NAMANYA FANDI SATRIA AJI (inspired by a true story)

Sarjana MIPA
Chapter #3

Chapter 3. DOPPELGANGER

Ani bangkit dari duduknya. Semenjak tiba di sekolah, ia sudah duduk di bangku kayu panjang samping perpustakaan sambil membaca beberapa cerita di buku paket Bahasa Indonesia. Ada satu cerita di buku paket itu yang sangat berkesan baginya dan ia sudah membacanya berulangkali. Ia sengaja mengulang-ulangnya, menyerap setiap kata dalam cerita itu. Ceritanya tentang seorang ibu yang berperan ganda, sebagai ibu dan juga buruh pabrik. Cerita itu menggambarkan bagaimana sibuknya tokoh ibu di pagi hari yang bersiap untuk berangkat kerja sekaligus mempersiapkan anak-anaknya yang akan berangkat sekolah. Ibu itu mandi sebelum anggota keluarga lainnya bangun, kemudian memasak sarapan pagi. Setelah anak-anaknya bangun, ia memandikan mereka, memakaikan seragam sekolah, menyuapi anak-anaknya sambil bersiap memakai seragam kerja dan berdandan. Setelah semuanya beres, ia akan mengantar anak-anaknya ke sekolah, baru terakhir pergi ke halte menunggu bus yang akan membawanya menuju tempat ia bekerja. Dan pulang dari pabrik setelah pukul lima sore. Begitu terus berulang setiap harinya.

Kisah itu sangat menginspirasi Ani. Menginspirasinya untuk tidak memiliki masa depan suram. Ani sering bertanya-tanya dalam hatinya, apakah cerita itu adalah kisah nyata atau hanya karangan saja? Kalau benar memang kisah nyata, Ani menganggap kehidupan tokoh ibu itu sangat membosankan. Ani juga heran, mengapa sang suami dari ibu tak diceritakan, apakah mereka masih hidup bersama, apa pekerjaan suami dari tokoh ibu, mengapa tokoh ibu bekerja padahal punya suami, atau apakah karena gaji sang suami tidak mencukupi maka tokoh ibu jadi ikut bekerja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali ia membaca ulang cerita itu. "Kalo gaji suaminya gak mencukupi, kenapa si ibu dulu mau nikah sama lakinya? Trus kalo emang masih tinggal sama suami, kenapa suaminya gak bagi tugas ngurusin anak-anak mereka? Ntah nganter anak sekolah gitu? Kenapa semuanya dikerjain si ibu sendiri? Menderita banget hidup si ibu? Ah, susah yak jadi perempuan." Batinnya. Lidahnya berdecak. Ia tak ingin bertemu dengan nasib seperti itu di masa depannya.

Perutnya berbunyi, sebenarnya ia sudah lapar. Tapi ia tak pernah mengerti bahwa bunyi itu adalah tanda ia lapar, sebab ia sudah terbiasa menahan rasa lapar sejak kecil. Tadi pagi ketika waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh, sebelum berangkat ke sekolah, ia sudah belanja bahan yang akan dimasak oleh ibunya. Sebenarnya begitu setiap harinya, kalau ia sedang tidak bertengkar dengan ibunya. Namun, sampai waktu menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, di mana matahari sudah tinggi dan udara panas sangat menyengat, dan ia sudah siap untuk berangkat menuju pool angkot yang akan mengantarnya menuju sekolah, masakan ibunya belum juga terhidang. Belum ada satu menu pun yang siap disantap. Padahal masakannya hanya dua menu, satu menu ikan dan satu menu sayur. Jadi ia tak pernah makan di rumah sebelum berangkat ke sekolah. Hari-hari sebelumnya ia tahan saja menahan rasa lapar itu, namun kali ini tidak.

Lihat selengkapnya