29 - 09 - 2015
Kasmir mendatangi Eldwin dengan ikan pollack yang digoreng setelah dilumuri tepung renyah. Ada sambal matah yang menjadi pendamping, dan khusus kali ini, tidak ada nasi atau lalapan timun sebab dirinya darah rendah. Pria ini dikeluarkan dari tahanan sebab tuduhannya telah dilenyapkan.
Saat Kasmir menemukan barang bukti, maka butuh sosok yang menjadi pusat perhatian. Lagi pula, sudah pernah pula dia dipenjara. Maka sekali lagi juga tidak masalah. Sebab sebentar ia akan di sana. Sebab dia punya orang yang akan selalu membebaskan pemberontakan ini.
Apa yang ingin dicapainya sudah selesai, dan apa yang ingin dihilangkan tetap tidak hilang.
“Kamu kalah bung,” ujar Kasmir. Sebuah deklarasi yang menyayat. Meski segalanya sudah terungkap, hanya teri-teri kecil yang tertangkap. Keluarga masih utuh dan tidak runtuh.
Dia mengangguk. Perjuangannya untuk berdiri di kandang yang sama dengan musuh ternyata membuatnya menjadi sama seperti musuh, dan itu membuat lubang yang besar. Tapi dia bebas, dan mayat yang ingin ditemukannya sudah ditemukan.
Kasmir menemukannya setelah mengais gorong-gorong. Ia bercakap dengan tikus-tikus dan belatung, bahkan mayat yang tidak diniatkan untuk dicari, diajaknya pula untuk berbicara. Dia seperti memiliki kekuatan untuk berdialog dengan apa yang telah mati dan dihilangkan oleh dunia.
Puncak dari piramida masih tidak bisa ditebang. Tapi cukup. Eldwin menyerah;asal Iswar ketemu.
Sebuah syarat yang sama yang dipinta oleh Enggar.
“Tapi, ada banyak orang yang bernasib sama dengannya!” Kasmir berteriak garang. Marah bukan main dia.
Sudah berkali-kali hidupnya menerima kebuntuan. Kegagalan dalam mencapai kebenaran datang bertubi-tubi. Tuhan kadang tidak begitu hadir saat ia mendapatkan kehancuran, namun kecintaan atasNya selalu membuatnya kembali ke jalan itu. Tapi, demi apa?
Kasmir tidak mengerti. Dia hanya perlu melakukannya.
***
Pada hari itu, berita di televisi menayangkan kabar penangkapan dan penemuan seperti sebuah pengulangan yang membosankan. 10 hari kemudian mereka hilang, seperti tidak pernah ada. Bahwa seorang wanita pernah hidup di dalam kematian, dan mati di dalam kehidupan di tanah yang tidak dijamahi. Dia sendirian, dimakan oleh belatung bersama anak yang tidak akan pernah lahir. Tapi siapa yang menguburnya?
Misteri. Saat reporter sejati yang merasa tergugah dengan kabar itu, ingin mengungkapnya sebagai bentuk kebenaran; maka tiba-tiba pula dia menghilang. Layarnya diturunkan, dan tirai yang menaikkannya ke atas panggung, mulai perlahanrubuh. Dia tidak mati dalam arti yang sebenarnya, melainkan mati di dalam kehidupan itu sendiri. Dia dipaksa untuk bungkam.
Kasmir memahami nasibnya ketika membisikan hasutan. Dia tahu benar, bahwa tumbal yang akan membawa kebenaran menuju sorotan cahaya, pasti akan segera digelapkan. Mereka tidak akan mendapatkan lampu.
Penyelidik yang datang untuk menyibak tabir itu pun juga menghilang. Garis kuning yang menjadi batas antara kebenaran dan kesalahan, menjadi putus. Seakan tidak pernah ada jalinan yang dapat mengungkapkannya.
Lantas garis start yang diperjuangkan oleh Iswar dengan hidupnya; hilang. Tapi, tidak dengan Kasmir.
Dia memulai kembali berkelana. Memulai kembali dari awal untuk mencari kebenaran yang disebutnya hakiki. Ia ingin mencari bagaimana Tuhan menuangkan hidayah di bumi dengan kejujuran, dan membongkar bagaimana manusia membelokkannya.
