24 - 03 - 2023
Kembali pada waktu yang sudah melupakan jejak mereka. Mana kala hujan pun, masih terasa hangat daripada kecanggungan itu. Jelas ada rindu yang tersemat dalam sela-sela jari mereka, yang selalu senantiasa ingin menggenggam, bertukar pilu dan kabar yang mungkin mengguncangkan.
Atau
Dalam situasi yang lebih intim, mereka bisa saling mengecup, memeluk dan memberi kasih sayang lebih dari sekedar belaian, sayangnya keberingasan dari harga diri mereka sudah tidak terelakkan lagi, hingga tidak ada satu pun yang akan mengalah, kecuali dunia ini berubah rotasi.
Enggar memejamkan matanya perlahan, lelap dengan pikiran yang berkecamuk tentang siapa yang mengikutinya tadi. Tentang Eldwin dan Hayi. Tentang rindu yang tidak bisa dijelaskan. Tentang tubuh yang tidak berhasil terjamah.
Jelas ada orang disana, yang ikut tertarik dengan perhatian yang tidak sengaja tertular, yakni setelah berlari meninggalkan Eldwin, wanita itu memergoki sebuah kejadian janggal. Sesuatu hal yang tidak boleh untuk disinggung, meski hanya buntutnya saja; seperti pertukaran kepentingan antara lebih dari dua manusia atau kelompok, atau yang lebih besar lagi organisasi. Dan disini adalah sumbernya. Ada beberapa perusahaan dengan aliran dana yang deras ke kanan dan ke kiri, bahkan meluber ke area-area yang tidak berpenghuni, seperti air bandang yang berbahaya.
Laki-laki, pikirnya.
Sekilas terlihat seperti lengan laki-laki menyodorkan map besar yang diintipnya dengan mata memicing. Entah apa isinya, rahasia kehidupan, atau kematian. Bisa juga resep masakan ayah bunda. Apapun bisa mengisinya, termasuk udara dari napas orang yang terengah engah karena panik dan ketakutan. Atau mungkin berkas ancaman untuk orang yang baik-baik dan terpuji, demi sekedar untuk membuatnya gentar.
“Mengerikan,” celetuk Enggar dalam tidur itu.
“Jika yang kau maksud perselingkuhan, sudah pasti tidak mungkin,” Hayi menjawabnya. Tampaknya sejak tadi, Enggar menggerutu sendiri menjabarkan berbagai kemungkinan yang samar.
“Mengapa tidak mungkin?”
“Karena laki-laki,” Hayi menjelaskan. “Bukankah katamu, itu tangan laki-laki?”
“Memang tangan laki-laki, karena berotot dan gelap,” jelasnya. “Tapi asalkan keduanya mau, bukankah laki-laki juga bisa. Akhir-akhir ini, negeri ini sedikit bebas, bukan?”
“Agak gila sekali imajinasinya, ya?”
“Tapi memang seperti itu, kan?” Enggar menjelaskan. “Nyatanya, tidak ada hukuman pasti bagi mereka yang berhubungan dengan cara melenceng begitu, kecuali anggapan tentang meresahkan masyarakat.”
Keresahan masyarakat itu pun juga tidak salah, bahwa memang benar hukuman yang dijatuhkan adalah keributan yang ditimbulkan, dan bukan kumelencengan itu sendiri. Sehingga batas-batas yang samar tentang boleh atau tidaknya, manusia yang lahir namun menyangkal sifat alaminya, menjadi sebuah paradok mengenai kebebasan beragama. “Memangnya, ada agama yang membolehkan?”
Padahal penyangkalan terhadap nikmat Tuhan itu sendiri adalah dosa.
***
25 - 03 - 2023
Esok hari, meja-meja sudah tertata dan tempat duduk dibariskan sesuai dengan kebutuhannya. Beberapa orang bergumul dengan orang yang dikenal, namun bagi Enggar, dapat memandang jelas Eldwin dalam jarak yang cukup, itu sudah menyenangkan meski tidak memiliki calon-calon orang untuk dipergunjingkan. Mereka terpisah beberapa meja, yang nun jauh sekali di mata tapi dekat di hati (meski hanya salah satu saja).
Tidak semua hal perlu balasan, dan itu sudah membuatnya tersenyum girang.
