25 - 03 - 2023
“Kopi memang lebih nikmat,” ujarnya, menyeruput kopi hitam tanpa gula dan susu di pagi hari, tepat sebelum dia mulai menyarap, 15 menit setelah mencuci muka dan memandang diri di depan cermin tanpa mencoba bersolek. Ah, mungkin ingusnya masih ada, beleknya begitu keras menyumpal sudut matanya, bahkan rambut bayinya sama sekali tidak disisir, dan ia biarkan itu tanpa merasa perlu untuk membenahi. Apa dia pernah tahu, betapa orang terganggu dengannya? Sayangnya Enggar tidak pernah peduli mengenai itu. Lagi pula, mereka tidak akan lagi bersinggungan.
Udara sekitar begitu dingin, dan kopi adalah satu-satunya penyelamat. Batang pohon yang menjulang tinggi serta hamparan rumput hijau yang berlumpur, masih begitu segar. Embun pagi belum sepenuhnya hilang, dan ia temukan seorang pria duduk di kursi sebelahnya. Sial. Dia tidak berdandan. Nyaris umpatan keluar dari mulutnya. Keberadaannya mengganggu ketenangan pagi itu, dengan situasi paling canggung yang pernah ada. Semburan kopi panas tidak luput dari keterkejutan itu.
“Jangan terburu-buru meminumnya,” ujarnya. Pelan. Dia tersenyum dengan cara yang sama seperti kemarin. Seperti saat bicaranya dicegat oleh tepuk tangan Enggar. Dengan perhatian yang mengatakan bahwa kamu tidak begitu berarti apa-apa. Sebuah sopan santun paling sinis.
Sedangkan Enggar panik bukan karena buru-buru. Bukan pula karena terselomot cairan panas. Dia tercekat, karena sadar tidak ada keindahan apa-apa yang dapat di tampilkannya saat ini, kecuali semua kotoran yang melekat pada wajah bangun tidur. Tidak menawan, tapi alami seperti dirinya yang biasa. Tanpa polesan. Hanya Enggar.
Pria itu tidak menyesap kopi, seakan bukan itu yang dia suka, melainkan teh madu dan roti lapis di piring kecilnya. Tidak pula dia menawarkannya, meski sudah melirik bahwa wanita di sampingnya tidak memiliki apa-apa selain satu cangkir kopi hitam yang nyaris disemburkan, tadi. Dia merasa tidak perlu untuk itu, sebab Enggar hanya butuh satu cangkirnya. Sangat jelas sekali di wajah polosnya mendambakan kepahitan di tengah rasa dingin dan kering ini.
“Masih terlalu pagi untuk bangun,” Enggar menguap. Mengerutkan dahi karena gigil yang ditempa oleh udara kala ini, sementara hari sebelumnya ia selalu terbakar, oleh panas kota, oleh kata-kata manusia berserta umpatannya. Sebab begitulah dia tinggal di tempat tandus, yang hanya tahu kegersangan. Siangnya begitu panas, dan paginya sudah begitu terik.
Pria itu melirik lagi, merasa seperti sedang diajak bicara. Dia pun menimpali, sambil bergumam ringan. Tidak mengerti bagaimana cara menjawab gerutukan itu, selain mengangguk dan menyetujuinya. “Bagaimana atmosfer di sini, cocok?”
“Jika saja ada lebih banyak karbon dioksida, mungkin saya akan lari,” jawabnya.
Ada banyak pohon, dan semua besar. Resort tersebut dibangun bagaikan kastel yang berdiri di tepi tebing. Ada tangga yang menghubungkan ke lembah paling dasar. Di sana ada hutan dan banyak hal gaib seperti tinkerbell yang tinggal di bungalo kecil di bawahnya. Konon pria sebesar Hagrid juga tinggal sebagai tukang kebun, merawat akar-akar hutan, aliran sungainya dan kubangan kolam yang selalu biru setiap saat. Saat siang, selalu ada manusia nakal datang untuk mengotori tempat itu, dan peri kecil keluar tepat sebelum senja untuk menyucikannya. Sebab selang beberapa saat, peri yang lebih besar datang untuk mandi, menunggu Jaka Tarub mencuri selendang mereka, salah satunya saja. Lantas kepada Tuhan, mereka akan berkata; jika ada yang menemukan selendangku, akan aku nikahi.
Anehnya, ketika benar ada yang menemukan selendangnya, lalu pria itu datang untuk menagih janji dengan keperkasaannya, tidak sama sekali di antara peri besar tersebut yang menepati janji. Mereka batal menikah, karena pria tersebut tidak memenuhi kriteria. Dia tidak kaya. Tidak tampan. Tidak Muda. Dan akan menjadi terlalu panjang jika disebutkan.
Ada satu pohon besar yang dibiarkan tetap berdiri di atas lembah, tempat dibangunnya Resort tersebut. Saat pembukaan lahan, mereka berjanji untuk mempertahankannya. Bukan karena kecintaan akan kerimbunan yang ditimbulkan dari daun-daun asri tersebut, melainkan setiap tangkai yang tumbang, akan menimbulkan korban jiwa. Sudah ada 3, yakni si penebang pertama, mandor yang menyuruhnya menebang, dan orang yang membiayai penebangan. Konon, seorang nenek yang mati muda di sana – di mana saat dia mati tentu saja belum nenek-nenek, tapi orang-orang memanggilnya nenek, lantaran penampakannya selalu kisut dan berasap, seperti pohon yang telah tua, mungkin seusia dengan pohon itu juga – telah memantrainya. Dia mati menggantung, dengan sandal jepit warna biru yang dililit rotan, katanya calon suaminya yang tengah menghadiahi sandal tersebut, sudah mati lebih dulu saat menolak pembukaan lahan untuk Resort. Katanya yang di dengar dari perkataan orang, dia terpeleset ke jurang saat mengintai orang-orang yang membuka lembah terlebih dahulu untuk membuat kolam renang. “Mereka mencuri tanahku,” katanya.
Orang bilang, Resort ini dibangun di atas tanah leluhurnya, yang di bawahnya terdapat lebih banyak makam, dari nenek, kakek, bibi, paman, ayah, bunda dari ayah – bundanya, bahkan ari-ari bayi yang baru lahir. Sudah lebih dari ratusan tahun mereka tinggal di atas tanah itu, membangun lahan, taman, kebun dan cinta. Sayangnya, semua direnggut atas nama hak kepemilikan tanah yang terbengkalai, di atas selembar kertas yang bagi orang jaman itu bahkan tidak mengetahui apa-apa esensinya. Mereka tinggal sebab telah lahir di sana, merebut tanah itu sudah seperti menyangkal kelahiran mereka. Maka, matilah keduanya di sini, dengan mata yang memicing, memohon kebenaran yang tidak langsung turun seperti hujan.
“Bukannya, itu mitos saja.”
“Tapi itu benar loh pak, saya dengar ceritanya dari salah seorang yang membersihkan kamar. Katanya hati-hati saat jam 2 malam, sering ada yang bergentayangan, karena dendam.”