24 - 10 - 2010
Kapan seseorang lahir?
Setelah melewati 9 bulan 10 hari seorang ibu mengandung jabang bayinya. Atau ketika sperma dengan begitu jantan menembus setiap pertahanan kewanitaan hingga menembus indung telur, sampai membuat si ibu muntah-muntah tiap pagi. Atau malah ketika keinginan untuk memiliki momongan itu hadir di dalam diri seseorang, bahkan sebelum Tuhan memberikannya. “Sebab itu menyalahi takdir!”
Hayi tidak perlu lahir. Tidak ada niat bagi orang tuanya untuk demikian, karena sudah cukup 2 anak yang mewarisi gelar durjana dalam pengabdian. Namun simbah begitu kuekeh, perlu anak sentuhan tangan lembut wanita untuk meneruskan wangsit agar ada yang melakukan persembahan pada Yang Maha Kuasa; semata-mata demi tidak dianggap durhaka. Maka ketika si jabang itu lahir, nyaris matilah ibunya bersimbah darah. Diirislah liang yang rapat itu dengan gergaji, agar kepala besar dan keras anak ini bisa keluar dengan selamat.
“Unyeng-unyengnya dua,” kata simbah yang menggendong bayi ini pertama kali, bahkan sebelum bapaknya, sebelum juga ibunya, sebelum kedua kakaknya. Maka sejak saat itu pula, Hayi menjadi anak yang harus selalu berbakti kepada simbahnya.
“Bolehkah aku tidak lahir saja,” Hayi menggerutu di usianya yang sudah 22 tahun. “Seharusnya mereka tanya dulu, apa aku mau lahir.”
“Bukannya sudah terlalu terlambat buat minta dibalikin ke bentuk Ruh,” jawab kawannya. “udah sangat berdosa sekali kau.”
“Tapi kata simbah, aku ini Paramesti yang lahir atas karunia pemilik ruh”
“Kau ini emang sudah edan karena dicekoki simbahmu,” celetuk kawannya. Merasa geregetan ingin menjitak kepala bocah ini. Sudah dewasa badannya, namun segala takhayul masih dipercayai.
“Padahal, setan itu memang ada!”
Di tempat paling sunyi, asal suara genderang ditabuh. Asal di mana ruh-ruh sedang meledek, menggunakan tarian yang dikumandangkan saat monyet saja kesurupan. Mereka di dalam perjalanan menuju ke sana, ke tempat pelarian, yang Hayi sendiri juga tidak menginginkannya. “Sebenarnya ke mana kita akan pergi?”
“Puncak Merapi,” menuju kubang yang bisa melenyapkan paramesti.
“Sepertinya, aku akan mati hari ini,” celetuknya. “Kamu berniat sekali ingin membunuhku?”
Sebab kawan selalu berkasih. Ia mendengar hatinya yang terus tergerus dalam nikmatnya kesesatan. Menjadi parodi yang disetir oleh manusia yang separuh dirinya sudah bau tanah. Kalau mendahului, mungkin tidak apa-apa. Kenapa tidak mencoba bebas saja?
“Dengan mati?”
Padahal sudah berkali-kali bilang tidak ingin lahir, tapi terus berkilah tidak ingin mati. Jika dusta itu dosa, maka paramesti ini sudah sangat ternoda. Sebab makhluk pilihan, yang lahir demi kedekatannya dengan Tuhan, merupakan jenis paling suci. Dia tidak berbohong, bahkan tentang kematian.
“Tidak lahir dan mau mati kan beda.”
“Unyeng-unyeng dua itu memang yang paling dablek.”
Keduanya terdiam. Tidak ada lagi pembicaraan dan mobil yang melaju kencang tersebut menyembur ke Magelang. Mereka memang mencari kematian.
***
23 - 03 - 2023
Bayi lahir dengan eek, karena si ibu tidak bisa memilih apa saja yang keluar saat mengejan. Mungkin pipisnya juga ikut pecah bersama air ketuban. Tapi seaneh-anehnya bayi, tidak ada yang seaneh Hayi. Begitulah pikir Enggar.
Ada saja yang dibawanya, seperti rasa sayang, cinta dan kasih. Begitulah mereka yang dibesarkan dengan sepenuhnya kebaikan. Jika saja kemuliaan itu bisa digambarkan melalui bunga, maka Hayi adalah kamomil. Dan itu membuat Enggar begitu bangganya. Padahal bukan pula dia ibunya. Tidak menjamin pula dirinya lebih tua.
