulan data Nenek masih berada di pangkuannya.

Raganta duduk satu kursi terpisah, tidak terlalu dekat.

“Kenapa kamu tidak memakai nama Lasmyra saja untuk sementara?” tanyanya pelan.

Talika menatap lantai.

“Karena bukan itu namanya.”

“Kalau prosesnya jadi lebih cepat?”

“Sekali dipakai, semua dokumen setelahnya akan mengikuti.”

“Kamu bisa memperbaikinya nanti.”

Talika menggenggam sudut map.

“Nanti kapan?”

Raganta tidak menjawab.

Talika memandangnya.

“Nenek sudah tidak bisa datang untuk verifikasi. Tidak bisa menandatangani permohonan. Tidak bisa difoto. Kalau saya membiarkan nama salah dipakai di surat kematian, itu akan menjadi nama terakhirnya di semua berkas.”

“Buat kamu, iya.”

“Bukan hanya bagi saya.”

Raganta mengangguk pelan.

Ia tidak mencoba meyakinkan Talika bahwa nama bukan hal penting. Ia juga tidak mengulangi ucapan Nenek tentang dokumen yang tidak boleh dipercaya sendirian.

Ia hanya duduk.

Petugas kembali hampir dua puluh menit kemudian. Atasannya mengizinkan penggunaan nama Lasmira dengan catatan perbedaan data dan surat pernyataan dari keluarga.

Talika mengisi formulir.

Tangan yang biasanya bergerak cepat kini beberapa kali berhenti.

Nama lengkap.

Tempat lahir.

Tanggal lahir.

Status perkawinan.

Alamat terakhir.

Hubungan pelapor dengan orang yang meninggal.

Pada bagian penyebab kematian, ia menyalin keterangan dokter.

Pada bagian waktu kematian, ia menulis pukul tujuh lewat sembilan belas menit.

Angka itu terasa terlalu tepat.

Seolah hidup seseorang dapat ditutup dengan jam dan menit.

Talika menandatangani formulir.

Lihat selengkapnya