Pada hari itu ia sudah terpikat pada wajah yang tidak biasa, karena senyum memesonanya. Bahwa matanya telah teralihkan pada keindahan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusianya. Inilah penciptaan. Inilah kejayaan. Dia tengah sepenuhnya jatuh cinta pada tiga guratan khas yang membelah di sudut-sudut matanya, yang menjelaskan bahwa dirinya adalah sosok pria dewasa yang diinginkan oleh wanita di dunia. Penuh dengan kemantapan dan ketenangan.
Sementara seharusnya Eldwin adalah orang jelas sekali perlu dihindari, lantaran latar belakangnya benar-benar kontras untuk disanding dengan Enggar. Penuh misteri dan tidak akan bisa diatasi oleh tangan ringkihnya. Apalagi dengan gelagatnya yang penuh kekalutan termasuk sikap yang menganggap bahwa kisah mereka tidak usai, meski telah dibatasi oleh ikatan yang suci dan hakiki. Bahwa dirinya tidak mempersalahkan itu, sebab norma bisa dilanggar tanpa rasa keberatan dan berdosa. Pria itu punya kuasa yang demikian besar, sehingga segala bentuk aturan bisa disangsikan sementara demi mewujudkan kehendaknya.
Terlihat pada duduknya dengan tangan yang bersedekap seolah menyembunyikan seluruh dirinya, dan perhatian orang lain pada rahasia yang dia simpan sendiri. Enggar memperhatikan itu, bagaimana ketika dia mencuri pandang kepada Hayi, dengan begitu hati-hati, tersembunyi dan kadang terburu-buru, seperti tidak memiliki waktu lagi untuk memilikinya.
Mata itu, telah benar-benar terjebak dalam kegamangan, yang bahkan dia sendiri telah yakin akan selalu diterima seperti bagaimana masa lalu itu membesarkan mereka, namun ikatan yang Hayi miliki saat ini teramat mengganggu kemulusan ceritanya. Ikatan itu menjadi kerikil untuk perlombaan yang dia gelar dengan piala sebesar wanita itu. Dia sepenuhnya dipenuhi dendam dan amarah yang besar, namun kemurkaan pada cintanya jelas lebih menguasai.
Sesekali, saat pandangan itu dilemparkan kepadanya, dengan jelas sekali, seolah-oleh mampu untuk melubangi tembok di sekitar, justru Enggarlah yang menangkap itu. Pria itu terpergok dan mereka saling bertatapan canggung. Sontak senyum penuh kebingungan itu dilemparkan dan menjadi tersipu, persis menyerupai orang yang kedoknya telah terbongkar tuntas. Keburukannya sudah dikuliti habis. Oleh wanita yang sama sekali tidak berarti.
Tapi itu hanya ketidaksengajaan, Eldwin berpikir Enggar tidak akan mengetahui niat apa pun dalam tatapannya. Dia hanya akan mengira bahwa mata itu tanpa sengaja melempar pandangan pada apa sajayang bisa dilihatnya. Bukan kepada orang-orang khusus yang ada di sana. Benar, bagi Eldwin, wanita itu tidak akan mencurigai apa pun.
Namun ironisnya, Enggar selalu bisa menangkap bagaimana Eldwin mencari cara untuk memenuhi dahaganya akan Hayi, dan disanalahnya wanita ini menjadi kerikil kedua yang dalam rencana Eldwin perlu untuk disingkirkan. Lantaran ia, terlalu mencampuri hal-hal yang bukan pada tempatnya, atau melanggar garis yang sudah digambar dengan jelas.
Seperti ketika seorang anak menyembunyikan buku dongeng mengenai Peterpandi tumpukan buku sejarahnya; dia hanya tidak ingin jati dirinya terungkap. Seolah itu adalah rahasia besar, yang harus dijaga dan diamini. Bilamana ada yang begitu penasaran mengenai dirinya dan berhasil menilik jauh ke dalam sosok itu, lantas mengungkapnya dengan begitu gamblang, mengenai pria terbang yang tidak pernah dewasa itu, maka anak itu jelas akan kecewa. Bukan karena rahasianya telah terbongkar, namun seperti orang lain telah benar-benar memegang kendali atas dirinya.
Bukankah impian seseorang akan selalu sama, yakni menjadi bebas dari kekangan?
