Namanya... Cukup

Hai ini Litterane
Chapter #3

Rumah Ayah

"Ibu ngomong kamu sakit, Ra?"

Pertanyaan pertama yang aku terima begitu masuk ke rumah Ayah. Aku menoleh ke Mas Arga yang mengkode agar aku bisa menjawab Ayah dengan nada dan bahasa yang sopan.

"Cuma sakit perut Yah." Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan lagi, mungkin Mas Arga lebih dekat dengan Ayah dari pada diriku, "Ara ke kamar dulu."

Aku tidak mau terlihat begitu pembangkang di depan Ayah. Tidak mungkin aku harus berbicara dengan nada yang begitu ketus atau menunjukkan raut wajah yang sinis.

Dengan sedikit menunduk dan menggeret koper aku melangkah ke arah kamarku. Tepat di depan pintu kamar, suara Ayah kembali menghentikanku.

"Sudah minum obat, Nak?"

Mas Arga berjalan ke arahku dan dengan sengaja menabrak koperku sambil berbisik, "Jawab Ayah."

Aku menoleh ke Ayah yang masih berdiri di ruang tengah dengan wajah yang terlihat khawatir, entahlah aku tidak tahu itu khawatir atau hanya basa-basi. "Sudah Yah."

"Kalau masih sakit, bilang sama Ayah biar kita ke rumah sakit."

"Enggak perlu Yah, paling cuma diare. Minum obat bentaran sama istirahat sedikit aman tuh." Nadaku harusnya biasa saja, tapi entah kenapa raut wajah Mas Arga benar-benar menunjukkan amarah yang luar biasa.

Aneh.

Rasanya tiba-tiba dadaku sesak, membuncah seolah ingin menangis. Tanganku dengan cepat meraih gagang pintu dan membukanya, melangkah masuk ke kamar tanpa menoleh ke Mas Arga maupun Ayah.

Begitu pintu tertutup, tangisku pecah.

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku saat ini, rasanya lelah sekali padahal selama satu harian ini yang aku tahu hanyalah menahan rasa sakit di perutku. Tapi kenapa sampai merambat ke perasaanku?

***

"Ra?"

"Ara?"

Aku dapat merasakan sapuan kain lembut di atas dahiku, mataku terbuka perlahan. Ada Ayah dan juga Mas Arga di sana. Mereka duduk berdua duduk di kasur dengan pandangan khawatir.

"Kenapa nih?" Jujur saja aku bingung. Dengan cepat aku langsung duduk di kasur seolah semuanya baik-baik saja, tidak lama sebuah kompres jatuh dari dahiku.

"Badan kamu panas banget, tadi Ayah udah panggil Dokter Erik kebetulan dia libur, jadi periksa orang di sekitar kompleks," jawab Ayah masih dengan memeriksa suhu badanku.

"Aman kok Yah, cuma capek aja ini."

Lihat selengkapnya