“Aku melahirkan dengan disayat,” ungkap Hayi saat ditanya tentang kelahiran. Dia berbicara mengenai anaknya yang sudah mulai memasuki sekolah. Masa paling kritis tatkala kepala kecil tersebut tumbuh dengan pertanyaan yang tidak bisa lagi dijawab.
Air ketubannya pecah dulu sebelum dia sampai di rumah sakit. Awalnya, dia kira mengompol saja, tapi rasanya sakit bukan main. Digendonglah dia oleh suaminya, yang disangga juga oleh kakak-kakaknya di kanan dan kiri. Harmonis sekali. Sayang, kepala mereka malah dikeplak oleh simbah, “Perutnya Nak, dempet nanti anaknya!”
Suara histeris itu menyentakan. Tapi Hayi yang mendengar ceritanya, terbahak setelah sadar. Tapi sayatan diperutnya malah terbuka, dan suaminya menjadi lebih histeris. “Jadi, apa anakku dempet?”
Suaminya pun tertawa. Anaknya sehat. Seperti anak pada umumnya. Hayi pun seperti ibu pada umumnya. Mereka bahagia, meski pecah ketubannya berbarengan dengan pipis. Untung anaknya tidak dilumat bersama eek.
Kamomil itu putih, tapi Hayi berwarna. Dia cerah, hanya kadang menyesatkan. Kerap kali Enggar mencium hal janggal terkait wanita itu; seperti aroma melati segar sampai nyaris busuk. Awalnya seperti parfum, tapi jadi aneh ketika batang bunganya juga ikut tertinggal. Memang beberapa kali ada kuncup kering yang ditebar di sana; di beberapa sudut kopernya.
Partner sekamarnya ini melihat tanpa sengaja, saat kedua koper tersebut dijajarkan dalam satu garis. Bagaimana pun, tidak mungkin ada privasi dalam satu ruangan yang sama kecuali isi hati masing-masing. Sampai suatu hari, salah satu pun juga ingin ikut mencampuri tentang perasaannya juga.
Bisa saja bekas pembuatan teh, dengan cara yang paling tidak efisien lantaran memilih untuk memetik sendiri, dipilihnya dari pucuk daun yang masih muda, lalu di campur dengan bunga yang khas memberi aroma, selanjutnya dijemur di tengah terik yang menggila, dan berlanjut sampai cara menyeduhnya – alih-alih memilih untuk membeli di toko yang siap sedia, dan tinggal seduh. Akan jauh lebih mudah lagi, jika dia datang ke warung di pinggir jalan, tepat di mana hamparan sawah yang ditumbuhi padi menguning membentang dari ujung ke ujung, lantas mengatakannya pada Mbok’e, saya ingin teh. Tapi itu sebatas prasangka Enggar saja. Nyatanya memang, melati kering itu bisa saja diartikan sebagai hal lain, seperti jimat, guna-guna, ritual atau penangkal.
Saat pertama datang ke kamar hotel tersebut, ada kubangan air tepat di depan pintu. Seorang pria berkumis menggerutu, sebab sudah dibersihkan sebelumnya. Ia memaki, pada sepatunya yang nyaris jebol karena sering dipakai. Entah sepatunya yang menyebalkan, atau kubangan itu yang menyesakkannya, dia hanya merasa nelangsa saja. Saat pria itu sadar Enggar memperhatikan, dia mengangguk. Merasa sinis padanya.
Mungkin dia kira, Enggarlah yang mengotori pintu. Jadi spontan dia bilang, bukan saya. Padahal, tidak minta pulalah pelayan itu sebuah penjelasan. Bahkan jika kamar itu seperti kapal pecah yang dihantam gelombang besar, atau tsunami tiba-tiba menyerbu hingga ke gunung, sudah menjadi tugasnya untuk membersihkan bagiannya. Maka hal tersisa yang membuatnya sebal, adalah sepatunya. Orang-orang di sini, berdiri dengan sepatu yang hampir tidak bercacat.
Tapi kubangan itu kembali di pagi berikutnya, dengan melati kering yang tergeletak di atasnya. “Apa ini guna-guna?” lalu dia melompat pergi.
