Disclaimer: Nama tokoh dan tempat dalam cerita ini adalah fiksi semata. Bila ada kemiripan dengan cerita lain, hal itu adalah murni ketidaksengajaan. Tidak ada niat dari penulis untuk menjiplak karya siapapun.
Cerita ini bukan buatan AI.
Kutukan Keluarga Kamiyama bukan sebuah rahasia lagi bagi warga wilayah Kamigyo-ku. Kisah mereka menyebar layaknya menanti kuncup bunga sakura mekar, mendebarkan hati di penghujung musim dingin.
Karena setiap pergantian musim, akan ada berita baru yang dibawa bersama angin. Seringkali, berita yang muncul dari keluarga terkutuk itu dapat memanaskan meja pertemuan di bar-bar dan rumah-rumah. Di antara gelas-gelas bir, sake, dan kudapan kering. Di teras rumah para ibu yang menyapu halaman saat matahari terbit.
Kali ini, tentang pembantu muda baru yang akan mulai bekerja untuk Keluarga Kamiyama, sebagai pengganti si Tome.
Kabarnya, Tome telah kabur dari rumah. Tanpa jejak, tanpa catatan. Di pagi hari, Nyonya Hisako selaku kepala pelayan, menemukan kamar Tome telah kosong. Yang tersisa hanya kasur di lantai, bahkan tak sempat dilipat masuk ke lemari.
“Sungguh memalukan. Jika memang sudah tidak mau bekerja untuk Keluarga Kamiyama, mintalah yang sopan. Tuan kami bukanlah pria bengis yang akan menggorok lehermu hanya karena kamu mau berhenti kerja. Kamu jangan meniru tingkah seperti itu, ya, Chie,” keluhnya di antara riuhnya suara mesin kereta api.
“I, iya, Nyonya–” sahut gadis remaja di samping Nyonya Hisako.
Tubuh Chie yang mungil, hanya setinggi bahu si kepala pelayan, menyeret koper dengan dua tangan. Ia kepayahan mengejar kecepatan jalan Nyonya Hisako, sementara sisi koper beradu dengan lututnya setiap kali ia melangkah.
Di ujung pintu stasiun kereta, Nyonya Hisako berhenti mendadak. Chie yang tak sempat melambat, menabrak punggungnya. Tubuh Nyonya Hisako bergoyang, tapi tetap tegap. Gadis remaja itu masih mengatur napas, tapi Nyonya Hisako tak peduli. Ia berbalik, menarik lengan Chie, lalu menyeretnya ke satu sisi dinding.
Mereka berdiri dekat papan pengumuman yang ditempeli oleh poster-poster sisa masa peperangan. Beberapa di antaranya telah robek. Yang masih utuh, Chie dapat membaca beberapa seruannya:
‘ANAK MUDA! WAKTUNYA TERJUN KE MEDAN PERANG DI LANGIT DAN LAUTAN! PENDAFTARAN SUKARELAWAN TELAH DIBUKA!’
‘BAWA PULANG CERITA ARUS KUROSHIO SEBAGAI OLEH-OLEH KELUARGA!’
‘ANGKAT CANGKULMU SEPERTI TENTARA. BELA NEGARA DARI LADANG!’
“Chie, dengarkan aku,” panggil Nyonya Hisako, mengalihkan pandangan si gadis mungil dari poster-poster propaganda.
“Sebelum lupa, aku harus memberitahumu sesuatu. Dalam perjalanan ke rumah Keluarga Kamiyama, ingatlah satu hal: Jangan. Angkat. Kepalamu,” Nyonya Hisako menekankan tiga kata terakhir.
Chie tak bertanya kenapa. Maklum, ia kurang cerdas. Ia hanya mengangguk, seperti anak anjing yang patuh. Lebih mudah baginya untuk menurut, daripada mempertanyakan alasan.
Sama seperti setiap kali ibunya menyuruh Chie untuk mencuci pakaian sebelum berangkat sekolah. Jika ia berani membantah, satu pukulan akan mendarat di betis. Karenanya Chie harus rela berangkat ke sekolah dengan pakaian basah, dari paha hingga ujung kaki.
“Apapun yang terjadi, jangan bertukar pandang dengan siapapun. Jangan mendengar apapun. Jangan menyapa siapapun. Sampai di teras rumah Keluarga Kamiyama, kamu harus diam seperti batu. Paham?” Nyonya Hisako mengingatkan, sambil mengacungkan jarinya di depan hidung Chie.