23 - 03 - 2023
Eldwin berdiri di sana, di antara burung-burung yang seragam; sedang memaksa mereka memasuki sangkar. “Sial!”, atau lebih banyak memakinya dibanding bekerjanya, sebab patukkan moncong yang tumpul, juga lumayan tajam.
Kicau itu tidak pernah berhenti memang, dan menjadi keras ketika seseorang menyentuhnya. Seakan trauma mereka adalah sentuhan yang sangat didambakan orang-orang kesepian, tapi hewan yang lemah hatinya tahu, manakala genggaman yang keras itu, akan selalu menyakiti. Pria itu terutama, sebab dia tidak berkasih. Sebab dia masih sendiri.
Akhirnya, burung itu genap terpenjara, bukan oleh Eldwin, tapi satu orang lagi yang menemani. Dia berseragam, dengan khas jarik yang dibebatnya di pinggangnya, beserta kupluk kecil yang dipakai untuk mengidentifikasi dirinya, bahwa dia pekerja dengan upah rendahan. Lantaran persoalan baju saja, dia tidak bisa bebas. Barang kali dia ingin memakai kaos metalik dilengkapi jaket kulit yang biru kekusaman, serta rantai-rantai kecil yang dikaitkan di celana. Mungkin juga menggunakan tindik di hidung, atau rambut warna hijau yang disisir tinggi ke atas. Bisa juga sedikit dikeriting tinggi. Lalu dia berjalan dengan mete-mete, karena celananya hampir melorot sampai ke dengkul. Itu pun masih kurang ke bawah.
Tapi Eldwin tidak memperhatikan, mau baju apa orang itu gunakan, asalkan burung-burung ramai ini bisa dikandangkan, maka sudah lebih dari cukup. Kerjanya bagus. Dia pantas di puji. Matanya sekarang terpikat pada wanita yang melambai ke pelantaran. Seseorang berdiri di sana tanpa merasa terganggu. Sudah lebih dari 30 menit sejak kerumunan dibubarkan, dan kawanan itu pergi dari tanah lampang, menuju kandang yang disediakan bagi mereka. Seperti burung-burung kecil ini, sayangnya dengan kaki mereka sendiri, tanpa keterpaksaan. Kendati agaknya ada satu, yang sedikit tersesat.
Enggar malah berdiri di sana. Di depan kandang-kandang burung yang susah payah sekali ditatanya. Burung-burung tersebut sudah mulai diam, mereka lelah memberontak. Tapi wanita yang berdiri di sana justru memperkuat perlawanannya, akhirnya kembali mengumandangkan kicau-kicau berlebihan dengan lebih lantang. Kembali membuat kepala Eldwin, pening setengah mati. Sungguh, sepertinya dia memang tersesat.
***
“Katanya mau dibebaskan,” Enggar mengulangi. Lantas mengapa ditangkap? Begitulah pikirnya.
Setelah hama-hama kecil itu diberikan rasa trauma karena terpelihara dalam ruang yang terbatas, mereka akan dijanjikan kebebasan. Sementara kebebasan itu sendiri adalah milik mereka, yang sudah direnggut lalu dikembalikan lagi seolah mereka telah diselamatkan. Lumayan pelik. Kepalanya meletuk. Ia tidak mengerti. Mengapa diambil, jika akhirnya dikembalikan?
Wanita itu mengangkat rambutnya yang tergerai dan menjambaknya kuat-kuat, cukup untuk memberi rasa sakit pada kulit kepalanya yang gatal. Serta pusing yang menggigit itu, membuatnya mengabaikan rekayasa yang sedang dilihatnya kini, terhadap makhluk hidup malang, yang lebih sering dipanggilnya hama.
“Sayang sekali, hidupmu tidak lebih dari sandiwara.”
Sangkar kecil yang menjerat mereka pun, merupakan pertunjukan sederhana atas nama kebebasan.
“Enggar,” Hayi memanggil dari kejauhan untuk ke sekian kalinya, dengan nada sangar, kata keduanya yang meliuk lebih panjang, bagaikan penyanyi seriosa dengan baritonenya yang khas. Sesungguhnya, ada rasa geram juga darinya, karena wanita kecil yang harus dirawatnya kini, adalah boneka kecil yang digendong dengan penuh kehati-hatian, karena mudah hancur serta berserakan. Sementara Enggar yang tampak plonga-plongo , hanya tidak begitu peduli pada dunia milik orang lain.
Dia pergi, meninggalkan mimik burung kecil yang akan sepenuhnya menangis. Mungkin burung itu sendiri pun tahu, bahwa kebebasan itu tidak pernah ada. Suatu hari dia akan ditangkap lagi, terjerat dalam sangkar yang sama, lalu dipaksa untuk bergumul dengan burung yang tidak dikenalnya, terpisah dengan kawan-kawan lamanya, lalu kembali dibebaskan, di alam yang tidak dikenal.
Semua siklus itu akan terulang lagi dan lagi. Tapi katanya, ini adalah pertumbuhan. Semua ini, demi perkembangan. Demi kejayaan. Dan anehnya, Enggar pun percaya semua guyonan itu.
***
Orang-orang kembali berdiri dalam pelantaran. Di bawah pohon rindang yang menjadi satu-satunya simbol kehidupan di tengah tanah lapang yang tandus. Sangkar-sangkar tadi telah dipindahkan, oleh pegawai dengan kupluk kasnya tanpa mengeluh – atau sejak awal pun mereka tidak bisa – dikaitkan pada cabang-cabang kecilnya. Mereka berkicau lebih riang, merasa kebebasan tinggal sebentar lagi. Udara dingin selepas hujan, angin yang lembab dan aroma petrichor yang menusuk hidung, membutakan indra manusia yang sudah kegirangan dengan panggung yang orang lain ciptakan.
Mereka berbaris, setidaknya ada 5 bersap atau 6, dan diteruskan memanjang, laiknya upacara bendera saat hari kemerdekaan. Orang-orang pun berpikir, apakah nanti perlu bersikap hormat juga? Mengheningkan cipta dan menitihkan air mata? Tiada yang tahu, bisa saja ada acara seperti sembah sujud ke paduka yang terhormat, sebagai bukti pengabdian. Berjalan dengan berjongkok. Atau merangkak sampai menyentuh tanah. Tapi, katanya nanti; hanya permainan.