Ia kembali menjadi musafir dan menggelandang. Kadang tubuhnya bersimbah darah, dihajar mati-matian karena berhasil tertangkap. Tapi seolah hidupnya telah terberkati dengan nyawa yang berliku dan sulit untuk dihabisi, dia masih hidup membawakan ikan pollack yang digoreng untuk orang yang menggantikannya ditahanan. Sama tatkala Eldwin dulu pernah menggantikannya. Kendati hanya dijadikan bidak kecil di panggung bonekanya, mereka pun menyambut. Sebab hanya Kasmir seorang, yang mendengar suara kecil dari orang-orang tidak berdaya.
Sebelum dia pergi, tak pernah dirinya mengakui telah menemui Enggar di belakang Eldwin. Baginya, pertemuan pertama mereka adalah kerahasiaan, yang tidak boleh saling diungkap. Ia membawa apa yang ditinggalkan Iswar kepadanya, untuk menyelamatkan mereka dari derita yang tidak sepantasnya ditanggung oleh keduanya. Terutama laki-laki yang kehilangan itu.
Dia tahu apa arti sebuah daya, dan sama sekali dirinya tidak memiliki itu. Maka kata Kasmir yang menyuruhnya untuk pergi saja, hidup sebagaimana dia telah hidup, disetujuinya dengan begitu ringan. Ia mengangguk, lantas kembali bernapas seperti sedia kala ia menghirup udara yang sama. Hanya saja, ada lega setelah sekian lama ia mengalami sinusitis yang sedang tersumbat.
Eldwin pun demikian, ia menjalani hidupnya tanpa tahu pernah bersinggungan dengan Enggar. Bahkan tidak sekali pun tahu apa yang sudah ditinggalkan Iswar untuk menyelamatkannya. Wanita mati itu pastilah sudah menebak, bahwa sampai mati pria ini akan mencarinya, lalu mati bersamanya.
Tapi dia tidak merestui, dan meninggalkan warisan berupa pembebasan untuk pria yang menyerupai matahari terbenam di matanya; dari rasa bersalah karena gagal melindungi. Maka melalui warisan yang dengan takdir Tuhan, sampailah dia di tangan Kasmir ini; perlahan menuntunnya kepada jejak-jejak kecil yang selama ini, telah menghabiskan begitu banyak waktunya untuk mencari. Akhirnya, satu per satu potongan itu terjalin.
Ada tujuan yang jelas, ada cara yang nyata. Maka mengendap-endaplah dirinya di dalam keramaian, yang penuh dengan kesepian. Seperti bagaimana dirinya telah melanggar begitu banyak peringatan dan syarat untuk bersama, maka Kasmir memilih bertarung secara solo tersebut, akibat dari ulahnya sendiri. Dia tidak menyesal, sebab sejak awal memang niatnya untuk menyusun kitab sucinya sendiri.
Tiga tahun kemudian, Kasmir kembali memberi kabar dari penggelandangannya. Dia di tanah terbengkalai dimana asap mengepul hebat, dia bercerita di dalam suratnya, bahwa paru-parunya sakit dan merasa harus segera dibedah. Dia ceritakan juga ada lebih dari ribuan orang yang mengalami kesamaan, bahkan hewan-hewan liar juga mengembara dengan penyakit serupa. Konon, ada lagi yang bermain di tengah-tengah udara yang tidak baik itu. Dan setalah itu, pria ini tidak lagi memberi kabar, seperti orang hidup di dalam kematian, dan orang yang mati di dalam kehidupan.
***
26 - 03 - 2023
“Enggar, aku harap tidak ada yang kamu sembunyikan,” Eldwin berucap. “Selama ini, kamu sudah hidup seperti dalam persembunyian. Sial sekali bahwa sekarang kamu ditemukan.”
Enggar menggeleng. Dia tidak menyembunyikan apa-apa sama sekali. Tidak lagi. Karena Kasmir telah membawanya.
“Saya sudah mengatakan yang sebenarnya.”
“Tidak ada yang mempercayai itu.”
“Mereka tidak menemukannya kan?” Enggar menyahut. “Kecuali jika mereka nekat membedah saya.”
