26 - 03 - 2023
“Apa itu enak?” merujuk pada kopi yang dipegangnya.
Enggar tersenyum, lalu mengangguk. Tak sesuka itu pada yang masam bukan main, tapi juga tidak sebenci itu. Dia menerima orang yang menyukainya, dan tidak menyalahi apa pun. Sebab kesukaan itu tidak pernah merugikan orang lain. Selera mereka sekedar berbeda untuk bisa disatukan. “Apa kamu baik-baik saja?”
Eldwin bertanya. Enggar hanya mengangguk. Menyeruput minumannya lagi.
“Mungkin itu ulah si Nenek.”
“Kamu sudah berbuat apa, memang?”
“Melanggar Tabu, seperti jatuh cinta pada orang tidak boleh.”
Meski tidak ada cinta yang tidak boleh. Kadang, hanya orangnya yang tidak tepat di waktu yang lebih tidak tepat lagi.
“Bukankah tidak ada pantangan seperti itu? Hanya katanya, jangan bergentayangan di jam 2 dini hari.”
“Itu hanya waktu larangannya, karena kutukannya sedang aktif. Ada pantangan lain pak,” Enggar melanjutkan. “Dia kan gagal menikah, makanya dia mengutuk percintaan.”
Eldwin terpingkal, air matanya sampai menyembur keluar. Dia tidak menyangka ada yang begitu percaya dengan mitos tersebut. Atau sekedar dia hanya ingin mengalihkan topik, agar persoalan pelik tersebut tidak menjadi beban berat yang suram untuk dibicarakan.
“Apa saya telah bersinggungan dengan hal yang tidak seharusnya?” Enggar melanjutkan. “Sepertinya ada yang mereka cari dari saya. Sebab, saya selalu merasa ditatap.”
“Pernah kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Selain aib bahwa saya sangat suka mengenai urban legend,” Enggar memberi jeda, lalu melanjutkan dengan menggeleng.
Dia tidak menyembunyikan apapun di dalam ruangan kecilnya. Di sana hanya ada khayalan kecil, harapan yang mati, dosa tidak terlihat dan hasrat memiliki pria itu. Tapi yang terakhir, adalah hal yang paling tidak ingin dia ungkap.
“Tidak pernah sekalipun?” pria itu masih menyelidik.
Mata mereka saling memandang. Saling menemukan hal yang tidak terbaca di dalamnya. Apa yang sedang orang itu cari. Apa yang Enggar sembunyikan. Apa yang dimiliki wanita itu hingga ia diburu begitu hebatnya. Tapi yang terlihat, wanita ini hanya sedang menyembunyikan rasa terpikatnya pada Eldwin. Pada mata pria itu, sebab seperti matahari terbenam.
“Matahari terbenam,” celetuknya. Mengagumi.
***
06 - 05 - 2009
“Tidak perlu lagi mencarinya,” wanita itu memperingatkan. Bagaimana mereka bertemu lagi saat beberapa hari pria itu menghilang. Tampangnya menjadi lebih suram, dan Enggar prihatin. “Jangan mencari orang yang tidak ingin untuk dicari.”
“Dia hilang,”Eldwin menjawab. Matanya berlinang, nyaris kehilangan separuh jiwa, dibawa pergi oleh ketiadaan itu. “Dia menghilang!”
Enggar mengangguk.
Iswar memang hilang, dia pergi dengan cara yang paling nakal. Seperti bocah garang yang merajuk dengan lari karena apelnya digigit oleh si kakak. Dia menginginkan yang utuh tapi mendapatkan satu potong saja. Lalu mengerang di tepi gardu 10 meter dari rumahnya.
SayangnyaIswar pergi terlalu jauh karena kakinya lebih panjang. Dia bukan anak-anak sehingga bisa menemukan arah. Lagi pula selama ini, meski tertubruk jalan buntu pun, dia selalu bisa melompat untuk mencari jalan baru. Wanita itu tidak lemah. Dia punya cara.
“Dia hilang,”Eldwin kembali mengulang kalimatnya, seperti tidak ada yang bisa diucapkan lagi. Gelap sekali dunia yang sudah dilihatnya sekarang. Tidak ada keadilan, tidak ada pencerahan, tidak ada Iswar yang menerangi. Mungkin begini bentuknya, tatkala matahari yang terbenam itu, sudah lepas dari cahaya. Gelap.
“Aku tahu, jadi makanlah dulu,” pinta Enggar, menyodorkan nasi yang dibelinya di warteg. Dengan ayam bacem yang sangat hitam karena kecap. Yang kadang rasanya sangat tajam karena kebanyakan merica dan ketumbar. Kadang lainya begitu hambar, karena lupa menyebarkan garam. Tapi di tempat itu, Enggar selalu diberi lauk gratis. Sama besar dengan milik wanita yang lebih putih, yang lebih dulu mengantre. Atau wanita mungil dengan lesung pipit yang di belakangnya. Dia tidak pernah dibedakan dari warna, bentuk dan aromanya.
