Nama yang Hilang

Dina prayudha
Chapter #7

Bab 6

24 - 03 - 2023

Bahasa yang sulit dipahami itu ada. Terutama ketika lidah sedang terpelintir karena tidak bisa mengikuti bagaimana otak berproses. Ada serangkaian kata yang terhubung di dalam bayang-bayang kepala, dan lidah hanya perlu mengikuti itu, tapi kerap kali kecepatannya tidak seimbang. Otak menghapus lebih dulu kata yang baru akan dibaca oleh lidah, dan menggantinya dengan kata baru, inilah yang membuat orang mengulang-ulang perkataan yang sama dan sebenarnya tidak perlu.

Bagi Enggar, masalah seperti ini sudah menjadi makanannya. Dia itu penakut, pendiam dan pemalu, apabila harus berdiri di hadapan banyak predator seperti ini. Setiap hari setelah kegiatan kebersamaan berakhir, dia menyempatkan diri berlatih untuk berbicara. Sendirian di tengah koridor yang sepi. Kegelapan adalah temannya, sekaligus sosok yang diam-diam ada di belakangnya. 

Tatkala kata demi kata itu hilang setelah diucapkan, seorang pria bersandar di belakang perhatiannya, menunggu sedikit waktu untuk menyela.

“Selamat malam, pak Eldwin?” Enggar menyapa. “Kalau bapak mau lewat, saya persilahkan. Maaf menghalangi jalan.” 

Enggar memberi jarak pada jalan dan beralih menepi, agar ruang yang telah dia penuhi sebelumnya menjadi longgar. Dengan suara gaduh kaki yang melangkah ke kanan dan ke kiri, sehingga orang lain harus memutar jika ingin berlalu lalang. Tapi agaknya Eldwin terlalu malas untuk melakukannya, sehingga berdiri di sana, menunggu untuk dipersilahkan. Atau memang, dia hanya ingin melihatnya dengan jahil.

Lantas dia tersenyum, mengapitkan bibir ke dalam, dan berdecak ringan. Kakinya menyilang dan tetap bersandar pada dinding, sehingga ruang menjadi lebih penuh untuk dilewati. Bukan oleh dimensinya, melainkan oleh hawa keberadaannya. “Silakan lanjutkan saja latihannya,” katanya, seraya menjahili.

Dia tidak pergi, dan tetap ada di sana membuat suasana menjadi lebih tegang. Sepatah kata pun, tidak ada yang bisa diingat oleh Enggar, dan semua perkiraannya meleset. Hampir apa yang terucap tidak bisa dimengerti. Terlalu bertele-tele, dan terseret-seret.

“Jika dengan ada saya di sini saja, Ibu Enggar sudah merasa gugup. Bagaimana besok jadinya?” pria itu menghajar tepat langsung di kepala Enggar. Tapi yang mengejutkan bukan perkataannya, melainkan nama yang dia sebut dengan benar. Kepala Enggar seperti telah benar-benar dihantam, bahwa dirinya juga bisa diperhatikan oleh orang yang selalu berdiri di atas podium, dalam panggung paling megah. Peran yang tidak mungkin disandingkan dengan pohon kecil dalam pot.

“Bapak ingin menemani saya berpidato?”

“Jika diizinkan?”

“Siapa agaknya yang berani kurang ajar menentang kemauan bapak?”

“Jika itu sindiran, maka itu benar-benar mengena di hati saya.”

Seolah-olah ada hati di sana. Enggar membatin. Umumnya, penolakan adalah sebuah kekurang-ajaran, terutama sosok dengan jabatan yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi. Tidak ada keakraban bagi keduanya, selain niat busuk dan akal bulus jika wilayah itu bertemu di tengah-tengah jembatan. 

Enggar belajar hal itu dari Sutet. Siapa dia? Hanya sosok yang kerap lewat namun menjengkelkan. Sosok yang sebenarnya tidak berharga, tapi selalu menjadi fokus perhatian, lantaran keberadaannya menyita lebih banyak energi negatif. Dia tahu caranya diperhatikan, dengan cara yang paling buruk. Sebab pria ini sangat ulet dalam memutar balikan fakta, sepeti tempo hari yang membuat Enggar harus maju ke medan perang. Alasan mengapa harus dia yang berdiri di podium untuk unjuk gigi, sementara rasanya seperti sedang dikorbankan. Dendam itu agaknya menyisakan luka dan darah yang bernanah. 