Dalam hal kesucian, melati selalu jadi pengundang arwah yang halus. Seperti bagian sesajen, agar segala bentuk musibah dapat luruh menjadi keberkahan saja. Tapi, siapa yang percaya. Hayi sendiri malah tertawa saat mendengarnya. “Mana ada yang begituan, itu hanya melati,” sanggahnya, sambil menepuk-nepuk pundak Enggar dengan riang.
Memang benar, jika Hayi suka membuat teh melati sendiri. Jadi banyak taburan bunga kering di sekitar koper, saat itu tutupnya tumpah sehingga benar-benar berantakan. Aroma yang penuh melati itu juga kesenangan lain, sebab dia suka meramu parfum dengan aroma melati yang lembut, sehingga tercium samar-samar. Tapi itu tidak cukup meyakinkan untuk menjawab kejanggalannya.
“Aku mencurinya dari pengantin wanita sebelum datang ke sini,” lalu dia kembali tertawa riang.
“Hah?” Enggar tercengang. Konon melati yang mengikat kepala pengantin merupakan simbol keanggunan, manakala ratu dalam sehari yang dipuja begitu banyak rahmat tersebut dapat memberikan berkah hanya dengan pernak-pernik di tubuhnya. Rahmat tersebut dapat dicuri, tanpa boleh dikenali, agar mata sang ratu tidak merasa disaingi. Lantas tangan-tangan jahit mengambil satu demi satu printilan bunga di kepalanya, demi agar bisa menjadi pengantin di kemudian hari. Tapi, bukannya Hayi sudah menikah?
Dia berhenti tertawa lalu pergi, mengangkat telepon yang tidak terdengar bunyi apa-apa. Lalu pembicaraan itu tidak pernah berlanjut sekali pun. Sedangkan pertanyaan terakhir tadi, tidak pernah dijawabnya sampai kapan pun.
Keberadaan bunga-bunga tersebut masih tetap berlanjut, dan wanita ini hanya berpaling. Adat, kepercayaan atau ritual adalah sesuatu yang tidak bisa dipertanyakan orang asing, sebab mereka bukan bagian dari hidupnya. Sepenuhnya, hal itu adalah kebebasan Hayi ingin membawa dirinya menuju ke hadapan siapa, Tuhan Perkasa yang mana, atau makhluk lain yang telah ia Tuhan kan. Bahkan jika memang dia membawa sesajen di tempat ini, Enggar akan menutup matanya rapat-rapat. Manusia memiliki caranya sendiri dalam menuju ketenteraman surgawi di dalam hatinya.
***
24 - 10 - 2010
“Kita akan mati di sana, kering oleh belerang!” kata Hayi, yang masih geleng-geleng dengan sikap karibnya. Memang sudah gila dia, dibuat gila oleh temannya sendiri. “Maafkan saya paduka, jika berbuat salah.”
Tapi tidak ada sahutan. Sepenuhnya dia diabaikan. Mereka pergi menuju Magelang, ke puncak pemanjatan, menghadap kematian. Sebab segalanya telah tertutup, jalur-jalur terang, jalur-jalur gelap, bahkan gorong-gorong yang dilalui oleh tikus hutan, dikunci dengan rapat. Tapi gas yang terus diinjak tersebut menanjak hebat, melewati rambu peringatan untuk berbalik arah.
Luapan perut bumi tengah menyala merah. Satu dua getaran datang silih berganti, tidak sabar untuk memuntahkan isinya. Seakan dia telah benar muak untuk selalu diam. Dikudang akan hal-hal yang tidak becik. Diinjak-injak oleh manusia yang menggerogoti kebesarannya. Maka alam yang sejatinya beringas memberontak, ingin meluluhkan yang merusak tanahnya, memurnikan kembali apa yang sudah dikotori dengan kehancuran. Apa manusia bahkan mengerti?
Tidak! Mereka tetap melewati jalur ekstrem dan penuh ketegangan itu, tanpa merasa terancam. Apakah bodoh atau lupa diri? Rasa congkak manusia menggagalkan intuisinya untuk bertahan, bahwa Tuhan sendiri yang telah mengutus alam untuk menghancurkan bumi sebab isinya hanya kebejatan yang selalu berbuat malang. Kasihan. Tapi, Yang Maha Baik selalu mengulurnya. Mencari-cari cara untuk kembali percaya bahwa makhluk ciptaannya akan kembali bertobat kepadaNya.