Eldwin merasa prihatin. Dia tahu, wanita didepannya tampak lembut dan penurut, tapi lebih keras kepala. Sama seperti dahulu, ketika dirinya menghilang setelah memberinya makan. Tidak ada kabar apa pun yang terdengar. Bahkan sekolahnya berhenti, hidupnya berhenti. Jejaknya dihapus. Ia telah yakin, bahwa wanita ini akan menjadi salah satu orang yang perlu untuk ditemukan mayatnya. Meski berkali-kali pula dia memohon di dalam hati, agar Tuhan tidak begitu kejam pada umat yang tidak sengaja tergiring dalam pacuan.
Wanita itu masih hidup
Ucapnya dalam hati, dengan setetes air yang merembes dari mata, saat melihat wanita yang nelangsa di tengah-tengah pelantaran pada hari pertamanya datang.Burung-burung yang tertangkap itu pun, menyambut dengan begitu riang, meski tahu benar bahwa Enggar tidak akan menyukai itu. Sebablah dia mengatakan, bahwa kelak akan dibebaskan. Meski itu terdengar lebih memuakan.
“Mereka mungkin akan melakukannya,” terang Eldwin. Mengakui kemungkinan adanya pembedahan. Manusia bisa menjadi lebih keji dibanding yang bisa dibayangkan oleh sesamanya. Bahan tidak sekali dua kali, manakala manusia ditemukan memakan daging saudaranya sendiri.
“Pemilik map itu?” Enggar bertanya. Sebenarnya apa isinya?
Tapi Eldwin tidak pernah ingin menjelaskan. Jika Kasmir ada di sini, Enggar akan bertanya. Sayang, dia tidak lagi ada, dan katanya pula untuk tetap melanjutkan hidup sebagaimana dia hidup sebelumnya. Dan Enggar selama ini hidup dengan tidak terlihat. Sibuk dalam dunianya sendiri. Berkutat dengan hari-hari yang melelahkan.
“Apa yang sebenarnya sedang menghampiriku?”
Eldwin menggeleng, lalu memegang pundak Enggar dan mengatakan.
“Jangan lakukan apapun. Aku akan melakukan sesuatu,” ucapnya dengan mata yang berbinar-binar ngeri. Seperti tengah merencanakan pembantaian.
Enggar semakin tidak memahaminya. Bocah yang dulu menangis setelah diberi makan menjadi dewasa dan berusaha memakan orang lain. Hidup macam apa yang sudah dijalaninya?
“Barang itu sudah tidak ada lagi padaku,” Enggar mengungkap, jika pada akhirnya hal itu akan meringankan beban pria yang ada di depannya.
“Apa itu?”
“Sesuatu yang Iswar tinggalkan untuk membuatmu menemukannya.”
“Lalu di mana sekarang?”
“Seseorang bernama Kasmir membawanya,” jelas Enggar. “Katanya, demi dirimu.”
***
27 - 03 - 2023
Kasmir membawanya. Dia membawa segalanya dan menghilang. Mungkin mati sudah, sebab dia itu penjarah. Yang datang untuk menjajah manusia bumi. Mungkin sudah balik ke luar angkasa, karena datangnya dari sana. Jika bukan, mana mungkin dia segila itu? Mengulik setiap kebenaran yang bisa dia temukan. Mencari bara api yang membakar lahan. Mencari celah hidup yang menjual organ. Seperti kelelawar yang giras ketika malam, waktu paling mujarab untuk menyimpan rahasia.
Dia tidak menginginkan kekayaan, atau mungkin memang sudah. Di belakang gaya serampangannya, dia sudah berkemewahan. Makan dengan layak, tidur dengan nikmat. Tapi suatu ketika, dia bosan, sehingga mencari mara bahaya untuk ditaklukkan. Kenapa tidak memanjat gunung saja? Mahameru bisa jadi tempat yang tepat. Tapi, sudah katanya.
Kasmir pernah bercerita, ia menghabiskan masa kecilnya untuk memanjat, baik gunung, atau tebing, bahkan pohon juga. Dia juga memanjat kacang-kacangan, tempat dimana ButoIjomenanam benih manusia, lalu memberikannya pada nenek tua yang kesepian. Namun tampaknya masih tidak menantang. Kecuali jika dia mencari kematian yang sebenarnya.
Sebuah email dikirimkan. Tapi tidak ada jawaban. Eldwin terus mencari tahu apa yang sudah ditinggalkan Iswar. Apa map itu petunjuk? Pikirinya. Lantas dengan khidmat itu, dia berburu. seperti serigala yang hilang akal karena kelaparan. Sebab kali ini, ada lagi yang harus dilindungi. Entah Enggar, atau Hayi. Atau bunga-bunga lain yang tinggal di sana.
