Pagi di pesantren selalu dimulai dengan suara ayam berkokok, lantunan doa, dan aroma kayu yang terbakar di dapur pondok. Matahari baru saja menampakkan wajahnya di ufuk timur, sementara embun masih enggan pergi dari daun-daun pisang di halaman belakang.
Di kamar kecilnya yang menghadap taman, Alyaa duduk di meja kayu tua yang mulai pudar warnanya. Di atasnya, terbuka buku catatan dengan halaman kosong yang menunggu diisi. Di sampingnya ada cangkir berisi teh hangat dan sebatang pena hitam yang ujungnya mulai aus.
Hari ini ia ingin menulis sesuatu yang berbeda. Bukan catatan refleksi, bukan pula puisi untuk tugas sekolah. Ia ingin menulis surat—surat yang tidak tahu kepada siapa harus dikirim.
Ia menarik napas pelan, menatap jendela yang dipenuhi cahaya lembut. Dari luar, terdengar suara santri kecil mengaji di bawah bimbingan ustadzahnya.
Ia mulai menulis, pelan, namun pasti.
“Untuk seseorang yang tidak kukenal,
yang mungkin takkan pernah membaca surat ini.
Aku tidak tahu siapa kamu,
tapi aku tahu, Tuhan sedang menyiapkan pertemuan yang indah
antara dua hati yang sama-sama belajar percaya.”
Tinta mengalir seperti air sungai yang jernih. Ia menulis tanpa jeda, seolah semua perasaan yang selama ini ia tahan, menemukan jalan keluar lewat kalimat.
“Kadang aku ingin bicara, tapi lidahku kelu.
Kadang aku ingin berlari, tapi kakiku tertambat oleh doa.
Maka biarlah aku menulis, karena di antara huruf-huruf ini,
aku bisa menyampaikan hal yang tak sanggup kukatakan.”
Alyaa berhenti sejenak. Di luar, suara adzan dhuha mulai terdengar dari menara masjid pesantren. Suaranya lembut, menembus jendela dan masuk ke dadanya. Ia memejamkan mata, membiarkan kalimat terakhir muncul dengan sendirinya.
“Jika engkau membaca ini suatu hari nanti,
ketahuilah… aku tidak sedang mencari, aku hanya menunggu.
Sebab yang ditulis oleh Allah, tak akan meleset walau sehelai doa.”
Ia menutup bukunya perlahan, menatap halaman terakhir yang basah oleh titik air kecil, entah embun yang menetes, atau matanya yang tiba-tiba hangat.
Surat itu ia simpan di antara halaman tengah buku catatan tuanya, tanpa nama, tanpa tanda tangan.
Namun malamnya, entah karena dorongan hati yang sulit dijelaskan, ia membuka laptop tuanya dan mengetik ulang surat itu.
Ia membuka laman media sosial yang ia gunakan dengan nama pena “Langit dan Bait.”
Akun itu sudah ia miliki sejak setahun lalu, tempat ia menulis refleksi, puisi, dan surat-surat kecil tentang kehidupan di pesantren. Tidak banyak pengikutnya, hanya beberapa ratus santri dan alumni yang mengenal gayanya. Tapi bagi Alyaa, itu cukup.
Tanpa berpikir panjang, ia menyalin seluruh isi surat ke kolom postingan, memberi judul sederhana:
“Surat yang Tak Pernah Sampai.”
Lalu menekan tombol unggah.