Bab 12. Epilog
02 - 04 - 2023
Kedatangan itu dimulai dari keengganan, dan pulangnya pun demikian peliknya. Rantai besi yang terikat di taman tempat mereka menerbangkan burung, masih basah dengan embun. Seseorang berdiri di sana, memandang Murai yang semakin kicau bersama kawanannya.
“Mungkin dia telah berkawan juga,” mengingat kembali hewan kecil malang yang pernah tidak tahu caranya terbang. Namun dia tidak lagi hinggap ketika tahu untuk kali pertama, bagaimana udara menerpanya, bagaimana dia mengenal kebebasan yang dulu juga pernah dia rasakan.
Enggar begitu mirip dengannya kini, mendambakan kebebasan setelah berhasil terperangkap. Seharusnya dia tidak menatap kembali mata yang dilemparkan kepadanya, jika bertahap dengan perasaan yang bergejolak setelah itu saja, dirinya tidak bisa.
“Pria itu telah tumbuh.”
Tentu, sudah lebih dari belasan tahun, ada banyak masa yang membesarkannya, menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi dikenali. Waktunya dulu pun tidak selama itu, hanya beberapa minggu untuk mencari wanita lain di antara mereka.
“Sejak dulu pun, aku selalu di tengah-tengahnya,” Enggar mengungkap. Merasa bergidik sendiri mengilhami nasibnya.
Setelah ini, tidak ada lagi masa yang akan mengaitkan keduanya, kecuali jika salah satu hendak menantang itu.Lupakan saja. Sebab tidak semua hal harus dikenang.
Enggar pergi, jejak kesenangan itu meninggalkan pilu di hatinya.
***
03 - 01 - 2024
Hujan lebat datang, mengguyur beberapa tanah dengan kelebihan, kadang datangnya menitipkan sedikit kehancuran, termasuk juga korban jiwa. Kabar-kabar itu bermunculan di televisi, bersandingkan dengan kabar lain yang sama gentingnya. Mau urutan pertama atau kedua, beberapa kabar tersebut terus diulang selama beberapa hari. Bencana itu salah satunya, yang sudah membuat muak untuk didengarkan, namun prihatin juga. Bumi selalu ada di masa yang menuju kehancuran.