“Habis waktuku ditelan oleh bumi, di mana sebagian tubuh ini juga ikut melipur lara. Aku adalah mereka yang tertipu oleh kenyamanan surgawi, yang tanpa sengaja tercipta lantaran kau ada di sana,” peluh Enggar pada udara yang kian dingin, diserbu oleh getir di setiap jejak yang dia tinggalkan.
Eldwin, nama yang terngiang di kepala, namun tidak menyenangkan. Suka, tapi segala hal yang Enggar dambakan, selalu sirna. Lantas kini, nama-nama itu sudah hilang.
***
01 - 04 - 2023
“Apa malam minggu bapak, sepi?” Enggar bertanya, dengan keberanian yang tercekat di tenggorokan. Ia hampir tersedak, dan memuntahkan dua gelinding bakso yang habis ditelannya tadi. Kebetulan, apa karena dia makan terlalu banyak? Sampai-sampai apa yang kini di perutnya bergejolak hebat, bahkan gas yang seharusnya keluar lewat pantat, justru keluar lewat mulut dan menjelma sebagai pertanyaan dangkal. Dia menyesal. Sendawanya terdengar berirama demikian.
Dayanya tidak ada. Berdirinya telah goyah. Wajah kokoh dan tegas miliknya menjadi kisut. Sepenuhnya nyali besar bak ular pemangsa sudah hilang belangnya sekarang, lantas berubah menjadi cacing kepanasan. Sayang sekali, bahwa dia telah salah memilih waktu bertanya.