Nama yang Hilang

Dina prayudha
Chapter #4

Bab 3

24 - 03 - 2023

Enggar datang dengan keengganan. Namun melihat pria itu, ia merasa bahwa menghadiri apa yang dibencinya, merupakan tantangan paling besar laiknya kelinci di tengah sergapan serigala, atau seperti moncong senapan yang diarahkan langsung ke pelupuk mata. Ada kengerian dan keberingasan yang diromantisasi oleh harapan sesaat. Oleh angan-angan yang menggembung di udara. Ia merasakan naluri diburu, lewat tatapan yang dalam itu. Sebuah firasat yang mengatakan; Dialah mangsanya dan dia sedang dikejar. Apakah bisa disebut jatuh cinta?

Enggar memandang jauh melalui bola matanya yang bergetar, mencari bagaimana gurat di senyumnya mampu menentramkan jiwa. Bahwa dengan itu, segala kericuhan yang disebabkan oleh tetek bengek hal, langsung luruh dan sirna. Asalkan ada dia, nun jauh di mata, tapi dekat pula jaraknya. Wanita ini yakin, beban yang digantungkan di ulu jantungnya, dapat meringan. Apalah jarak itu, ketika langit dan bumi tidak memiliki batas?

Mata-mata di sekitarnya menilik, mereka menyorot tajam dan udara yang ringan itu menjadi gelap. Pria yang bersedekap di belakang meja, nun jauh dari matanya, tapi dekat pula dia dari sana, tak jauh berbeda; menyelidik setiap getar-getar yang kata orang dianggap berbahaya. Apalah ruangan ini? Arena berburu, kamar tikus-tikus kecil yang terperangkap. Atau kotak kecil tempat kucing hitam yang kehausan diberi racun untuk diselidiki apakah dia akan mati setelah kotak itu ditutup?

Enggar merasa sesak napas, setiap gerakannya seakan diperhatikan. Setiap embusan napasnya seolah dihitung dan dicatat selayaknya hutang yang harus dikembalikan, bahwa udara di sini memiliki kepemilikan yang sah dan valid, dan orang lain sekedar menumpang atas hidupnya. Lalu dia akan menyeleksi, siapa orang-orang yang berhak atas kemuliaan itu. Mungkin ini yang disebut, kultus dari berhala baru, yang mana kemurahan Tuhan akan kasih sayang kepada umatnya saja dapat dinistakan. 

Toh, mereka tidak bisa membunuh hanya dengan menatap. Tapi jika bisa, mungkin saat ini Enggar sudah tidak bernyawa. Ruangan itu, penuh dengan 70 orang yang tersenyum riang. Mereka bersandiwara dalam keramahan, tapi saling menikam dalam tata bahasa yang dermawan. Tapi, bagaimana kita tahu isi hati orang? Barangkali memang ada ketulusan dalam senyum-senyum itu. Atau niat terselubung untuk mengetahui lubang dalam diri orang lain. Inilah yang disebut persaingan. Dan Enggar, menjadi salah satu tikus uji coba itu, yang gemetar di setiap sudut ruangan untuk dijatuhkan pada kali pertama percobaan. Ah, tapi orang bahkan tidak melihatnya? Kecuali satu.

Pria itu, melirik sekilas. Duduk yang tampak nun jauh dari matanya, tapi jarak yang bisa diukur dalam beberapa bentangan penggaris, membiaskan jarak di antara mereka. Hanya lirikan sekali, dan seluruh bola mata Enggar, menatap kembali dengan utuh. Bahwa wanita ini, telah benar-benar menjadi begitu dermawan kepada pria itu, yang hanya berbuat sekali saja. Kesia-siaan. Bagaimana membuatnya melirik lagi? Pikir Enggar, yang menggila dengan keinginannya, sampai Hayi mengajaknya berbicara; “Enggar, berhenti melamun.” 

Wanita ini menegur, selalu menjadi yang paling perhatian dalam memahami partnernya. Kadang dia bertanya, apakah Enggar lapar, dengan ingin camilan kecil, lalu mengambilkannya. Namun hati Enggar yang tidak pernah menghargai, kadang malah tidak menghabiskan makanan itu. Bukan, bukan maksud hati. Enggar sendiri hanya gagal menelan apa pun. Banyak yang dia tidak suka, banyak juga yang dia suka. Keduanya jelas. Dan yang pasti, saat dia tidak suka, wanita ini tidak bisa bersikap pura-pura.

Rasa manis yang melegit di lidah, dengan perpaduan coco karamel, dengan sangat menikmati itu. Namun karamel dalam pisang yang dibalut gandum, dia susah menelannya. Rasa segar sayur dari salad, dia menyukai itu, tapi sayur yang di dalam kuah, dia tidak menyukai itu. Sangat berbeda dengan Hayi, di mana segala hal tentangnya, tidak mengategorikan apa pun. Dia bisa menelan segalanya, rasa manis, pahit, asin dan asam tanpa mencoba kompromi untuk menyesuaikan selera, segalanya adalah seleranya. Dan apa yang diambil di atas piring; dia bertanggung jawab terhadap itu. 

Meski berbeda pun, Hayi tidak pernah berkomentar bahkan ketika puding yang legit itu, tidak pernah habis ditelan oleh Enggar. Wanita itu pun sama, meskipun dia sedang tidak ingin memakan apa pun, kebaikan Hayi yang selalu membawakannya sesuatu, akan diterimanya tanpa larangan, tanpa keinginan untuk menolak. Mereka hanya saling menerima, sebab begitulah etikanya menjadi pasangan yang hanya sesaat. Toh, hanya sementara saja. Mereka tidak ditakdirkan selamanya bersama, sehingga tidak membutuhkan untuk memahami satu terhadap sama lain, yang lebih dalam dari itu.

Lihat selengkapnya