Nama yang Hilang

Dina prayudha
Chapter #10

Bab 9

26 - 03 - 2023

Mereka berdiri, menunggu hening dari jalannya yang lalu lalangnya tidak terputus.

 “Kadang, mereka itu menyebalkan.”

Eldwin melirik, keheranan. Tidak mengerti gerutuan itu diarahkan kepada siapa. Pohon Ketapang yang ditebang ketinggian. Atau ilalang yang disangga karena kerendahan. Dia masih melirik, menunggu Enggar menjelaskan; tapi tidak tampak dia ingin begitu.

“Zebra Cross!” tangannya menunjuk. 

Sebuah aturan yang sama sekali tidak memiliki kekuatan apa pun, sebab kebiasaan jauh lebih membudidaya. Jelas sekali dia berdiri di jalur penyeberangan, untuk menuju tempat yang tidak jauh dari hotelnya, demi secangkir mochacihno dengan extrashoot. Sudah lama sejak dia berdiri, dan tidak ada satupun yang mempersilahkan diri untuk mendahulukannya. Bahkan orang yang di sampingnya kini tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk membuat dunia bergerak atas kemauannya. Padahal, dengan jabatan setinggi itu? Enggar mengangkat alisnya, dia keheranan. Sungguh kekuatan yang sia-sia.

Eldwin masih tidak mengerti. Dia sama kebingungan, dan mengangkat alis untuk mengikuti gerakan Enggar. 

“Jika kamu pikir jabatan saya bisa membuka jalan untuk menyeberang, percayalah, kamu sudah salah besar,” celetuknya. Eldwin menebak dengan tepat sasaran. 

“Lalu apa gunanya jabatan itu jika tidak bisa digunakan di saat genting begini. Sia-sia sekali.”

Bukan seperti itu caranya menggunakan kekuatan.

Eldwin menimpali, hanya di dalam hatinya saja. Dia tidak berniat menjelaskan atau menanggung argumen baru dari perempuan yang sedang kesal karena mochachinoextrashootnya harus menunggu lebih sabar. Teriakan tidak akan membuat jalanan terbuka, orang-orang hanya tidak memiliki simpati terhadap itu, karena dagingnya sudah bangun dengan pengabaian. Darahnya mengalir ketidak-pedulian yang dipompa langsung ke dalam jantung, sehingga hidupnya sendiri sama sekali tidak memiliki simpati untuk melihat orang lain, merelakan sedikit kebaikan bagi seseorang. Tapi tidak semua, karena pada akhirnya satu dari orang-orang berbeda itu akan ada.

***


06 - 05 - 2009

Kehilangan seseorang membuatnya gila. Teman, wanita dan orang gila yang menawarkan dirinya sendiri pada orang asing, rupanya sudah menjeratnya. Dia bukan orang baik, lagi pula mungkin tidak suci. Atau memang tidak lagi suci, maka pantaslah ia bersuci setiap saat. Agar ia meresa tenang. Agar dirinya diterima orang lain. Lantaran mensyarat hanya akan memancungnya jika mengetahui, betapa bejat dan busuknya dirinya.

Kendati demikian, pria itu, tidak peduli. Dia tidak memiliki apa pun, kecuali keinginan untuk melindungi dan meluruskan tulang bengkoknya. konon wanita, memang harus selalu diajari. Entah, bagaimana dia bisa tersesat ke dalam dunia yang begitu? Tiap kali Eldwin datang menemuinya, Iswar selalu dalam kondisi paling berantakan. Dia hancur, namun masih tetap berdiri. Mungkin selangkangannya sudah hancur, berdarah lantaran dikoyak berkali-kali. Tapi dia masih berdiri, sekalipun dengan kaki yang terseret.

“Kenapa tidak lari saja?” Eldwin mengajak. Seperti orang yang berniat kawin lari saja.

“Aku akan mati.” Jawabnya. “Mereka terlalu tinggi.”

Eldwin tidak mengerti. Siapa yang mereka? Dan Iswar sama sekali tidak ingin meneruskan. Dia hanya ikan dalam kolam kecil yang diobok-obok seseorang. Tapi siapa? Siapa yang terlalu tinggi? Siapa yang berkuasa atas Iswar? Eldwin ingin merebutnya. Lalu membawanya pergi, mencari matahari tenggelam.