Eldwin memakan itu, dan merasa tidak pernah kenyang meski terus menyuap. Kapan terakhir kali dia makan? Apa dia sudah minum? Sejak terakhir kali ereksi, dia tidak bisa menelan lagi apa pun. Seperti jiwanya sudah dihisap. Nyawanya sirna. Tenaganya hilang. Dia ada di masa paling kotor. Rasanya dia telah benar-benar mengerti, mengapa Iswar di cuaca yang begitu dingin dan di hujan yang sangat deras, tubuhnya rela diguyur oleh air. Sarafnya mampu menahan sakitnya penyucian, namun tidak dapat menahan kotornya tubuh karena penghinaan.
“Katanya, aku masih bocah.”
Enggar mengangguk, mendengar setiap ocehan Eldwin yang dirajam putus asa. Dia ada di tahap penolakan, yang tidak mampu menerima kenyataan lantaran sudah kehilangan, sesuatu yang menjadikannya hidup selama ini.
“Katanya, aku tidak punya kuasa,”
Enggar mengangguk lagi, masih mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut pria itu tanpa benar-benar mengerti. Sebab mereka yang sedang kelaparan jauh lebih meracau dibanding ketika mereka kenyang. Diambilnya satu bungkus lagi nasi dari plastik. Meski sisa satu itu adalah bagiannya, tapi untuk pria malang yang kehilangan kekasihnya ini, Enggar tidak keberatan.
Iswar sudah mati. Enggar telah berfirasat, sebab tahu benar bahwa dia tidak akan menghilang. Wanita paling gila yang tetap berdiri dalam kesuciannya meski telah dicekoki dengan kebejatan, tidak akan menyerah dengan gampangnya. Dia sudah menahan sakitnya diiris. Dihantam dengan besi. Bahkan ditusuk berkali-kali. Ada hal yang dia tinggalkan. Sesuatu yang seharusnya tidak terungkap. Sesuatu yang membuatnya hilang karena terlalu memberontak.
Pria hanya menginginkan kepatuhan, lantaran itu Iswar sangat disukai. Sikapnya manis senyumannya asri, meski telah ditumbangkan. Dia bagai pohon lapuk yang berdiri dengan satu-satunya akar yang masih menancap, tapi bagi orang lain , dia hanya si jalang yang malang. Saat ditarik ke dalam tempat yang katanya mampu menghidupinya dengan bergelimang kekayaan, Iswar yang polos dan serakah akan kebebasannya segera di usia yang belia, setuju begitu saja.
Awalnya dia disuruh duduk, menggambar garis dan pola wajah. Sesekali membuatkan minum. Kadang mengeja abjad. Hanya dengan itu, wanita itu dipuji. Ruangannya sepi, tidak banyak orang. Dan anehnya, hanya ada wanita, tidak ada laki-laki kecuali dia yang duduk di ruangan terpisah. Secara bergiliran, wanita-wanita itu dipanggil. Iswar menjadi orang yang terakhir, karena prosesnya begitu lama. Dia tidak serta merta menerima apa yang dikerjakannya. Pertanyaannya begitu banyak, dan itu membosankan bagi yang mendengar. Mereka butuh orang yang patuh.
Saat orang pertama dipanggil, mereka tidak lagi datang dan orang baru segara menggantikan. Katanya, wanita itu telah dipromosikan. Dan mereka bergiliran demikian. Saat orang-orang yang dikenalnya telah diganti sepenuhnya, Iswar merasa tertinggal, jadi dia bersikap patuh. Maka pada hari itu, dia dipanggil. Bahagianya membuncah. Dia girang dan berjalan dengan melompat-lompat kaki. Kemudian, dia tidak kembali lagi dan seseorang yang baru menggantikannya.
Kini dia berada di ruang yang berbeda. Di tempat katanya hanya orang-orang khusus yang telah dipromosikan. Di tempat di mana wanita hampir tidak berbusana. Asap rokok mengepul beserta getir karena kerasnya minuman yang membuat gila seseorang.
“Tempat apa ini?” saat ia bertanya, dia tidak lagi ingat apa pun. Dan begitulah saat pertama kali dia tidak lagi perawan.
Esok hari, dia masih disuruh datang. Saat siang, dia disuruh untuk menggambar. Dan pada malamnya kembali ketempat yang membuatnya tidak perawan. Maka setiap malam, keperawanannya direnggut berkali-kali. Selaput daranya disobek setiap saat.