Eldwin merasa bahwa Enggar memiliki kendali itu, yang perlu untuk diluruskan, bahwa dirinya tidak memiliki hak dan tempat di sana. Bahwa meskipun rahasia itu diketahui, Enggar tidak akan bisa berbuat banyak akan hal itu.
Suara ricuh membuyarkan perhatian mereka. Tepuk tangan girang dan tangan diangkat tinggi-tinggi untuk menyuarakan semangat yang menggebu-gebu. Kali ini bagian presentasi dari orang yang penuh dengan cara-cara humor dalam menjelaskan sesuatu, termasuk perkembangan yang hanya ada diangan-angan mereka saja. Senyum jail dan beberapa luapan penuh ketegangan juga menghiasinya. Termasuk juga pertanyaan satir demi memenangkan harga diri mereka, yang sudah lama terinjak dan dipendam melebihi magma diujung moncong bumi, yang siap menyembur keluar.
Pertanyaan itu dari Dayat, yang seraya orang sedang kesurupan karena perannya direbut. Dia melontarkan begitu banyak ungkapan yang tidak dimengerti, dengan bahasa yang amat asing sehingga hanya segelintir saja dari manusia yang mampu menangkap pergerakan itu. Seakan dia berasal dari dunia lain, dimana segala bawaannya tidak mampu diterima dengan akal di tempat ini. Enggar seakan membaca bagaimana kesebalan itu membuat orang menjadi tidak rendah hati, memamerkan keunggulannya, yang tanpa sengaja menjadikan sosok-sosok tidak mengerti lain sebagai orang penuh kelemahan.
Saat pidato itu berakhir dengan kalimat yang begitu lengkap, semua orang bertepuk tangan, menandakan bahwa mereka juga memahami pembicaraan ini. Mereka mampu mengikuti sehingga mengapresiasi dengan penuh kesenangan. Begitu persaingan itu tetap membuat api, sehingga semakin banyak ungkapan asing yang dilontarkan untuk membuat esensi dari acara tersebut sekedar sebagai ajang pamer bahasa.
Tapi, memang begitulah sejak mulanya. Tempat ini, tidak pernah mengajari seseorang untuk menjadi lebih berarti, melainkan untuk menyadarkan mereka bahwa dirinya bukanlah apa-apa dibanding orang lain yang tidak pernah ditemuinya, sehingga semangat juang tersebut tumbuh dengan sikap tidak ingin kalah. Khas dari sifat manusia yang sombong dan angkuh, selayaknya iblis yang menolak untuk bersujud kepada Adam pada asal mula penciptaan manusia.
Bahwa benar, janji Iblis itu untuk selalu menyesatkan, mungkin saja telah berhasil, dimana sifat-sifat api dan menggebu-gebunya sudah mendarah daging di dalam tubuh liat itu.
Tapi bukan manusia yang tengah berapi-api ini yang menarik perhatian Enggar, melainkan hal yang terletak di atas meja bercorak bunga merah. Seorang tua duduk di sana, dengan kaca mata bulat yang tebal, separuh rambutnya beruban dan separuhnya lagi tidak berambut. Dia duduk paling akhir dan berdiri paling awal, sehingga orang lain bisa mengikuti. Puncak dari segala posisi, orang yang paling terhormat dimana si Boss besar pun bertingkah seperti kucing jalanan yang mengolet dikakinya. Manja, riang dan penuh semangat. Dia pun tidak ada dipuncak rantai makanan, dan masih memburu singgasana di samping raja.
Di meja itu, ada sebuah map yang persis dari semalam yang membuat Enggar penasaran bukan main. Sebuah map dimana bisa berisi apa saja, seperti resep makanan ayah, rahasia awet muda nenek atau mungkin surat cinta terlarang antara dua pria yang bertemu tanpa kesengajaan, dan berjuang mencari restu, meskipun seluruh dunia ini berusaha untuk mengutuknya. Mencaci maki ketulusan mereka. Hingga menyoraki bahwa segala bentuk perbuatan itu, akan dilaknat dengan azab yang tiada tanding. Dan bahwa sesungguhnya, Tuhan tidak mengampuni perbuatan yang menolak fitrahnya terang-terangan.
“Ayolah, pasti lebih dari itu,” tangan Enggar mencengkeram kuat, dan tanpa sadar matanya memicing, giginya menggertak, yang menunjukkan bahwa sepenuhnya merasa penasaran.