Blurb
Katanya, aku beruntung.
Karena masih punya rumah dan Mama juga Papa. Meskipun sekarang mereka tinggal di rumah yang berbeda.
Sejak kecil, aku dan Arga sudah terbiasa hidup berpindah-pindah, membawa koper dari satu rumah ke rumah lain, seolah begitu cara keluarga kami tetap utuh.
Kadang aku sering bingung, saat kebanyakan orang bilang 'enaknya jadi kamu serba cukup'.
Mungkin cukup bagi mereka adalah memiliki segalanya. Tapi rasanya aneh, seolah sejak kapan kata 'cukup' itu terdengar menyakitkan?
Tenang, sudah terbiasa kok :)