Nama yang Hilang

Dina prayudha
Chapter #9

Bab 8

06 - 05 - 2009

Temannya satu. Tidak pernah bertambah. Tidak juga berkurang. Sejak awal Enggar memang sendirian, dan segala yang dekat dengannya sebatas kefanaan. Namanya Iswari. Dia baik sekali. Ramah dan indah. Seperti Hayi, namun dengan cara berbeda. Dan mereka berteman, dengan perbedaan yang mencolok itu.

Iswar lebih ceria, cerah, dan bersemangat. Kadang lebih gila. Sebab dia binal. Birahinya tidak bisa ditahan. Katanya murahan juga, perginya hanya dengan laki-laki. Setiap hari selalu berganti. Ada saja orang dengan penampilan nano-nano yang menjemput, atau mengantarnya kembali. Tapi dia selalu kembali, tidak pernah tidak. Selalu sebelum jam 12 malam. Waktunya tepat, dan tidak pernah lewat. Seperti Cinderella, yang sihirnya hilang jika sudah ganti hari. Mungkin berubahlah dia jadi tikus. Bulu siangnya yang lembut dan indah, jadi kusam dan kisut. Nyaris jiwanya tersedot. Habislah dia dengan laki-laki itu. Sama beringasnya mereka. Sayangnya Enggar tidak pernah bertanya, mau sebertingkah apa Iswar di luar sana. Jika dia pulang, maka kepanikan itu sirna. 

Mulanya, Enggar terus bertanya. Tidak biasa bagi wanita untuk pulang larut. Habis waktu Magrib, perempuan di larang berdiri lebih jauh dari rumah. Tapi ada satu yang hingga tengah malam baru pulang, kadang dia mengirim pesan, sering juga menelepon, kapan Iswar akan pulang. Tapi wanita itu malah bertanya, “Apa putri cantik ini kesepian?”

Enggar hanya mendengus. Tidak tahu dia betapa hatinya khawatir. Karena dia sendiri juga tidak berdaya. Dunia di luar sana itu kejam. Tubuhnya bisa saja jadi mayat, yang tergeletak karena kelitik jahil, menyabet orang baik-baik saja di jalan yang tiada lalu lalang. Mumpung tidak ada orang, mereka kerap uji nyali. Iswar benar-benar tidak kenal takut. Justru yang tengah ketar-ketir itu orang yang menunggunya. Untunglah dia pulang. Tapi semakin hari, dia tahu ada orang yang akan selalu mengantarnya, meski berganti-ganti. Tidak tahu di mana hatinya menetap. Kadang dengan rambut keriting. Kadang yang kurus. Kadang yang putih. Dan kadang yang senyumnya semanis madu. Enggar sendiri kerap terpana dengan penampilan mereka.


Waktu pagi, dia selalu mepet pada Enggar. Mengusap usap rambutnya yang kering ke kulit Enggar. Ingin sekali dia dielus seperti kucing. Lalu lehernya yang panjang dan kecil, terlihat jelas. Bajunya memang terbuka, bahkan ketiaknya yang kecokelatan juga sering terlihat. Tidak malunya dia dengan itu. Enggar pun sekedar membatin, karena pusarnya benar-benar mulus. Bikin iri sekali. Dan lagi-lagi ada cupang yang bertambah. Setiap hari. Kadang di lehernya. Kadang diperut bagian kiri. Dan kali ini tepat di lereng gunungnya. Enggar hanya mendengus. Pria bejat mana yang dia datangi. Kenapa tidak memilih yang layak saja?

“Lagi pula semua sama,” Iswar menjawab. Dia tahu benar bagaimana laki-laki berpikir. Jika bukan payudara, maka pantat molek yang dilihatnya pertama. Mata orang tidak bisa menipu, dan memang itu aset yang selalu ditonjolkan wanita. Memang tidak bisa dipungkiri, Iswar memiliki aset itu dan pria melihatnya. 

Nyatanya keduanya hanya saling melengkapi satu sama lain. bisa jadi karena mata melihat lebih dulu, sehingga disodorkan. Atau disodorkan karena mata itu melihat. Keduanya memiliki arti yang sama, bahwa mereka tidak menjaga adab kemoralan apa pun.


Iswar sudah dewasa, usianya 4 tahun lebih tua dari Enggar. Tapi bagi tetangga, dia terlalu tua untuk hidup serampangan begitu. Sudah 2 tahun sejak keduanya tinggal bersama, berbagi di dalam kamar 3x3m dan dua kasur yang saling ditata menyiku. Kerapkali kakinya menginjak kepala Enggar. Atau Enggar yang menginjak kepalanya. Lalu bertengkar tentang salah kaki siapa, dan kepala mana yang lebih sakit. Sampai keduanya memiliki untuk meletakan kepala di siku kasurnya pada hari Selasa, lalu berganti di hari Jumat, dan kembali di hari Minggu. Ada jadwal yang membuat posisi tidur mereka memutar.Aampai keduanya tidak keberatan untuk kembali menginjak satu sama lain.