Kasmir tidak menjawab. Balasannya berhenti ketika dia mengulik kebakaran di Kalimatan pada tahun 2018. Kebetulan, di tempat itu pula Iswar ditemukan pada tahun 2015. Butuh 6 tahun sampai dia bisa kembali pulang.
Dia memberi kabar, bahwa ada belulang yang di tanam dalam hutan. Dijilat oleh anjing yang separuh kakinya terbakar. Api memang menyibak setiap kegelapan yang disembunyikan. Menguak tanah yang membelenggu kekejian. Namun juga membakar apa yang mengisi buminya. Mereka yang hidup. Mereka yang mati. Semua terjilat oleh lidah yang meremukkan kesempurnaan.
Tulang dikirimkan ke forensik selang beberapa minggu kemudian ke Surabaya. Entah bagaimana Iswar sampai ke Kalimantan, ketika beranjak jauh meninggalkan rumahnya saja begitu enggan. Dia tidak berpamitan. Mungkin arwahnya juga berkelana, mencari kesenangan di tempat yang nyaman. Namun tanah itu menjadi luluh lantah. Seolah dikutuk oleh darah yang pendendam. Lantas kejadian itu terus berulang, seperti sedang menggiring seseorang untuk terus membuntuti.
Kasmir tidak mengatakan apapun bagaimana dia menemukannya. Hanya ada sebuah petunjuk yang menggiringnya ke sana. Surat-surat yang bersandi, dan jejak foto yang sudah berjamur. Silih berganti dipertontonkan untuk membebaskan Eldwin dari rasa bersalahnya. Semua ini dimulai karena bocah tersebut mengulik hal yang diluar kekuatannya.
Ada tangan-tangan kerdil yang mencuri, dan memotongnya. Seharusnya dia punya tangan yang lebih panjang, setidaknya agar tidak tertangkap.
“Bodoh benar, kau!” Kasmir berteriak. “Untuk melawan orang picik, kau juga harus demikian.”
Kejujuran tidak memenangkan apapun. Maka Kasmir menyuruhnya untuk berhenti, dan pria itu mengangguk. Dia masih tidak memahami bagaimana cara manusia-manusia hidup. Beberapa ada yang bodoh, sebab tidak dibubuhi dengan ilmu. Dan sebagian ada yang sangat berilmu, namun menggunakannya untuk membodohi yang lain.
Eldwin sepertinya tidak bisa yang kedua, tapi dia memang pintar. Apa yang dikumpulkannya sudah cukup untuk membuat Kasmir menguak kebenaran. Maka dia memanfaatkan Jagad maya untuk menggiring perselisihan. Melalui rumor, dan segala yang licik.
Map coklat yang ditinggalkan Iswar juga telah sampai pada Kasmir. Dia pergunakan juga untuk mengalahkan. Kini mereka bertempur, melalui ujung mata pedang yang Kasmir tebaskan. Hanya saja, tidak ada satupun yang mengerti bagaimana pertarungan itu di mulai. Tiba-tiba saja, ada kabar penggerebekan tempat prostitusi di daerah yang terpelosok, meski di tengah kota. Di sudut-sudut kegelapan yang disembunyikan oleh bangunan tinggi. Kejahatan lahir di daerah yang kumuh, di mana moralitas hilang dari mata mereka.
Di tengah-tengah yang digiring, ada yang begitu akrab untuk dilihat. Seorang pentolan besar yang berjabatan tinggi. Sosok yang menjadi sekretaris dari orang yang diburu oleh Eldwin. Pria itu terjebak, di kerumunan rubah betina yang asyik menjilati tititnya – yangseparuh berdiri. Sudah gagap pipit kecil itu sebab usia, mungkin kisut juga. Tapi masih gila sekali dengan betina. Ingin menjamahi disaat sudah tidak sanggup.
Ada yang lain pula selain dia, beberapa kawan lama dan kawan baru, tentu saja manusia yang sudah lama diburu oleh Eldwin. Mereka bertanggung jawab terhadap kematian dan kegagalan sistem. Kadang arus yang liar juga. Namun, hanya sebentar. Semua suara itu hilang saat orang melupakannya. Tapi itu cukup, setidaknya untuk pembukaan.