Awalnya mereka tidak demikian, sebab Enggar hanya cecak kecil yang tidak berdaya. Ekornya sering dipatahkan dan begitulah caranya selamat dari rantai pemburuan. Tapi semenjak Hardi, si bos besar dengan sepatu korduronya mengatakan, “Mau sampai kapan kamu stuck dengan kemampuan ini. Sejujurnya, ini bukan yang saya butuhkan dalam tim!” dan begitulah akhirnya, Enggar terpaksa menjadi naga dengan taring ganas dan semburan api. 

Kadang-kadang dia juga harus mengendalikan 4 elemen, terbang dengan kaki terikat dan menyelam sambil memancing ikan paus. Segalanya dikerahkan, karena penolakan perintah dari jabatan yang lebih tinggi adalah kekurangajaran.

Sejak saat itu, Enggar menjadi mangsa Sutet, yang sesekali terkena kibasan sayapnya. Direpotkan dengan pekerjaan kecil yang seharusnya orang tua jongos itulah yang mengerjakan, namun karena begitu sepele, maka Enggarlah yang mengerjakan. Pun, kejadian itu berulang beberapa kali, yang dijawab dengan senyum getir saja. Sekali lagi, Sutet adalah orang dengan jabatan dan gaji yang lebih tinggi, di mana pekerjaan entengnya, kerap membuat iri Enggar. Dendam itu, lebih panas dari yang terkira. Jika santet itu benar-benar ada, bisa jadi semua derita Sutet, datangnya dari mantra Enggar.

“Saya hanya berbicara mengenai fakta,” Enggar menimpali pernyataan tadi.

Eldwin tersenyum, dan disusul tertawa keras mengenai jawabannya. Dia tidak menjawab apa-apa, dan suara kerasnya menunjukkan bahwa apa yang diucapkan wanita ini, memanglah sebuah fakta. Meski sekujur tubuhnya, sedang tegang bukan main.

Sosok ini pun pernah dalam posisi demikian, bahkan sampai hari ini. Jabatan tinggi tidak selalu tinggi, sebab ada yang lebih mengungguli lagi. Di antara para penguasa masih ada penguasa lain. Seperti peribahasa di atas langit masih ada langit. Kadang langit paling rendah yang biasa orang lihat (meski tampak begitu tingginya) rupanya masih ada lapisan paling tinggi. Memang seperti itu polanya, selalu. Eldwin tersenyum getir, mengingat bagaimana hierarki ini ada, bahkan sejak nenek moyangnya membangun bahtera di atas pegunungan.

Sikap manis, ketersediaan, kepatuhan, akan selalu melekat dalam diri seseorang sebagai bentuk pertahanan hidup, lantaran mereka tahu apa yang disebut dengan power. Tidak perlu didefinisikan secara mendetail, orang yang paling kecil akan bisa merasakannya dengan insting, manusia seperti apa yang bisa dilawan atau cukup dihindari. 

Bagi Enggar, Eldwin ada di antara dua pilihan tersebut. Dilawan atau dihindari. Dia adalah sosok dengan jabatan tinggi, yang didapat atas dasar kemampuan juga, iya, namun pendukung di belakangnya tidak bisa diabaikan. Ia sudah memiliki previllage yang bagus ditunjang dengan kemampuannya, sehingga peran besar itu bisa diterimanya dengan baik, cepat dan singkat. Karena itulah, meski laki-laki ini sosok yang ramah tamah sehingga bisa diberi sedikit perlawanan, namun menghindarinya adalah pilihan paling baik. Berjalan menjauh dan pergi dari peredarannya. Tapi entah mengapa, jalan itu kerap sekali membuat keduanya tersesat di titik yang sama.

“Saya sama sekali tidak bisa menyanggah,” pria itu akhirnya berkomentar. Air matanya keluar setelah puas tertawa. 100% diyakini, bahwa dia pun setuju dengan pernyataan Enggar. “Maafkan orang dengan jabatan yang lebih tinggi itu, jika dia pernah menyusahkanmu. Semoga itu bukan saya.”

Enggar pun tertawa malu. “Semoga kita tidak perlu bersinggungan sedemikiannya pak.” 

“Dengan kata lain, saya diusir bahkan sebelum melakukan apa-apa?”

“Astaga, siapa yang berani demikian?” Enggar langsung menyaut, dengan nada panik dan lucu. Tangannya berkacak ke pinggang, dan mulutnya digembungkan. Bicaranya seperti menyangkal, namun sikapnya mengiyakan hal itu. Eldwin hanya tertawa. Dia selalu tertawa dengan sikap Enggar, tidak pernah tidak.

Wanita ini pun berpamitan. Melangkah dengan malu-malu sambil menundukkan kepala. Kalimat terakhir tadi diucapkan dengan niat memang untuk menghindari. Agar pria ini juga mengerti, bahwa posisinya sekarang begitu berat untuk saling bersinggungan.

***

Lihat selengkapnya