Pada pagi Kamis Legi, di mana Pasar Kliwon sangat sepi dari orang, mereka libur untuk saling tegur, memperdagangkan sayur mayur. Sebab di hari itu orang pada puasa untuk ritual pada malam hari. Mencari kesucian, dan memurnikan jiwanya yang sudah kotor. Padahal, mereka tinggal mandi saja. Mengguyur dengan air. Sedang katanya, itu tidaklah cukup, sebab yang dibersihkan hanya badan, jiwa juga perlu.

Pada puasa itu, Iswar lebih sering kelaparan. Bukan dengan sengaja tidak makan, sebab makannya sendiri sudah kesusahan. Tapi dia memang puasa, untuk ibadat di malam hari. Agar badannya bersih dan jiwanya suci. Hanya pada hari itu, dia tidak bertemu laki-laki. Tapi pada hari itu juga, Iswar justru tidak pulang. Hanya pada hari itu, di pagi hari saat dia pulang, dia justru tampak kotor. Apa ritualnya gagal?

Apa tiba-tiba kendinya disambar geledek, dan pecah sebelum mengenai badannya? Tapi Iswar hanya menggeleng, katanya bukan begitu ritualnya. Lalu bagaimana? Tidak ada yang tahu. Enggar bahkan tidak berani bertanya, sebab pada hari itu, Iswar selalu kuyu. Dia nyaris tidak bisa bangun dan terlelap di kasurnya. Lalu pada hari itu juga, Enggar memaklumi jika kakinya menginjak kepalanya. Jika dia lupa rutinitas tidur mereka.

***


08 - 08 - 2007

Mereka bertemu di halte. Karena Iswar sangat cantik, dan riang, dia berbicara pada siapa saja. Pada pria tua yang menyapu jalanan. Pada ibu renta yang memungut sampah. Pada bocah-bocah yang bergulung-gulung di bawah lampu lalu lintas, mengorek recehan sambil menari-nari. 

Di sanalah dia bertemu Enggar. Diajaknya bicara, dengan riang. Rasa penasarannya tidak pernah terpuaskan. Begitulah tubuhnya dibangun dengan rasa ingin tahu. Dengan pertanyaan-pertanyaan ganjil. Yang lebih sering dianggap sebagai tukang ikut campur dan dijauhi yang lain. Tapi Iswar tetap bertanya. Seperti tidak peduli. Dia tetap menjadi dirinya. Meski hatinya sakit juga jika mendengar.

Kadang ada yang memaki. Siapa yang kiranya begitu sok akrab sekali pada yang barus saja dikenali. Bahkan nama saja tidak tahu, tapi dia sudah cerita tentang anjing hitam yang mengompol di bawah tiang listrik di rumahnya. Lalu bapaknya marah, dan membawa sabit untuk memburu anjing itu. Dasar anjing. Begitu teriaknya. Lalu anjing itu lari, sambil cekikikan. meledek bapak yang gagal mengejar karena sakit pinggul. Lagian, bapak juga kalah beringas. Anjing itu besar, dan hitam. Sekali terjang, terjungkallah bapak ke belakang. Jadi kata ibu, relakan saja. Jadi mereka merelakan.

Tapi Apa pada anaknya, mereka juga akan merelakan? Iswar bertanya, dan tidak ada satu pun bisa menjawab. Pada laki-laki penjual mainan kayu, pada ibu-ibu penyapu jalanan, pada pemulung yang compang-camping. Mereka tidak bisa menjawab.

“Orang tua pasti membela,” jadi Enggar yang menjawabnya. Tapi tawa Iswar melengking, keras sekali. Hal paling lucu yang dia dengar. Ya, mereka akan membela. Mereka pasti membela, yang harus dikembalikan berkali-kali lipat lebih besar. Dan dihitung sebagai hutang yang tidak akan putus, sampai mati.

Pada hari itu mereka berjanji akan bercerita lagi. Sebab Iswar harus pergi. Ini kali pertama Iswar harus bekerja. Ia berangkat dengan sepatu pantofel berhak tinggi, 5 cm yang memiliki ujung runcing. Meski tumitnya berdarah dia tetap berjalan tegap. Roknya pendek di atas lutut, dan belahan tinggi, hingga paha belakangnya terlihat. Tapi jasnya begitu rapi, dengan dasi yang melilit lehernya. Enggar berpikir, mungkin dia akan tercekik. 

Esok hari mereka bertemu lagi, di tempat yang sama. Kembali mengobrol tentang anjing hitam yang kencing di bawah pohon jambu. Bapaknya tidak lagi mengejar. Sebab anjing akan selalu anjing. Tidak ada yang bisa melawan. 

