"Mas Arga?"
"Mas?"
Mas Arga menoleh dengan sangat malas ke arahku yang berdiri di belakangnya sambil memegang kalender. Dia melepas sebelah earphonenya, "Apa?"
Suasana di rumah Ibu lebih sepi dibandingkan dengan rumah Papa. Aku bahkan perlu berjinjit untuk berlari masuk ke kamar Mas Arga biar tidak terdengar berisik ke lantai bawah. "Besok jadwal Mas Arga ikut Scrabble."
Dia mengangguk pelan, "Udah bilang sama Ibu kok. Katanya sekalian mau nganter kita ke rumah Ayah. Udah di beresin barang kamu?"
"Capek ga sih?"
"Capek. Tapi kan udah biasa." Mas Arga tidak pernah mengeluh dengan kondisi kami saat ini. Dia hanya menjalaninya dengan senyum, santai, selesai. Tapi dari raut itu aku tahu betul apa yang dirasakannya setiap aku mengeluh.
Mas Arga hanya ingin berperan sebagai kakak dan kembaran yang baik untukku. Dan aku yakin hal itu.
"Mas?"
"Kamu beres-beres baju sana buat ke rumah Papa."
Aku dari dulu tidak pernah menolak perintah dari Mas Arga, tapi malam ini aku menggenggam erat tangannya, "Mas, sampe kapan pindah ke sana ke sini sih? Aku capek."
Air mataku jatuh dengan bahu yang bergetar hebat. Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini semua rasanya sangat menyakitkan. Rasanya badanku benar-benar lelah entah karena pikiran atau apapun aku tidak tahu. Yang ingin kulakukan hanyalah menangis dan meluapkan emosiku ke Mas Arga.
"Ra," ucap Mas Arga sambil menghapus air mataku yang tumpah ruah. Dapat aku lihat bagaimana mata Mas Arga yang juga memerah menatapku iba, "Mas tahu capek. Tapi harus tetep kita jalanin kan?"
Suara tangisku semakin pecah terlebih ketika Mas Arga membawaku ke pelukannya. Selama sembilan tahun terakhir kami menjalani semua ini seolah sudah menjadi rutinitas. Namun entah mengapa, malam ini rasanya jauh lebih berat daripada biasanya..
Tangan Mas Arga masih dengan mengusap punggunggku agar lebih tenang, aku tidak pernah berpikir jika semua akan terasa sangat berat. Mataku menatap koper biru milik Mas Arga yang sudah terpacking rapi dengan tulisan 'Tujuan ke Rumah Papa'.
"Mas, kalau kita udah kuliah harus tetep kayak gini? Pindah-pindah rumah?"