Sampai hari di aman Iswar benar-benar tidak pulang. Eldwin mencari seperti orang kesurupan. Ia datangi tempat dimana dirinya sering terkapar, ditinggalkan tidak berdaya. Tapi beberapa waktu lalu, Iswar diantar dengan hormat, seakan dia di sayangi dan diberi kemudahan. Mungkin dia tengah menarik, perhatian orang lain yang tidak perlu. Sebab akhirnya, dia jadi tidak pulang. 

Mungkin dia disekap, lalu dinikmati sendiri oleh orang yang mengaku jatuh cinta. Cinta pada dirinya, pada tubuhnya dan seluruh kebebasannya. Dia mungkin begitu obsesi, sehingga takut kuman-kuman di luar penjaranya hanya akan mengotori miliknya, makanya, Iswar tidak pulang. Dia hanya sedang terpenjara, oleh cinta yang sangat besar. 

Apakah ini lebih baik? Eldwin bimbang, ketika tidak ada satu pun petunjuk keberadaan. Dari pada meracau, bahwa tubuhnya menggigil kedinginan di bawah got yang berisi tikus-tikus kotor, lalu membusuk tanpa pernah dikenali lagi, sementara bagi ria itu, Iswar selalu cantik. Meski tidak suci.

Lalu dia pergi, mendobrak tempat yang katanya ruang kerjanya. Dia di bayar entah dengan apa, tapi Iswar selalu tidak pernah kurang. Bahkan makannya bocah itu, kerap dibayari oleh wanita yang hidupnya saja serampangan. Katanya, pelajar harus selalu sehat, dan banyak makan. Bukan Eldwin yang meminta, tapi Iswar sendiri yang memberi. Baginya, Eldwin hanya anak kecil baik-hati yang sedang tersesat, jadi butuh diarahkan, sedikit saja oleh orang dewasa.

Edlwin masuk, lalu dihadapkan dengan asap yang pekat. Seperti ada ritual sesembahan, yang membakar dupa untuk memperingati kematian seseorang. Tapi sebenarnya, itu hanya asap rokok. Mereka bahkan tidak peduli jika ada yang benar-benar mati di sana, sebab mayat selalu bisa dibuang. Di kali yang dihanyuti air bandang, di hutan yang dipenuhi belatung, atau di gorong-gorong yang dipenuhi dengan kebusukan.

Wanita dengan payudara besar, menyapanya. Mengapa ada tikus kecil yang membuat keributan di ruang kerja itu. Padahal sama sekali tidak ada pekerja, mereka hanya tengah sakau dan meracau. Eldwin menyerbu sendiri, lalu pria-pria setengah sadar mengerumuninya. 

“Dimana Iswar?” teriaknya, tapi tidak ada jawaban. Mereka hanya melototi dengan pandangan yang sama sekali tidak jelas. Sangat kotor.

Siapa Iswar? Wanita itu bahkan tidak mengenali. Ada banyak wanita di sana, sedang menggelayut dan membuka selangkangan. Mereka sedang praktik, bagaimana cara menyenangkan. Bahkan tidak ada satu pun yang sedang sadar. Sebab matanya seperti mendelik. seperti baru saja dicungkil, lalu dipasang kembali.

Eldwin merasa mual. Apa yang ada diperutnya seperti akan keluar. Membayangkan bahwa Iswar bekerja di sana. Diperlakukan begitu hina. Pantas saja dia selalu mandi. Meski yang begini memang tidak dapat disucikan, bahkan setelah mati.

“Dimana Iswar?” apa sudah mati?

Tanyanya lagi, dengan lebih berteriak. Dia menyahut beling di lantai, tepat di kakinya. Pecahan botol. Mungkin bekas bensin,, yang dioplos dengan miras atau topi, yang tampah miring. Segalanya memang sedang miring sekarang. Eldwin saja sempoyongan, melawan wanita dengan payudara besar, dan pria-pria besar di belakangnya. Entah apa yang besar. Badan, nyali atau masa depannya. Segalanya samar. Benar-benar samar, seperti kebenaran itu sendiri.

“Dimana Iswar?” Apa dia benar-benar mati.

Teriaknya lagi, untuk ketiga kali. Dan selalu, kalimat kedua tidak pernah berhasil diteriakkan. Seakan dia sendiri sudah tahu jawabannya, sejak ia melihat pemandangan ini. Iswar memang sudah mati. Jejaknya dihapus. Dia sudah usai, karena perannya berakhir.

Lihat selengkapnya