Kali ini Iswar melontarkan ide kecil. Dia ingin kebebasan, agar tidak mendengar gonggongan apa pun lagi. “Bagaimana jika kita tinggal bersama?” lantas begitulah mereka menjadi karib. Berbagi kamar yang sama.

Enggar sedang menempuh sekolah, dan Iswar bekerja. Keduanya hampir tidak bertemu kecuali tengah malam. Sebab kepulangan Enggar selalu sehabis Magrib. Dan kepergian Iswar dimulai sejak matahari belum terbenam. Saat pagi, Enggar sudah terburu bersiap, dan Iswar terlalu mengantuk untuk menemaninya. Kendati demikian, keduanya tidak protes, kecuali posisi tidurnya. Karena kakinya bau. Karena tumitnya keras. Karena kepalanya sayang, jika diinjak-injak.


Pada suatu malam, Iswar tidak lagi pulang. 

Dia tiba-tiba lenyap, di telan bumi. Teleponnya hanya berdering, dan tiada yang mengangkat. Tapi bagi Enggar, paling pergi dengan laki-laki. Jadi dia biarkan saja, nanti juga ada yang mengantar. Meski tidak pernah begitu. Enggar tahu benar, Iswar tidak akan begitu tanpa pemberitahuan. Sekali dia terlambat, dan pesan berdering berkali-kali untuk mengatakan, agar tidak mengunci pintu. Dia akan kembali. Nyaris Enggar tidak bisa tidur karena pesannya tidak akan berhenti. Jadi dia menunggu, sampai lewat 15 menit dirinya pulang. 

Ada yang mengantar, tapi tidak tampak. Tidak seperti pria serampangan biasa, tampilannya begitu rupawan. Bahkan kepalanya juga sama. Silau Enggar melihat. Tapi pria itu tidak turun dari roda empatnya yang memerah di malam hari, sekedar untuk membukakan pintu, lalu meminta maaf karena memulangkan wanita di tengah malam. Dia hanya menurunkannya saja, serupa membuangnya di pinggir jalan. Atau memungutnya untuk dikembalikan kemudian, dan ini waktu terakhir mereka bersama. apa cinta mereka berakhir? Lantas tiada hati untuk mengasihi lagi? Setidaknya, ada pelukan ringan? Rupanya tidak. Enggar bertanya-tanya, di belakang tirai kamar kosnya. 

“Sehebat apa dia?” Enggar mendengus.

Pria itu menilik di balik jendela mobil yang terbuka sebagian, lantas kilau itu tampak seperti telah diampelas berkali-kali. Uang mungkin yang membuatnya licin. Karena tidak terlihat bahwa kepalanya mulus lantaran dipenuhi dengan ilmu, hingga rambutnya rontok disaat terlalu berat menampung beban pengetahuannya. 

Iswar bahkan tidak menoleh. Dia membuka pintu mobilnya, berjalan sempoyongan saat membuka gerbang. Ternyata, dia tidak berubah. Penampilannya masih sama, tidak ada pula ada yang kisut setelah lepas tengah malam. Perkiraan Enggar keliru, tapi tidak sepenuhnya. Nyatanya, jiwanya memang tersedot.

Sejak hari itu, Iswar tidak lagi terlambat. Dia selalu pulang jam 12 malam. 

***


06 - 05 - 2009

Tapi Iswar tidak pulang lagi. 

Mungkin memang jam kerjanya sudah berubah. Sehingga tidak ada waktu mereka berpapasan. Berangkat Enggar terlalu pagi, dan pulangnya kini menjadi lebih siang. Lalu kembali pergi saat Enggar baru akan pulang. Ya, mungkin memang begitu. Jadi dibiarkannya pintu tidak terkunci, agar Iswar bisa langsung masuk tanpa perlu mengotak-atik gantungan kunci di tasnya.

Disisihkannya semua barang yang menghalangi jalan, agar tidak perlu dia tersandung saat jiwanya menjadi kering karena habis tersedot. Kadang orang-orang yang bekerja, hampir tidak punya jiwa. Begitulah pikir Enggar. Mereka pergi dengan riang, tapi pulang sudah tidak bernyawa. seakan sepanjang hari sedang menyembah berhala, memuja-muja orang dengan persembahan jiwa mereka sendiri, dan mendapatkan sesuatu yang diimpi-impikannya, yakni kehampaan. Menjadi sebuah cangkang kosong yang percaya akan ketenangan jiwa. Tapi katanya, berkat itu akan segera datang.

Iswar juga demikian. Dia selalu bilang, keberkahan itu datang belakangan, maka dia berusaha untuk selalu suci dan memasok jiwanya tiap kali akan menyembah berhala. Entah apa yang ia Tuhankan. Enggar tidak pernah bertanya. Dia hanya bertanya, “jam berapa kamu akan pulang?”

Lihat selengkapnya