Namanya... Cukup

Hai ini Litterane
Chapter #2

Sudah Terbiasa Katanya

Mataku menyipit saat merasakan sinar mentari menyapa dengan tajam. Apalagi ketika suara gorden yang terpaksa dibuka memekik di telinga. Bukan sapuan lembut yang kuterima di dahi melainkan cubit halus di pipi yang membuatku sadar bahwa ini adalah Mas Arga bukan Ibu.

"Apa Mas?" gumamku lesu.

Energiku benar-benar habis setelah menangis semalaman. Bahkan koperku saja mungkin belum terisi semuanya dengan barang yang harus kubawa ke rumah Ayah.

"Bangun Ra!" Perintah Mas Arga sambil menarik-narik lenganku. Memang hari ini jadwal dia ke perlombaan scrabble yang dilaksanakan di SMA Bintang Bangsa.

"Mas, kata Ibu aku di rumah dulu aja. Besok baru ke rumah Ayah." Aku berusaha mengatakan dengan nada yang lembut agar tidak dijahili oleh Mas Arga.

"Gak. Harus ke rumah Ayah," ujar Mas Arga sambil berusaha membuat kelopak mataku terbuka, "Ra, jangan tinggalin aku sendiri di rumah Ayah. Ga mau."

Aku menarik selimutku semakin tinggi menutupi wajah, "Ya udah kalau gitu di rumah Ibu dulu aja sehari, besok baru ke rumah Ayah."

"Ya udah, aku bilang ke Ayah kamu sakit ya?"

"Jangan Mas!" pekikku dan langsung duduk menatap kesal Mas Arga, "Aku ga mau nanti Ayah datang ke sini terus ribut sama Ibu bilang kalau Ibu ga ngurusin kita. Capek ga sih Mas kalau gitu terus?"

Mas Arga mengangguk, "Terus bilang gimana ke Ayah kalau kita telat sehari?"

"Bilang aja kalau-"

"Inget juga Ayah mudah banget tahu kita bohong." Mas Arga menatapku sambil tersenyum pasrah, "Udahlah Ra, kita ikutin aja perintah mereka. Lebih baik gitu kan? Dari pada ngeliat mereka berantem di depan kita?"

Aku menunduk, tidak bisa mengatakan apapun lagi. Benar kata Mas Arga. Jika aku menyampaikan kejadian sebenarnya maka masalah akan semakin runyam. Aku tidak bisa membayangkan kalau Ayah datang ke rumah Ibu hanya untuk berdebat karena aku sakit.

Napasku keberhembus berat. Benar kata Mas Arga, setidaknya untuk meminimalisir perdebatan Ayah dan Ibu yang membuat kami semakin pusing, kami hanya perlu melakukan satu hal: tidak memulai perdebatan itu sendiri.

***

Minggu.

Harusnya menjadi hari libur bagi semua orang, tapi tidak dengan aku dan Mas Arga yang disibukkan memasukkan koper untuk pergi ke rumah Ayah.

Setelah dua jam Mas Arga membujuk Ibu untuk mengizinkan aku ikut ke rumah Ayah akhirnya aku bisa ikut. Kini aku duduk di dalam mobil dengan senyum sendu.

Lihat selengkapnya